Friday, March 17, 2017

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI (1)

A.    Masalah Utama:
      Perubahan sensori perseptual: halusinasi.

B.     Proses Terjadinya Masalah
Halusinasi merupakan salah satu respons neurobiologik (orientasi realitas) yang maladaptif. Halusinasi adalah persepsi klien terhadaplingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya klienmenginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/rangsangan dari luar(eksternal). Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di mana terjadi pada saat ke­sadaran individu itu penuh / baik. Individu yang mengalami halusinasi seringkali beranggapan sumber atau penyebab halusinasi itu berasal dari lingkungannya, padahal rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah, rasa sepi, marah, rasa takut ditinggalkan oleh orang yang dicintai, tidak dapat mengendalikan dorongan ego, pikiran dan perasaannya sendiri. 
Secara umum dapat dikatakan segala sesuatu yang mengancam harga diri (self esteem) dan keutuhan keluarga dapat merupakan penyebab terjadinya halusinasi. Ancaman terhadap harga diri dan keutuhan keluarga meningkatkan kecemasan. Gejala dengan meningkatnya ke­cemasan, kemampuan untuk memisahkan dan mengatur persepsi, mengenal perbedaan antara apa yang dipikirkan dengan perasaan sendiri menurun, sehingga segala sesuatu diartikan berbeda dan proses rasionalisasi tidak efektif lagi. Hal ini mengakibatkan lebih sukar lagi membedakan mana rangsangan yang berasal dari pikirannya sendiri dan mana yang dari lingkungannya.
Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau berbicara sendiri, secara tiba - tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar atau dirasakan).

C.    Pohon Masalah


D.    Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji
      Perubahan sensori perseptual: halusinasi
a).    Data Subyektif :
§  mendengar suara bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
§  melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
§  mencium bau tanpa stimulus
§  merasa makan sesuatu
§  merasa ada sesuatu pada kulitnya
§  takut pada suara / bunyi / gambaran yang didengar
§  ingin memukut / melempar barang – barang

b).    Data Obyektif :
§  berbicara dan tertawa sendirl
§  bersikap seperti mendengar / melihat sesuatu
§  berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
§  disorientasi

E.     Diagnosa Keperawatan
a.       Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi.
b.      Perubahan sensori perseptual: halusinasi berhubungan dengan menarik diri.

F.     Rencana Tindakan
1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi
a.       Tujuan Umum:
Klien tidak mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

b.      Tujuan Khusus:
1).    Membina hubungan saling percaya
 Tindakan:
 a. Salam terapeutik ‑ perkenalkan diri ‑ jelaskan tujuan ‑ ciptakan lingkungan yang tenang       buat kontrak yang jelas (waktu, tempat, topik)
 b. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan
 c. Empati
 d. Ajak membicarakan hal ‑ hal nyata yang ada di lingkungan

2).    Klien dapat mengenal halusinasinya
      Tindakan:
      a. Kontak sering dan singkat
      b. Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi  (verbal dan non verbal)
       c. Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar ‑         apa yang dikatakan oleh suara itu Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar           suara itu, tetapi perawat tidak mendengamya. Katakan bahwa perawat akan membantu.
       d. Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, waktu, frekuensi teriadinya               halusinasi serta apa yang dirasakan jika teriadi halusinasi
       e. Dorong untuk mengungkapkan perasaannya ketika halusinasi. muncul

3.      Klien dapat mengontrol halusinasinya
      Tindakan:
a. Identifikasi bersama tentang cara tindakan j ika teriadi halusinasi
b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol                 halusinasinya
c. Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi: bicara dengan orang lain bila             muncul halusinasi, melakukan kegiatan, mengatakan pada suara tersebut " saya tidak         mau dengar!"
d. Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih / dilakukan
e. Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil

4.      Klien dapat dukungan dari keluarga
 Tindakan:
  a. Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala, cara memutus               halusinasi, cara merawat, informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat                   bantuan
  b. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

5.      Klien dapat menggunakan obat dengan benar
      Tindakan:
      a. Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek samping minum obat
      b. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama, pasien, obat, dosis, cara dan         waktu)
         c. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
         d. Beri reinforcement positif bila klien mintun obat yang benar

2. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi
a.       Tujuan Umum:
Klien tidak terjadi perubahan sensori persepsi : halusianasi

b.      Tujuan Khusus:
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
 Tindakan:
 a. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, memperkenalkan diri, jelaskan tujuan      interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang ‑ buat kontrak yang jelas (waktu, tempat,            topik)
b. Beri perhatian dan penghargaan : temani klien walau tidak menjawab
c. Dengarkan dengan empati : beri kesempatan bicara, jangan terburu-buru, tunjukkan             bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien

2.      Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
      Tindakan:
      a. Bicarakan penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain
      b. Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri

3.      Klien dapat mengontrol halusinasinya
Tindakan:
a. Identifikasi bersama tentang cara tindakan j ika teriadi halusinasi
b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya
c. Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi: bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi, melakukan kegiatan, mengatakan pada suara tersebut " saya tidak mau dengar!"
d. Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih / dilakukan
e. Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil

4.      Klien dapat dukungan dari keluarga
      Tindakan:
     a. Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala, cara memutus              halusinasi, cara merawat, informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan
     b. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

5.      Klien dapat menggunakan obat dengan benar
      Tindakan:
      a. Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek samping minum obat
      b. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama, pasien, obat, dosis, cara dan         waktu)
      c. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
      d. Beri reinforcement positif bila klien mintun obat yang benar


Penulis : Akhdan_Ners

DAFTAR PUSTAKA


Townsend MC. 1995. Nursing Diagnosis in Psychatric Nursing; A Pocket Guide For Care Plan Construction.  Alih Bahasa: Novi Helena CD. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri; Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan. Jakarta: EGC
Stuart G.W & Sundeen S.J . 1995. Pocket Guide To Psychiatric Nursing. Alih Bahasa Achir Yani. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC


 

Stuart G.W & Sundeen S.J .1995. Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St. Lois: Mosby Year Book
Kaplan & Sadock. 1993. Pocket Handbook of Clinical Psychiatry. Alih Bahasa: Willie Japaris.1994. Buku Saku Psikiatri Klinik. Jakarta: Bina Rupa Aksara
Kaplan & Sadock. 1996. Synopsis of  Psychiatry. Alih Bahasa : Wijaya Kusuma. 1997. Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Bina Rupa Aksara
Carpenito, Lynda Jual. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC, Jakarta.
Stuart dan Sundden. (1995). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC. Jakarta.

Keliat, Budi Anna. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC. Jakarta.

No comments:

Post a Comment