Sunday, December 25, 2016

Setia Dalam Iman



   Islam sesungguhnya memiliki banyak kaum wanita yang patut dijadikan teladan. Wanita - wanita ini merupakan tokoh-tokoh yang menorehkan sejarah tanpa sedikit pun meninggalkan kodrat mereka sebagai wanita. Bahkan mereka berhasil meraih kemuliaan lantaran kesetiaan mereka berpegang pada kaidah-kaidah syariat.
    Satu di antara sekian banyak wanita yang patut dicontoh kaum muslimah adalah Zainab. Ia adalah putri pertama Rasul SAW bersama istri beliau, Khatidjah binti Khuwailid. Zainab lahir sebelum ayahnya diangkat menjadi Nabi. Tumbuh dalam keluarga nabawiy menjadikan dirinya wanita berbudi pekerti luhur. Ia bercermin secara langsung kepada cara hidup kedua orang tuanya yang merupakan panutan terbaik diseluruh alam semesta.
    Tatkala menginjak dewasa, Zainab dikenal sebagai wanita yang memiliki sifat-sifat yang hampir sempurna. Banyak lelaki yang tertarik untuk melamarnya, tak terkecuali Abul Ash bin Rabi, seorang pemuda terkemuka di Mekah yang tak lain adalah putra bibinya. Nasab Abdul Ash bertemu dengan Baginda Nabi SAW lewat ayahnya. Adapun dari jalur ibu, nasab Abul Ash bersambung dengan Khadijah Ummul Mukminin pada sosok Khuwailid.
    Abl Ash mengenal betul kepribadian Zainab karena dirinya sering berkunjung kerumah bibinya, Khadijah. Begitu pula kedua orang tua Zainab. Mereka telah mengetahui perangai bagus Abul Ash. Karena itulah maka di antara lamaran sejumlah lelaki, akhirnya Baginda Rasul SAW menjatuhkan pilihan kepada keponakan istri beliau. Maka menikahlah kedua insan mulia itu di bawah tuntunan Baginda Nabi SAW. Meski masih berusia muda, Zainab ternyata mempunyai sikap yang matang dan mampu mengatur rumah tangga dengan baik. Abul Ash merasakan ketentraman hidup bersama istrinya.
    Pada suatu ketika, tatkala Abul Ash sedang melakukan perjalanan jauh untuk berniaga, terjadilah peristiwa teragung dalam sejarah kehidupan manusia. Ayahanda Zainab diangkat Allah SWT menjadi rasul. Zainab menyambut seruan dakwah abahnya dan memilih Islam sebagai pegangan hidup. Ia menceritakan segala sesuatu yang terjadi kepada Abul Ash sekembalinya dari perniagaan. Zainab menduga suaminya bakal mengikuti pilihannya. Tetapi nyaanya ketika itu Abul Ash diam saja dan tak menunjukan reaksi apa pun.
    Dengan berbagai cara Zainab mencoba membujuk suaminya agar mengikuti petunjuk Baginda Rasul SAW. Namun ia masih saja bersikap dingin dan berkata, "Bukannya aku tidak percaya kepada ayahmu. Hanya saja aku tidak ingin menjadi bahan omongan orang-orang sekitar bahwa diriku telah menghina kaumku dan mengkafirkan agama nenek moyangku dengan istriku". Zainab tentu saja kecewa dengan jawaban suaminya. Suasana rumah tangga menjadi tak menentu. Hatinya kiat gelisah tatkala ditinggal ayahandanya berhijrah ke madinah.
    Sewaktu perang Badar meletus, Abul Ash turut andil dalam barusan kaum kafir Quraisy. Ia tertawan diakhir pertempuran yang dimenangi kaum muslimin. Pada saat dihadapkan kepada Baginda Rasul SAW, beliau berpesan, "Perlakukanlah tawanan ini dengan baik!"Zainab segera mengutus seorang kepada Baginda Rasul SAW guna menebus suami tercintanya dengan sejumlah harta. Di dalam harta itu terdapat kalung Zainab pemberian ibunya Khadijah binti Khuwailidi dihari pernikahannya.
    Tiada hentinya Baginda Rasul SAW memandangi kalung kiriman putrinya itu. Angan beliau hanyut terbawa kenangan indah bersama Khadijah yang terlebih dahulu meninggalkan alam dunia. Suasana haru itu juga dirasakan para sahabat disekeliling beliau. "Apabila kalian menilai ada kebaikan dalam membebaskan tawanan yang satu ini dan mengembalikan hartanya, maka lakukanlah !" Ujar beliau lirih kepada para sahabat. "Baiklah wahai Rasulullah," jawab mereka. Mereka pun kemudian melepaskan Abul Ash. Namun sebelum itu Baginda Rasul SAW mengambil janji dengan Abul Ash agar ia sudi membiarkan Zainab kembali kepada beliau karena Islam telah memisahkan ikatan mereka berdua.
    Kembalilah Abul Ash ke Mekkah dengan langkah yang gontai dan wajah yang menyiratkan rasa sedih. Sementara itu Zainab menyambutnya dengan riang gembira. "Aku datang untuk berpisah wahai Zainab," gumam Abul Ash dengan kepala tertunduk. Mendengar ini berubahlah mimik wajah Zainab seketika itu. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. "Hendak kemana engkau wahai suamiku tercinta?ada keperluan apa?" Tanyanya mendesak. "Bukan aku yang pergi Zainab, tetapi kamu!" Jawab Abul Ash dengan tatapan yang tajam. "Ayahmu telah memintaku untuk mengembalikan dirimu karena Islam telah memisahkan hubungan kita. Aku telah berjanji untuk mengembalikan dirimu dan tidak mungkin bagiku mengingkari janji."
    Mereka berdua pun akhirnya berpisah. Berlalulah masa-masa indah kehidupan rumah tangga mereka yang terjalin selama enam tahun. Zainab kini berada dibawah naungan abahnya di Madinah, meski ia tak pernah bisa melupakan suaminya. Ia senantiasa berdoa agar Allah SWT melapangkan dada Abul Ash dan memperoleh hidayah.

BERLINDUNG
    Pada suatu hari dibulan Jumadil Ula tahun 6 hijriyah, tiba-tiba Abul Ash mengetuk rumah Zainab. Ketika Zainab membuka pintu, kedua matanya terbelalak seolah tak percaya bahwa Abul Ash berada dihadapannya. Ia ingin mendekati mantan suaminya itu, akan tetapi ia segera menahan diri karena teringat norma yang diajarkan ayahnya. "Aku datang bukan untuk menyerah wahai Zainab," kata Abul Ash. "Aku dalam perjalanan berdagang ketika tiba-tiba pasukan ayahmu yang berjumlah 170 tentara dibawah komando Zaid bin Haritsah menghadangku. Mereka mengambil barang-brangku sementara aku lari menyelamatkan diri. Sekarang aku minta perlindungan kepadamu". Mendengar ini Zainab pun merasa iba. "Baiklah putra bibi, ayah Ali dan Umamah," jawabnya dengan nada prihatin.
    Tatkala kaum muslimin baru saja selesai melaksanakan sholat subuh, Zainab berteriak dari dalam kamar, "wahai manusia, sesungguhnya aku melindungi Abul Ash bin Rabbi!" Baginda Rasul SAW yang saat itu sedang menjadi imam, keluar dari mihrab masjid sembari berkata, "apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?" Para sahabat serempak menjawab, "Ya!" Baginda SAW kemudian bersabda, "Demi Zat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya aku tak mengetahui hal ini sedikitpun sampai aku baru saja mendengar seruan tadi. Orang-orang yang beriman adalah ringan tangan bagi orang lain sehingga mereka berhak memberikan perlindungan kepada orang dekatnya, dan sungguh kita telah melindungi orang yang dilindungi Zainab".
    Beliau kemudian memasuki kamar Zainab dan bersabda,"Muliakanlah tempatnya dan jangan sampai ia berbuat bebas terhadapmu, karena kamu sudah tidak halal baginya."Zainab mematuhi perkataan ayahnya. Ia kemudian mengajukan permohonan agar harta benda Abul Ash segera dikembalikan. Permohonan itu pun dikabulkan oleh Baginda Rasul SAW. Beliau mengabulkan permintaan putrinya bukan semata karena ia orang yang beliau kasihi, namun beliau melihat ada sebuah hikmah besar dibalik keputusan inu. Ternyata, harta benda itu bukanlah milik Abul Ash secara keseluruhan. Sebagian adalah barang titipan sejumlah pembesar kaum Quraisy. Setelah menerima kembali harta bendanya, Abul Ash bergegas kembali ke Mekah dan mengembalikan harta benda itu kepada para pemiliknya. Setelah itu, dihadapan para tokoh Quraisy ia mengikrarkan diri masuk islam. Keislamannya Abul Ash itu tentu saja menbuat penduduk Mekah geram.
    Tak lama setelah peristiwa itu Abul Ash memacu kudanya ke arah Madinah guna menyusul istri tercintanya Zainab. Dikota itu ia disambut penuh suka cita oleh para sahabat. Baginda Rasul SAW menerima Abul Ash dengan tangan terbuka dan mengembalikan putri beliau kepelukannya.
    Sungguh tak terkira rasa bahagia yang dirasakan Zainab tatkala suaminya kembali kepadanya dalam keadaan beriman. Doa yang ia rajut setiap saat kini telah dikabulkan Allah. Bersama kedua anaknyaia merasakan kembali kehangatan rumah tangga yang utuh. Tetapu sayang, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar saja. Setahun seusai kembalinya sang suami, Zainab meninggal dunia akibat luka bekas keguguran diwaktu hijrah. Abul Ash tak kuasa menahan rasa sedih ditinggal istrinya dan kisah cinta mereka yang penuh drama. Dalam suasana baru itu Baginda Rasul SAW datang untuk mengucapkan salam perpisahan kepada putrinya. "Basuhlah ia dengan bilangan ganjil, tiga atau lima kali, dan yang terakhir disertai kapir barus atau sejenisnya. Bila kalian selesai memandikannya, ingatkan aku!" Sabda beliau kepada para wanita. Ketika  mereka selesai memandikannya, beliau memberikan kain penutup. "Kenakanlah ini kepadanya!"pinta beliau. Dengan ini, maka tertutuplah sudah kisah hidup wanita yang penuh kemuliaan itu.

Abirama_CN*

No comments:

Post a Comment