DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ………………………………………………………..i
HALAMAN
PERSETUJUAN…………………………………………….....iii
HALAMAN
PENGESAHAN………………………………………..............iv
RIWAYAT
HIDUP PENULIS………………………………………………...v
HALAMAN
PERSEMBAHAN……………………………………………....vi
KATA
PENGANTAR ……………………………………………………......viii
DAFTAR
ISI………………………………………………………………....x
BAB
I PENDAHULUAN …………………………………………………...1
A. Latar belakang…………………………………………………... 1
B. Tujuan penulisan………………………………………………..... 4
C. Manfaat penulisan……………………………………………….. 5
D. Pengumpulan data………………………………………………..
6
E. Sistematika penulisan…………………………………………….. 7
BAB
II TUJUAN TEORI………………………………………………….... 8
A. Masa Nifas…………………………………………………..….. 8
1. Pengertian………………………………………………….... 8
2. Tahap-tahap masa nifas……………………………………… 9
3. Adaptasi Fisiologis masa nifas………………………………... 9
4.
Adaptasi psikologis
masa nifas……………………………..... 19
5. Kebutuhan Dasar Ibu Post Partum…………………………... 21
B. Seksio Sesaria…………………………………………………... 23
1. Pengertian ………………………………………………..… 23
2. Indikasi seksio sesaria……………………………………..... 24
3. Kontra indikasi seksio sesaria……………………………...... 29
4. Komplikasi seksio sesaria……………………………………. 29
5. Macam-macam seksio sesaria………………………………... 31
6. Patofisiologis seksio sesaria………………………………….. 31
7. Penatalaksanaan post seksio sesaria………………………….. 33
C. Pre Eklamsi………………………………………………………. 34
1. Pengertian …………………………………………………… 34
2. Jenis-jenis pre eklamsi……………………………………….. 34
3. Etiologi pre eklamsi………………………………………….. 35
4. Tanda dan gejala pre eklamsi………………………………... 35
5. Patofisiologi…………………………………………………. 36
6. Komplikasi………………………………………………….. .38
7. Penatalaksanaan…………………………………………….. .38
D. Pathways ……………………………………………………........ 41
E. Asuhan Keperawatan…………………………………………….. 42
BAB
III TINJAUAN KASUS……………………………………………...... 60
A. Pengkajian……………………………………………………… ..60
B. Analisa Data……………………………………………………... 66
C. Diagnosa Keperawatan…………………………………………... 67
D. Intervensi Keperawatan………………………………………….. 68
E. Implementasi…………………………………………………...... 70
F. Evaluasi………………………………………………………….. 73
BAB
IV PEMBAHASAN…………………………………………………... 77
A. Diagnosa yang muncul………………………………………….. 77
B. Diagnosa yang tidak muncul……………………………………. 86
C. Dukungan dan Hambatan……………………………………….. 90
BAB
V PENUTUP………………………………………………………….. 91
A. Kesimpulan ……………………………………………………... 91
B. Saran …………………………………………………………..... 93
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Depkes RI (2010) mengemukakan bahwa Angka Kematian
Ibu (AKI) di Indonesia merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan
derajat kesehatan masyarakat. AKI di Indonesia menggambarkan jumlah wanita yang
meninggal dari suatu sebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau
penangananya selama kehamilan, melahirkan dan masa nifas. Hasil dari Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) angka kematian ibu di Indonesia masih
tinggi yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Laporan Dinkes Jateng (2010) bahwa Angka Kematian
Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 berdasarkan laporan dari
masing-masing kabupaten/kota sebesar 104,97 per 100.000 kelahiran hidup
mengalami penurunan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2009 sebesar 117,02
per 100.000 kelahiran hidup. Kejadian kematian maternal paling banyak adalah
pada waktu nifas sebesar 50,57% di susul kemudian pada waktu hamil sebesar 25,04%,
dan pada waktu bersalin sebasar 24,39%. Penyebab kematian ibu tersebut adalah
eklamsia sebesar 30 %, perdarahan sebesar 20%, infeksi sebesar 4%, dan lain-lain
sebesar 46%. Data eklamsia menempati peringkat pertama dari sebab kejadian
Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Tengah.
Laporan
Dinkes Jateng (2010) bahwa Angka
Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu selama kehamilan dan
melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu, keadaan social ekonomi,
keadaan yang kurang baik menjelang kehamilan, kejadian berbagai komplikasi pada
kehamilan dan kelahiran, tersedianya penggunaan fasilitas pelayanan prenatal
dan obstetrik. Tingginya angka kematian ibu
menunjukan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan
termasuk pelayanan prenatal obstetrik yang rendah pula.
Keadaan sosial ekonomi dan fasilitas kesehatan
prenatal obstetrik yang rendah, oleh pemerintah dibuatkan kebijakan untuk
menurunkan angka kematian ibu dengan adanya jaminan persalinan (Jampersal)
untuk periksa kehamilan dan melahirkan secara gratis di puskesmas atau rumah sakit, penempatan bidan di desa untuk
meningkatkan status kesehatan ibu,
dikembangkannya sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan
Anak (PWS-KIA) dan di lakukannya kerjasama lintas sektoral antara lain dengan
pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) dan Gerakan Reproduksi keluarga Sejahtera
(GRKS).
Kebijakan pemerintah harus didukung oleh puskesmas
dan rumah sakit untuk memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil. Ibu hamil
dengan memriksakan kehamilan di puskesmas atau rumah sakit dapat di ketahui
secara dini terkait dengan janin yang bermasalah supaya dapat penangan secara
baik. Ibu yang bersalin dengan janin yang bermasalah dilakukan tindakan
pembedahan yaitu seksio sesaria. Seksio sesaria ini sama dengan tindakan
laparatomi yang membuka isi perut. Tindakan tersebut merupakan penanganan untuk
mengurangi risiko kematian ibu dan bayi yang mempunyai indikasi dalam
persalinan tidak normal.
The Information Center (2007) dalam Baston Hall (2012)
mengemukakan angka bedah sesar di
Inggris telah meningkat hampir dua kali lipat dalam tahun 2006, 23,5% kelahiran terjadi melalui bedah
sesar dan lebih dari separuhnya merupakan bedah sesar darurat.
Andon dalam
Nakita (2008) berpendapat angka kesakitan dan kematian ibu
pada tindakan operasi seksio sesaria lebih tinggi dibandingkan dengan
persalinan pervaginan. Angka kematian langsung pada operasi sesar adalah 5,8
per 100.000 kelahiran ibu. Pada angka kesakitan sekitar 27,3 persen
dibandingkan dengan persalinan normal hanya sekitar 9 per 1000 kejadian.
Statistik Peel dan Chamberlain dalam Winkjosastro (2005)
tentang 3.509 kasus section caesaria,
untuk indikasi section caesaria
meliputi disproporsi janin panggul 21%, gawat janin 14%, plasenta previa
11%,kelainan letak janin 10%, pre eklamsi dan hipertensi 7% dengan angka
kematian ibu 17% sebelum dikoreksi dan 0,5% sesudah dikoreksi, sedangkan
kematian janin 14,5%. Hasil data yang di peroleh dari rekam medik RSUD Tugurejo
Semarang tahun 2011 di dapatkan data persalinan ibu seksio sesaria dengan pre
eklamsi ringan sebesar 19 orang, seksio sesaria dengan pre eklamsi berat 6
orang, seksio sesaria dengan eklamsia 10
orang. Salah satu indikasi seksio sesaria adalah pre eklamsi. Dimana pre
eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang masih merupakan penyebab utama
kematian ibu dan penyebab kematian perinatal tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan urain di atas, maka penulis termotivasi
menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan
judul “Asuhan Keperawatan pada Ny S dengan post seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan di ruang
bougenville RSUD Tugurejo Semarang.”
B.
Tujuan
Penulisan
1. Tujuan
Khusus
Mengetahui
pentingnya perawatan secara nyata tentang asuhan keperawatan pada pasien post partum
dengan seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD
Tugurejo Semarang.
2.
Tujuan Umum
a. Mendiskripsikan
pengkajian pada pasien post partum dengan seksio sesaria indikasi preeklamsi ringan di ruang
Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
b. Mendiskripsikan
permasalahan (diagnosa keperawatan) pada pasien dengan seksio sesaria indikasi
preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
c. Mendiskripsikan
rencana keperawatan (intervensi) pada pasien post partum dengan seksio sesaria
indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
d. Mendiskripsikan
dan dapat melaksanakan implementasi pada pasien post partum dengan seksio
sesaria indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo semarang.
e. Mendiskripsikan
evaluasi (catatan perkembangan) pada pasien post partum dengan seksio sesaria
indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
f. Membahas
asuhan keperawtan pada psien post partum dengan seksio sesaria indikasi
preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
C. Alasan Penyusun KTI
Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini di
lakukan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan jenjang Diploma Keperawatan
Widya Husada Semarang.
D.
Manfaat
penyusunan Karya Tulis Ilmiah
1. Bagi
penulis
Penulis
diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam melakukan
asuhan keperawatan pada ibu post op seksio sesaria pndikasi pre eklamsi ringan.
2. Bagi
lahan praktek
Lahan
praktek diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pada ibu
post op seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan dan dapat memberikan
bimbingan yang lebih maksimal pada mahasiswa.
3. Bagi
Institusi pendidikan
Institusi
diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa terutama
dalam melakukan pemeriksaan pada ibu post op seksio sesaria indikasi pre
eklamsi ringan baik didalam laboratorium maupun lahan praktik.
4. Bagi
masyarakat
Masyarakat
diharapkan lebih menjaga kondisi pada saat hamil sekaligus memeriksakan
kehamilan secara rutin supaya dapat diketahui sejak dini untuk mencegah komplikasi
masyarakat memahami perawatan pasca post partum dengan seksio sesaria indikasi
pre eklamsi ringan.
5. Bagi
Pasien
Pasien
diharapkan lebih memahami perawatan pasca post partum dengan seksio sesaria
indikasi pre eklamsi ringan.
E. Pengumpulan Data
Penyusunan
karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi
kasus dengan pendekatan proses keperawatan, meliputi pengkajian, perencanaan,
implementasi dan evaluasi. Tehnik pengumpulan data menggunakan metode:
1.
Observasi Partisipasif
Observasi
partisipasif yaitu mengadakan pengawasan langsung terhadap keadaan umum pasien
serta perkembangannya dan melaksanakan asuhan keperawatan selama observasi.
2. Wawancara
Wawancara
yaitu tanya jawab dengan pasien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan yang
ikut menangani.
3. Studi
Kepustakaan
Studi
kepustakaan yaitu dengan mempelajari buku – buku literatur yang berkaitan
dengan perawatan pasien post partum dengan seksio sesaria indikasi pre eklamsi
ringan.
4. Studi
Dokumentasi
Studi
dokumentasi yaitu dengan memepelajari catatan medik pasien, buku laporan serta
dokumen lainnya untuk membandingkan dengan data yang penulis dapatkan.
F.
Sistematika
Penulisan
Sistematika penulisan karya tulis ilmiah
ini diuraikan singkat dalam bentuk bab dan sub bab penulisannya, Penulis
menjabarkan menjadi 5 bab meliputi:
1. BAB
I adalah pendahuluan, terdiri atas latar belakang, tujuan penulisan, metode
penulisan dan sistematika penulisan.
2. BAB
II adalah tinjauan pustaka, terdiri atas masa nifas, seksio sesaria, pre
aklamsi, penatalaksanaan, pathways, asuhan keperawatan
3. BAB
III adalah resume asuhan keperawatan, terdiri atas pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi.
4. BAB
IV adalah pembahasan.
5. BAB
V adalah kesimpulan dan saran.
6. DAFTAR
PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN
TEORI
A. Masa Nifas
1.
Pengertian
Pasca partum merupakan masa enam minggu sejak bayi lahir,
sampai organ-organ reproduksi kembali kekeadaan normal sebelum hamil (Bobak, 2005).
Periode post
partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali pada keadaan tidak
hamil,terhadap hadirnya anggota keluarga (Mitayani, 2009).
Cuningham (2006)
masa nifas atau postpartum disefisinisikan sebagai periode selama dan tepat setelah
kelahiran.
Frasser (2009)
empat minggu pertama setelah persalinan disebut periode pascanatal atau
pascapartum.sebagai periode tidak kurang dari sepuluh hari dan tidak lebih dari 28 hari setelah
brakhirnya persalinan dan selama itu bantuan yang kontinu harus di berikan
kepada ibu dan bayinya.
Masa nifas
adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum lahir (Saleha. S, 2009).
2. Tahap-tahap
masa nifas
Saleha (2009) tahapan yang terjadi
pada masa nifas adalah:
a. Periode immediate postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir
sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, perdarahan
karena atonia uteri. Oleh karena itu, harus di lakukan pemeriksaan rutin
kontraksi uterus, pengeluaran lokhea, tekanan darah dan suhu.
b. Periode early postpartum (24 jam-1
minggu)
Pada fase ini memastikan involusi
uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk,
tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui
dengan baik.
c. Periode late postpartum (1 minggu-5 minggu)
Pada periode ini tetap melakukan
perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.
3. Adaptasi
Fisiologis Post Partum
Selama
masa nifas, alat-alat interna maupun eksterna berangsur-angsur kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Perubahan keseluruhan alat genetalia ini di sebut
involusi. Pada masa nifas juga terjadi perubahan-perubahan penting di antaranya
adalah sebagai berikut:
a. Sistem
reproduksi
1)
Uterus
Pada
akhir tahap persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah
umbilicus dan besar uterus kira-kira sama dengan usia kehamilan 16 minggu
(kira-kira sebesar jeruk asam) dan beratnyakira-kira 1000 gram. Dalam waktu 12
jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilicus. Dalam beberapa
hari kemudian perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun
kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari ke-9 pascapartum biasanya uterus
sudah tidak bisa dipalapasi pada daerah abdomen. Setelah 1 minggu melahirkan
ukurannya sudah kembali pada ukuran sebelum hamil yaitu 500 g dan 350 g (11-12
ons) 2 minggu setelah lahir (Bobak,
2005; Saleha, 2009).
|
Involusi
|
Tinggi
Fundus uteri
|
Berat
Uterus
|
|
Bayi
Lahir
|
Setinggi
pusat, 2 jbpst*
|
1000
gr
|
|
1
minggu
|
Pertengahan
pusat simfisis
|
750
gr
|
|
2
Minggu
|
Tidak
teraba diatas simfisis
|
500
gr
|
|
6
Minggu
|
Normal
|
50
gr
|
|
8
Minggu
|
Normal
tapi sebelum hamil
|
30
gr
|
2)
Lokhea
Lokhea adalah
cairan secret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas.
Ada beberapa jenis lokhea yang
terdapat pada wanita pada masa nifas yaitu:
a) Lokhea rubra (cruenta) berwarna merah karena
berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, set-set desidua, verniks
caseosa, lanugo dan mekonium.
b) Lokhea sanguilenta berwarna merah kekuningan yang
berisi darah dan lender yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7 pasca persalinan.
c) Lokhea serosa berwarna merah jambu kemudian
menjadi kuning yang keluar pada hari ke-7 sampai hari ke 14 pasca persalinan.
d) Lokhea alba bentuknya seperti cairan putih
berbentuk krim yang terdiri atas leukosit dan sel-sel desidua yang keluar pada
hari ke 14 yang keluar sedikit demi sedikit hingga berhenti sampai satu atau
dua minggu berikutnya (Bobak, 2005; Saleha, 2009).
3) Serviks
Serviks menjadi lunak setelah ibu melahirkan. 18 jam
pascapartum, serviks memendek dan konsistennya lebih padat dan kembali ke bentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah
uterus tetap edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu
melahirkan.pada hari ke-4 sampai ke-6 pascapartum, 2 jari mungkin bisa masuk
kedalam muara serviks tetapi hanya tangkai kuret terkecil yang bisa di masukan
pada akhir minggu ke-2 (Bobak, 2005).
4) Vagina
Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerpenium
merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara berangsur-angsur
luasnya berkurang, tetapi jarang sekali kembali seperti ukuran seorang
nulipara. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Humen tampak sebagai
tonjolan jarngan yang kecil, yang dalam proses pembentukan berubah menjadi
kurun kulae mitiformis yang khas bagi wanita multipura (Saleha, 2009).
5) Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara
bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap
penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Hemostasis pascapartum di capai terutama akibat kompresi
pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agresi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormone
oksigen yang di lepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi
uterus, mengompresi pembuluh darah, dan membantu hemostasis. Selama 1-2 jam pertama pascapartum intensitas
kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting
sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan
oksitosin (Pitosin) secara intravena atau intramuskuler di berikan segera
setelah plasenta lahir. Ibu yang merencanakan menyusui bayinya, dianjurkan
membiarkan bayinya dipayudara segera setelah lahir karena isapan lahir pada
payudara merangsang pelepasan oksitosin (Bobak, 2005).
B.
Sistem pencernaan
1)
Mortalitas
Secara khas, penurunan tonus dan mortalitas otot
traktus cerna menetap selama waktu
yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anesthesia bila
memperlambat pengembalian tonus dan mortalitas ke keadaan normal. Mual dan
muntah terjadi akibat reproduksi saliva meningkat pada kehamilan trimester I,
gejala ini terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung kurang lebih 10 minggu
terjadi pada ibu nifas.pada ibu nifas yang partus lama dan terlantar mudah
terjadi ileus paralitikus, yaitu adanya obstruksi usus akibat tidak adanya
peristaltik usus. Penyebabnya adalah buah dada dalam kehamilan dan partus lama,
sehingga membatasi gerak peristaltic usus, serta bisa terjadi karena pengaruh
psikis takut BAB karena ada luka pada perineum (Bobak, 2005; Saleha, 2009).
1) Defekasi
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama
dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena
tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal pascapartum,
diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan dan dehidrasi
(Bobak, 2005).
C.
Sistem endokrin
Selama
periode pascapartum, terjadi perubahan hormon yang besar yaitu:
1) Hormon
plasenta
Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan
signifikasi hormon-hormon yang diproduksi oleh organ tersebut. Penurunan
hormone Human placental Lactogen (HPL), estrogen dan kortisol, serta plasenta
insulinasi membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah
menurun secara yang bermakna pada masa puerpenium. Kadar estrogen dan
progesterone menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendah
dicapai kira-kira 1 minggu pascapartum. Penurunan kadar estrogen berkaitan
dengan pembengkakan payudara dan dieresis cairan extraseluler berlebih
berakumulasi selama masa hamil (Bobak, 2005).
2)
Hormon hipofisis dan fungsi ovarium
Menurunnya kadar estrogen
menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk
menegeluarkan prolaktin, hormon ini berperan dalam pemebesaran payudara untuk
merangsang produksi susu. Pada wanita yang tidak menyusui bayinya tingkat
sirkulasi prolaktin menurun dalam 14-21 hari setelah persalinan. Kadar
prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui berperan menenkan ovulasi.
Kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil. Pada wanita
menyusui, kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu ke-6 setelah
melahirkan. Pada wanita tidak menyusui, ovulasi terjadi dini, dengan waktu
rata-rata 70-75 hari. Pada wanita, waktu rata-rata terjadi ovulasi sekitar 190
hari (Bobak, 2005; Saleha, 2009).
D.
Abdomen
Di hari pertama setelah melahirkan, abdomen akan
menonjol, dalam dua minggu setelah melahirkan, dinding abdomen pada wanita akan
rileks. Dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil diperlukan waktu
sekitar 6 minggu (Bobak, 2005).
E.
Sistem kardiovaskuler
1) Volume
darah
Pada minggu ke 3 dan ke 4 setelah
bayi lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum hamil.
Sewaktu melahirkan bayi tunggal pervaginam, ibu kehilangan 300-400ml darah,
atau sekitar 2x lipat pada saat seksio sesaria.
Tiga perubahan fisiologis
pascapartum yang melindungi wanita: (1) hilangnya sirkulasi uteruplasenta yang
mengurangi ukuran pembuluh darah maternal 10%-15%; (2) hilangnya fungsi
endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus vasodilatasi; (3) terjadinya
mebolisasi air ekstra vaskuler yang disimpan selama wanita hamil (Bobak, 2005)
2) Curah
jantung
Denyut jantung, volume sekuncup,
dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Setelah melahirkan keadaan
ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 menit karena darah
yang melintasi sirkuit uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum.
Kembalinya hemodinamika jantung secara pasti ke kadar normal tidak tersedia,
tetapi nilai curah jantung normal ditemukan bila di lakukan pemeriksaan 8
sampai 10 minggu setelah wanita melahirkan (Bobak, 2005).
F.
Sistem neurologi
Perubahan
neurologis selama puerpenium merupakan kebalikan adaptasi neurologia yang
terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma yang di alami wanita saat
bersalin dan melahirkan. Eliminasi edema fisiologis melalui deuresis setelah
bayi lahir menghilangnya sindrom carpal tunel dengan mengurangi kompresi saraf
median. Rasa kesemutan pada jari yang di alami 5% wanita hamil biasanya hilang
setelah anak lahir. Nyeri kepala pascapartum bisa di sebabkan berbagai keadaan termasuk hipertensi kehamilan, stress, dan
kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang ekstradural selama jarum
epidural diletakan di tulang punggung untuk anestesi. Lama nyeri kepala dari
satu smapai tiga hari bahkan sampai beberapa minggu, tergantung pada penyebab
dan efektivitas pengobatan (Bobak, 2005).
G.
Sistem muskuluskeletal
Adaptasi
sitem muskuloskiletal pada ibu yang terjadi selama masa hamil berlangsung
secara terbalik pada masa pascapartum. Adaptasi iini membantu relaksasi dan
hipermobilitas sendi dan perubahanpuasat berat ibu akibat pembesaran rahim.
Stabilitas sendi lengkap pada minggu keenam sampai ke-8 setelah wanita
melahirkan (Bobak, 2005).
H.
Sistem integument
Kehamilan yang muncul pada masa hamil biasanya
menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areolla dan linea nigra
tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Pada wanita pigmentasi pada
daerah tersebut akan menetap. Kulit yang merenggang pada payudara, abdomen,
paha, dan panggul mungkin memudar tetapi tidak hilang seluruhnya. Kelainan pada
pembuluh darah seperti spider angeoma, eritema palmar, dan epulis berkurang
sebagai respon terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir.
Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil biasanya akan menghilang
setelah wanita melahirkan, tetapi rambut kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya akan menetap. Konsisten dan kekuatan
kuku akan kembali pada keadaan sebelum hamil (Bobak, 2005).
I.
Sistem urinarius
Penurunan kadar steroid pada wanita pasca
partum sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama masa pasca
partum. Fungsi ginjal kembali normal pada waktu 1 bulan setelah wanita
melahirkan (Bobak, 2005).
Buang air kecil sering sulit selama
24 jam pertama. Kemungkinan terdapat spasme sfingter dan edema leher buli-buli
sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis
selama persalinan. Urine dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12
– 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen
yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan. Keadaan ini akan
menyebabkan deuresis, ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6
minggu (Farrer, 2005).
J.
Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital yang harus di kaji pada masa nifas
sebagai berikut:
1) Suhu
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 0C. Sesudah
partus dapat naik kurang lebih 0,5 0C dari keadaan normal, namun
tidak akan melebihi 80 C. Sesudah dua jam pertama melahirkan umumnya
suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari 38 0C, mungkin
terjadi infeksi pada klien.
2) Denyut nadi
Denyut nadi dan volume sekuncup serta curah jantung
tetap tinggi selama jam pertama setelah bayi lahir. Pada minggu ke 8-10 setelah
melahirkan, denyut nadi kembali ke frekuensi sebelum hamil.
3)
Pernapasan
Pernapasan harus berda
dalam rentang normal sebelum melahirkan.
4) Tekanan darah
Tekanan darah sedikit berubah atau
menetap. Hipotensi artostatik yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan
ingin pingsan segera setelah berdiri, dapat timbul dalam 48 jam pertama (Bobak,
2005 ; Saleha, 2009).
K.
Laktasi
Sejak
kehamilan muda, sudah mendapat persiapan-persiapan pada kelenjar-kelenjar
mammae untuk menghadapi masa laktasi:
1) Proliferasi
jaringan, terutama kelenjar-kelenjar dan alveolua mammae dan lemak.
2) Pada
duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan,
berwarna kuning (kolostrum).
3) Hipervaskularisasi
terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mammae. Pembuluh-pembuluh vena
berdilatasi dan tampak dengan jelas. Tanda ini merupakan salah satu tanda tidak
pasti kehamilan.
4) Setelah
partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesterone terhadap hipofisis
hilang. Timbul oengaruh hormon-hormon hipofisis kembali, antara lactogenic hormone (prolaktin) yang
dihasilkan pula. Mamme yang telah dipersiapkan pada masa hamil terpenuhi,
dengan akibat kelenjar-kelenjar berisi air susu. Pengaruh oksitosi
mengakibatkan miopitelium kelenjar-kelelnjar susu berkontraksi, sehingga air
susu dikeluarkan. Umumnya produksi air susu baru berlangsung pada hari ke 2-3
post partum (Winkjosastro,2006).
4.
Adapatsi psikologis post partum
a. Taking in periode
Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu masih
pasif dan sangta bergantung pada orang lain, focus perhatian terhadap tubuhnya,
ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta
kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat (Saleha, 2009).
b. Taking hold
periode
Berlangsung 2-4 hari post partum, ibu lebih
berkonsentrasi pada kemampuannya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya
terhadap perawatan
bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitive, sehinga membutuhkan bimbingan
dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami oleh ibu (Saleha,
2009).
c. Letting go periode
Dialami setelah tiba ibu dan bayi tiba dirumah. Ibu
mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai “seorang ibu” dan menyadari atau merasa ketuban bayi sangat
tergantung pada dirinya (Saleha, 2009).
5.
Hal-hal yang harus di penuhi selama masa
nifas adalah sebgai berikut:
a. Fisik
Istirahat, makan
makanan yang bergizi, sering menghirup udara segar, dan lingkungan yang bersih.
b. Psikologi
Stres setelah persalinan dapat segera distabilkan
dengan dukungan dari keluarga yang menunjukan rasa simpati, mengakui, dan
mengharigai ibu.
c. Sosial
Menemani ibu bila terlihat kesepian, ikut menyayangi
anaknya, menanggapi dan memperhatikan kebahagian ibu serta menghibur bila ibu
terlihat sedih.
6.
Kebutuhan dasar ibu pada masa nifas
a. Nutrisi
dan cairan
Pada masa nifas masalah diet perlu
mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat
mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang
harus di berikan diet yang bergizi tinggi, cukup kalori, dan banyak mengandung
cairan.
b. Ambulasi
Ambulasi dini (early ambulation)
ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin membimbing ibu post partum bangun dari
tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan. Keuntungan
ambulasi dini adalah ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan ambulasi dini, faal
usus dan kandung kemih lebih baik, ambulasi dini memungkinkan kita mengjarkan
ibu cara merawat anaknya selama ibu masih di rumah sakit, lebih sesuai dengan
keadaan Indonesia. Ambulasi dini tidak di benarkan pada ibu post partum dengan
penyulit, seperti anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam.
c. Eliminasi
1) Buang
air kecil
Ibu
di minta untuk buang air kecil 6 jam post partum. Jika dalam 8 jam post partum
belum dapat berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan
kateterisasi.
2)
Buang air besar
Ibu
post partum diharapkan dapat buang air besar setelah hari kedua post partum.
Jika hari ketiga belum juga BAB, maka perlu diberi obat pencahar peroral atau
per rekatal. Jika setelah pemberian obat pencahar masih belum bisa BAB, maka
dilakukan huknah.
d. Personal
higiene
Pada masa post partum, seorang ibu
sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebesihan diri sangat penting
untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, tempat tidur, dan
lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga.
e. Istirahat
dan tidur
Untuk memnuhi kebutuhan istirahat
dan tidur pada ibu adalah anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah
kelelahan yang berlebihan, sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan
rumah tangga secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau istirahat
selagi bayi masih tidur.
f. Aktivitas
seksual
Aktivitas seksual yang dapat
dilakukan oleh ibu masa nifas harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Secara
fisik aman untuk memenuhi hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan
ibu memasukan satu-satu jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri, maka ibu aman
memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
2) Banyak
budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu
tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan.
g. Latihan
dan senam nifas
Setelah persalinan terjadi involusi
pada hampir seluruh organ tubuh wanita. Involusi ini sangat jelas terlihat pada
alat-alat kandungan. Akibatnya dinding perut menjadi lembek dan lemas disertai
adanya striae yang membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu. Ibu akan
selalu berusaha untuk memulihkan dan mengencangkan keadaan dinding perut yang
sudah tidak indah lagi. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indah dan
langsing seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas
(Saleha. S, 2009).
B.
Seksio
Sesaria
1.
Pengertian
Seksio sesaria
merupakan lahirnya janin melaui insisi
di dinding abdomen (laparatomi)dan dinding uterus atau histerektomi (Cuningham,
2006).
Seksio
sesar adalah prosedur operasi untuk melahirkan bayi melalui sayatan pada
dinding perut uterus (Wiknjosastro, 2008).
Mary
Nolan (2004) bedah Caesar adalah pembedahan besar pada perut dan kebanyakan
wanita membtutuhkan beberapa minggu, bahkan bulan untuk pulih kembali.
Seksio
sesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut
dan dinding uterus (FK Surabaya, 2003).
Menurut
hasil urain di atas, seksio sesaria adalah pembedahan yang dilakukan secara
transabdomina untuk melahirkan janin yang sudah mampu hidup, beserta plasenta
dan selaput ketuban
2.
Indikasi seksio searia
Menurut Rasjidi
(2009) indikasi seksio sesaria:
a. Indikasi
mutlak
1) Indikasi Ibu
a)
Panggul sempit
Pengurangan ukuran pada satu atau
lebih diameter utama panggul yang mempengaruhi kemajuan persalinan. Panggul
yang sempit menyebabkan ketidaksesuaian ukuran antara ukuran janin dan ukuran
jalan lahir yang paling sering terjadi. Rongga panggul dapat mengalami
penyempitan pada pintu atas panggul berkurang menjadi 10 cm atau kurang dari 10
cm, atau ukuran diameter melintang terbesar 12 cm atau kurang. Penyempitan pintu
atas panggul dapat terjadi akibatpenyakit riketsia atau umunya karena
perkembangan yang buruk. Penyempitan panggul tengah telah mempunyai batasan
yang tegas dibandingkan dengan penyempitan pintu atas panggul atau pintu bawah
panggul. Namun, panggul tengah dianggap sempit apabila jarak antara tulang
spina iskiadika kurang dari 9,0 cm (normalnya 10,5 cm) atau apabila jumlah
jarak interspinosa dan sagitalis posterior kurang dari 13, 5 cm(normalnya 15,0
cm sampa 15,5 cm). penyempitan pintu bawah panggu dikenali terjadi apabila
jarak antara tuberositas iskiadika kurang dari 8 cm.
b)
Kegagalan melahirkan secara normal karena kurang adekuatnya stimulasi
c) Tumor-tumor jalan lahir yang menyebabkan
obstruksi
d) Atenosi serviks atau vagina
e) Plasenta previa
Plasenta
yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus (rahim) sehingga
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internnum)
f)
Disproporsi sefalopelvik
Keadaan
yang menggambarkan ukuran janin ketidaksesusain anatara kepala janin dan
panggul ibu sehingga janin tidak bisa keluar melalui vagina.
g)
Rupture uterus (dehisensi dramataik/eskar) terjadi robekan atau diskontinuitas
dinding rahim akibat di lampauinya daya renggang miomentrium.
2) Indikasi Janin
a) Kelainan letak meliputi
(1) letak sungsang yaitu keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala
di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uter;(2) letak lintang yaitu
presentasi janin, dimana janin berada dalam posisi melintang atau tegak lurus
terhadap jalan lahir.
b)
Gawat janin adalah keadaan janin tidak memperoleh oksigen yang cukup, sehingga
mengalami hipoksia dan dapat mengancam kesehatan janin.
c)
Prolapsus tali pusat, tali pusat teraba disamping atau lebih rendah dari pada
bagian depan sedangkan ketuban sudah pecah. Keadaan ini sangat berbahaya dan
mengancam kehidupan janin.
d) Perkembangn bayi yang terhambat
e) Mencegah hipoksia janin, misalnya karena pre
eklamsi
b. Indikasi Relatif
Indikasi tersebut meliputi:
1) Riwayat seksio sesaria
sebelumnya
2)
Presentase bokong, bila bokong merupakan bagian terendah janin.
3)
Distosia bahu
Distosia
didefinisikan sebagai persalinan yang panjang, sulit, atau abnormal, yang
timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan lima faktor persalinan.
4)
Fetal distress
Perlambatan
abnormal tenaga kerja, kehadiran meconium (feses hijau gelap dari janin) atau
zat abnormal lainnya dalam cairan ketuban melalui pemantauan janin dengan
perangkat elektronik yang menunjukan pH kulit kepala janin kurang dari 7.2.
5)
Pre eklamsi sedang sampai berat
Tekanan darah
140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu. Tekanan darah yang disertai dengan
proteinuria (protei dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang
terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah
persalinan.
c. Indikasi sosial
1)
Wanita yang takut melahirkan berdasarkan pengalaman sebelumnya
2) Wanita yang ingin seksio sesaria elektif karena
takut bayinya mengalami cedera asfiksia selama persalinan atau mengurangi
resiko kerusakan dasar panggul
3)
Wanita yang takut terjadinya perubahan pada tubuhnya atau sexuality image setelah melahirkan.
Menurut Martin, Reeder,
Koniak-Griffin (2011) indikasi seksio sesaria meliputi:
a. Ibu
dan janin
Distosia (kemajuan persalinan yang
abnormal)adalah indikasi paling umum kedua yang pada umunya ditujukan sebagai
suatu “kegagalan kemajuan” dalam persalinan. Hal ini berhubungan dengan
ketidakmampuan antara ukuran panggul dengan ukuran kepala janin, atau aksi
kontraksi uterus yang abnormal.
b. Ibu
Penyakit ibu yang berat, seperti
penyakit jantung berat, diabetes mellitus, pre eklamsi berat atau eklamsia,
kanker serviks, atau infeksi berat (yaitu, virus herpes simpleks tipe II atau
herpes lesi aktif). Penyekit tersebut membutuhkan persalinan seksio sesarea
karedna beberapa alasan ; untuk mempercepat pelahiran dalam suatu kondisi yang
kritis, karena klien dan janinnya tidak mampu menoleransi persalinan, atau
janin akan terpajan dengan resiko bahaya yang meningkat saat melalui jalan
lahir.
Pembedahan uterus sebelumnya, termasuk
miomektomi, pelahiran pelahiran sesaria sebelumnya dengan insisi klasik atau
rekonstruksi uterus.
c. Janin
Gawat janin, seperti janin dengan
kasus prollaps talimpusat, insufisiensi uteruplasenta berat, malpresentasi,
seperti letak lintang, janin dengan presentasi dahi.
Kehamilan ganda dengan bagian
terendah janin kembar adalah pada posisi melintang bokong.
d. Plasenta
Plasenta
tertanam di segmen bawah uterus sehingga seluruhplasenta menutupi serviks
internal. Plasenta diklasifikasikan sebagai plasenta previa total, sebagian
atau implantasi rendah berdasarkan letak plasenta di segmen bawah uterus dan
derajat penutupan mulut serviks internal. Plasenta previa total terjadi saat
plasenta plasenta menutupi mulut serviks internal secara menyeluruh. Implantasi
rendah plasenta terjadi ketika plasenta sampai ke bagian mulit serviks internal
sehingga plasenta dapat tepalpasi oleh dokter saat eksplorasi digital disekitar
serviks, tetapi tidak melebar bagian pinggir mulut internal.
3.
Kontra Indikasi
Menurut
Rasjidi, imam (2009) kontra indikasi seksio sesaria adalah :
a) Janin mati
b) Syok pada ibu
akibat perdarahan
c) Anemia berat pada ibu
d) Kelainan congenital berta
e) Infeksi piogenik pada dinding
abdomen
f) Minimnya fasilitas operasi
sectio caesaria
4.
Komplikasi
Komplikasi menurut Jitowiyono (2010) adalah :
a.
Infeksi puerperal
Komplikasi ini bisa bersifat
ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas, bersifat
berat seperti peritonitis, sepsis.
b. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada
waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia
uteri.
c.
Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru.
d.
Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya perut pada
dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi rupture uteri.
e. Pada anak
Nasib anak yang dilahirkan dengan seksio
sesaria banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan
seksio sesaria.
Komplikasi
yang kemungkinan muncul setelah di lakukan tindakan operasi seksio sesaria
antara lain:
a. Komplikasi
ibu
1) Infeksi
puerperal (nifas)
a) Ringan,
dengan suhu meningkat dalam beberapa hari.
b) Sedang,
suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit
kembung.
c) Berat,
peritonialis, sepsis dan usus peristaltik.
2) Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada
waktu pembedahan jika cabang-cabang uterine ikut terbuka atau karena atonia
uteri.
3) Luka
kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi
terlalu tinggi.
4) Kemungkinan
rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya.
b. Komplikasi
bayi
Anestesi umum mempunyai depresi
pada pusat pernapasan janin sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan
apneu yang tidak dapat diatasi dengan mudah (Winkjosastro, 2006).
5. Macam-macam seksio sesaria
Menurut Baston, Hall
(2012) seksio sesaria di bagi menjadi 4 macam:
a)
Section caesaria klasik atau corporal
adalah insisi memanjang pada segmen atas uterus.
b)
Section caesaria transperitonealis
profunda adalah insisi pada segmen bawah rahim. Tehik yang sering di
lakukan ada 2 macam yaitu tehnik melintang (secara keer) dan tehnik memanjang
(secara kronik)
c) Section caesaria extra peritnialis,
pada rongga peritoneum tidak di buka saat operasi, dahulujenis operasi ini
sering di lakukan pada penderita dengan infeksi intra uterin yang berat, tetapi
untuk sekarang operasi ini jarang di lakukan.
d)
Caesaria section hysterectomy, seetelah
section caesaria di kerjakan histerektomi dengan indikasi antonia uteri,
plasenta accrete, myoma uteri, infeksi intra uterin yang berat.
6.
Patofisiologi seksio sesaria
Plasenta previa, cepallo pelvic disproportion, pre
eklamsi, ketuban pecah dini, partus tak maju, partus lama, distosia servik dan
mal presentasi janin adalah indikasi dilakukannya seksio sesaria. Seksio
sesaria akan memberikan dampak fisik dan fisiologi bagi ibu, selain itu trauma
fisik akibat prosedur pembedahan seksio sesaria, dan efek dari anestesi adalah
dengan adanya penurunan kerja pons varoli dan modulla oblongata. Sehingga akan
mempengaruhi penurunan kerja system saraf pernapasan kemudian reflek batuk,
maka mengakibatkan akumulasi skret dari
penurunan pons varoli mempengaruhi penurunan kerja otot eliminasi dan
penurunan peristaltik usus sehingga mengakibatkan konstipasi dan juga
mempengaruhi penurunan sensitivitas uretra.
Luka
post operasi juga menimbulkan jaringan terputus dan merangsang area sensorik
kemudian akan menimbulkan rasa nyeri. Dari luka post operasi juga membuat
jaringan terbuka sehingga apabila perawatan luka kurang maka akan menimbulkan
post de entry kuman patogen (infeksi bakteri).
Dampak fisik
juga mempengaruhi distensi kandung kemih juga mengakibaktkan gangguan pada BAK,
selain itu juga mempengaruhi penurunan progesterone dan estrogen. Pada
progesterone akan mempengaruhi kontraksi uterus apabila kontraksi tidak adekuat
akan terjadi perdarahan mengakibatkan kelemahan dan kekurangan cairan dan
eletrolit. Pada estrogen mempengaruhi peningkatan hormon prolaktin dan
pengeluaran ejeksi ASI. Selain berdampak fisik, prosedur seksio sesaria juga
berdampak psikologis bagi ibu yang akan mengalami operasi seksio sesaria akan
merasa cemas, khawatir akan keberhasilan atau kegagalan tindakan seksio
sesaria. Ibu juga akan khawatir akan diri dan bayinya (Mansjoer, 2001;
Prawirohardjo, 2006).
7. Penatalaksanaan
post seksio sesaria
Cuningham
(2005):
1.
Pengeluaran pervaginam harus di pantau
secra ketat; warna, bau dan jumlah.
2.
Fundus uteri harus sering di palpasi
untuk memastikan uterus masih tetap berkontraksi atau tidak.
3.
Pemberian anlgesik untuk mengurangi
nyeri pada luka bekas operasi.
4.
Periksa aliran darah uterus paling
sedikit 30 ml/jam, untuk memantau apakah mengalami perdarahan atau tidak.
5.
Pemberian cairan IV 3 liter untuk 24 jam
pertama setelah operasi, untuk mengganti cairan yang hilang.
6.
Ambulasi 1 hari setelah pembedahan,
klien bisa turun sebentar dari tempat tidur dengan bantuan orang lain untuk
mengurangi risiko terjadinya kekakuan otot den dekubitus.
7.
Perawatan luka, ganti balut hari ketiga
setelah operasi untuk mengurangi risiko infeksi dan meningkatkan penyembuhan
penyakit.
8.
Pemeriksaan laboratorium darah lengkap,
Hematokrit (Ht) di ukur tiap hari untyk mengetahui adanya pengentalan dalam
darah.
9.
Pemberian antibiotik untuk mencegah
infeksi.
C.
Pre
eklamsi
1. Pengertian
Pre
eklamsia adalah sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ
akibat vasospasme dan aktivitasi endotel.tanda penting dalam preeklamsi adalah adanya
proteinuria (Cuningham, 2006).
Menurut Bobak (2005) preeklamsi merupakansuatu
kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada
wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Preeklamsi juga merupakan
suatu penyakit vasospastik, yang melibatkan banyak system dan ditandai oleh
hemokonsentrasi, hipertensi dan proteinuria.
Pre eklamsia
adalah tekanan darah ≥ 140/ 90 mmHg setelah umur kehamilan 20 minggu, disertai
dengan proteinuria (Joseph, 2010).
Pre eklamsi meruapakan penyulit kehamilan
yang akut dan dapat terjadi ante, intra, dan postpartum.
2.
Jenis-jenis pre eklamsi
a.
Pre eklamsi Ringan
Pre eklamsi ringan adalah timbulnya
hipertensi di sertai proteinuria dan edema setelah umur kehamilan 20 minggu
setelah persalinan.
b.
Pre eklamsi berat
Pre eklamsi berat adalah suatu
komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg
atau lebih disertai proteinuria dan edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih
(Sujiyatini, 2009).
c. Eklamsia
Eklamsia adalah terjadinya kejang pada
seorang wanita dengan pre eklamsia yang tidak dapat di sebabkan oleh hal lain
(Cuningham, 2002).
3.
Etiologi
Bobak (2005)
etiologi dari pre eklamsi yaitu:
a.
Primigravida adalah wanita yang baru
mengandung anak pertama atau wanita yang baru hamil.
b.
Ibu hamil yang sudah pernah hamil
sebelumnya, minimal satu kali.
c.
Janin kembar
d.
Kehamilan dengan janin lebih dari satu
e.
Morbid obesitas
Penyakit
kelebihan lemak atau berat badan lebih dari 20% di atas berat badan ideal yang
berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan.
4. Tanda
dan Gejala
Tanda dan gejala
preeklamsia bervariasi luas dan sangat individual. Kadang-kadang untuk
menentukan gejala-gejala preeklamsia mana yang timbul lebih dahulu. Secara
teoritik urutan-urutan dari gejala yang timbul pada preeklamsia ialah edema,
hipertensi, dan proteuneria; sehingga bila gejala ini timbul tidak dalam urutan
diatas, dapat dianggap bukan preeklamsia. Dari semua gejala tersebut, timbulnya
hipertensi dan proteinuria merupakan gejala yang paling penting (Prawirohardjo,
2008).
Gejala klinis
pre eklamsia ringan meliputi:
a.
Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih, diastole 15 mmHg atau lebih
dari tekannan darah sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu atau lebih atau
sistol 140 mmhg sampai kurang 160 mmHg, diastole 90 mmHa sampai kurang 110
mmHg.
b.
Proteinuria adalah secara kuantifitas lebih 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau
secara kualitatif positif 2 (+2).
c.
Edema pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan.
d.
Kenaikan berat badan ibu 1 kg lebih perminggu selama 2x berturut-turut.
e.
Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda pre eklamsi berat.
5.
Patofisiologi pre eklamsi
Pada kehamilan
normal, rahim dan plasenta mendapat aliran darah dari cabang-cabang arteri
uterine dan arteri ovarika. Kedua pembuluh darah tersebut menembus miometrium
berupa arteri arkuarta dan arteri arkuarta memberi cabang arteri radiallis.
Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis dan arteri basalis
memberi cabang arteri spiralis. Pada hamil normal dan sebab yang belum jelas,
terjadi invasi trofoblas ke dalam lapisan otot arteri spirallis, yang
menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi dilatasi arteri
spiralis. Invasi trofoblas juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis,
sehingga jaringan matriks menjadi gembur dan memudahkan lumen arteri spiralis
mengalami distensi dan dilatasi. Distensi dan vasodilatasi lumen arteri
spiralis ini member dampak penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskuler,
dan peningkatan aliran darah pada daerah utero plasenta. Akibatnya, aliran
darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat
menjamin pertumbuhan janin yang baik. Proses ini dinamakan remodeling arteri
spiralis. Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel
trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya.
Lapisan otot arteri spiralis menjadi tetap kaku dan keras sehingga lumen arteri
spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akibatnya,
arteri spiralis relative mengalami vasokontriksi dan terjadi kegagalan
remodeling arteri spiralis, sehingga aliran darah utero plasenta menurun, dan
terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Dampak iskemia plasenta akan mengakibatkan
perubahan-perubahan yang dapat menjelaskan pathogenesis selanjutnya.
6.
Komplikasi
a. Bagi
Ibu
Perdarahan intra kranial, kejang,
koma akibat trauma karena kejang, gagal ginjal dan kematian (Prawirohardjo,
2008).
b. Bagi
janin
Janin yang dikandung ibu hamil
mengidap preeklamsia akan hidup dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen dibawah
normal. Keadaan ini bisa terjadi karena pembuluh darah yang menyalurkan darah
ke plasenta menyempit. Karena buruknya nutrisi, pertumbuhan janin akan
terhambat sehingga akan terjadi bayi dengan berat lahir rendah. Bisa juga janin
dilahirkan kurang bulan (prematur), komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur
yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, asfiksia dan sebagainya (Yeyeh, 2010).
7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan
rawat jalan pada pasien pre eklamsia ringan:
1). Banyak istirahat (berbaring
tidur/miring)
2). Diet: cukup protein, rendah karbohidrat, lemak
dan garam.
3). Kunjungan ulang setiap 1
minggu.
4).
Pemeriksaan laboratorium: hemoglobin, hematokrit, trombosit, urine lengkap,
asam urat rendah, fungsi hati dan fungsi ginjal.
b.
Penatalaksanaan rawat tinggal pasien pre
eklamsi ringan berdasarkan kriteria:
1).
Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih per minggu selama 2 kali berturt-turut
(2 minggu).
2).
Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda pre eklamsia berat
(Sujiyatini, 2009).
c. Winkjosasatro (2008) penatalaksanaan pre
eklamsia berat meliputi:
1) Profilaksis
kejang
a)
Magnesium sulfat (MgSO4) intravena harus diberikan selama persalinan dan selama evaluasi awal pasien
penderita pre eklamsi berat.
b) MgSO4 digunakan untuk menghentikan dan
mencegah konvulsi tanpa menyebabkan depresi SSP umum untuk ibu maupun janin.
c)
MgSO4 tidak di berikan untuk mengobati hipertensi.
d) MgSO4 harus di berikan dengan metode infus
terkendali/pantau untuk mencegah overdosis yang dapat bersifat letal.
e)
MgSO4 yang di berikan secara parental dibersihkan hampir secara total
oleh ekskresi ginjal
f)
Kalsium glukonat (1 gm IV yang di suntik selama beberapa menit) mungkin
diberikan untuk antidote toksisitas terjadi dan harus tersedia.
g) Konvulsi eklamsia hampir selalu di cegah
oleh kadar magnesium plasma dipertahankan pada 4-7mEq/L.
2. Terapi
anti hipertensi
a).
Obat-obatan anti hipertensi menjaga agar perdarahan intrakarnial pada ibu tidak terjadi.
b). Terapi kronis hipertensi sedang
tidak akan menunda laju penyakit, memperpanjang kehamilan atau menurunkan
resiko kejang.
c).
Tekanan darah ibu tidak boleh diturunkan hingga lebih rendah dari 140/90 mmHg
karena tekanan yang lebih rendah akan menurnkan perfusi utero-plasenta.
E. Asuhan keperawatan
1.
Pengkajian Doengoes (2001); Mitayani
(2009):
a.
Sirkulasi
Kehilangan darah
selama pembedahan kira-kira 600-800 ml, hioertensi dan pendarahan vagina.
b.
Integritas ego
Dapat menunjukan
labilitas atau kegembiraan sampai ketakutan, marah atau menarik diri. Klien
atau pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam
pengalaman kelahiran. Klien mungkin mngekspresikan ketidakmampuan untuk
menghadapi situasi baru
c.
Eliminasi
Kateter
urinarius mungkin terpasang, urin jernih atau pucat, bising usus tidak ada,
samar atau jelas.
d.
Makanan dan cairan
Abdomen lunak
dengan tidak ada distensi pada awal, nyeri epigastrium, gangguan penglihatan,
dan edema sebagai tanda-tanda hipertensi karena kehamilan.
e.
Neurosensori
Kerusakan
gerakan dan sensori di bawah tingkat anestesi spunal epidural.
f.
Nyeri dan ketidaknyamanan
Mengeluh
ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misalnya: nyeri, trauma pembedahan atau
insisi, kandung kemih penuh, efek-efek anestesi. Distosia, persalinan lama,
terdapat nyeri tekan uterus.
g.
Pernapasan
Bunyi paru jelas
atau vesikuller.
h.
Keamanan
Balutan abdomen
tampak sedikit noda atau kering atau utuh. Jalur parental, bila digunakan paten
dan sisi bebas eritema, akan bengkak dan nyeri tekan.prolaps tali pusat,
distress janin, ancaman janin yang premature, presentasi bokong yang sefalik
eksternal yang tidak berhasil, ketubah pecah selama 24 jam atau lebih, adanya
komplikasi ibu seperti; hipertensi, diabetes mellitus, penyakit ginjal dan
jantung.
i.
Reproduksi dan seksualitas
Fundus
kontraksi kuat dan terletak setinggi umbilikus. Aliran lokea sedang dan bebas
bekuan, berlebihan atau banyak.
2.
Pemeriksaan fisik
Robert Priharjo (2007):
a.
Kepala dan rambut
Mengetahui
bentuk dan fungsi kepala. Pengkajian yang di awali inspeksi kemudian palpasi.
Inspeksi meliputi kesimetrisan kepala, tengkorak, warna dan distribusi rambut,
serta kulit kepala. Palapsi meliputi keadaan rambut, massa, pembengkakan, nyeri
tekan, keadaan tengkorak dan kulit kepala.
b.
Mata
Mengetahui
bentuk dan fungsi mata. Pengkajian dilakukan cara inspeksi dan palpasi.
Inspeksi meliputi, bagian-bagian mata yang perlu di amati yaitu bola mata,
kelopak mata, konjungtiva, sclera dan pupil. Palapsi pada mata bertujuan ungtuk
mengetahui tekanan bola mata dan mngetahui adanya nyeri tekan.
c.
Telinga
Mengetahui
keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga/membrane tympani dan
pendengaran.
d.
Hidung
Untuk mengtahui
jalan napas (mengetahui ada atau tidak sumbatan, sperti: sekret dan benda
asing).
e.
Mulut dan gigi
Untuk mengtahui
kebersihan mulut dan bibir, mengamati apakah mukosa bibir lembab atau kering,
sianosis atau tidak.
f.
Leher
Mengetahui
bentuk leher dengan cara inspeksi sampai palpasi. Inspeksi dengan cara
mengamati bentuk leher, warna kulit, adanya pembengkakan dan adanya masa.
Palpasi untuk mengetahui adanya pembesaran limfe dan tiroid.
g.
Dada dan paru
Pemeriksaan
dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Inspeksi untuk
mengetahui postur, bentuk dan kesimetrisan ekspansi. Palpasi untuk mengkaji
keadaan kulit dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan
taktil fremitus (vibrasi yang teraba yang dihantarkan melalui sistem
bronkopulmonal selama seseorang berbicara). Perkusi untuk mengkaji ada atau
tidaknya cairan, udara dan massa pada paru-paru. Auskultasi untuk mengetahui
suara atau bunyi pernapasan.
h.
Jantung
Pemeriksaan
dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Inspeksi dan
palpasi untuk mengetahui adanya ketidaknormalan denyutan dan pembesaran
jantung. Perkusi untuk mengetahui ukuran dan bentuk secara kasar. Auskultasi
untuk mengetahui bunyi jantung.
i.
Mammae
Pengkajian
dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Inspeksi untuk mengamati kesimetrisan,
warna, lesi dan edema, pada ibu dan nifas areolla berwarna lebih gelap dan
bentuk lebih besar dari sebelumnya. Palpasi untuk mengetahui nyeri tekan dan
massa.
j.
Abdomen
Pemeriksaan dilakukan secara berurutan dari
inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi. Inspeksi untuk mengatahui bentuk
abdomen, pada post op seksio sesaria amati luka dan jahitan apakah ada kemerahan
atau tidak, bengkak dan cairan. Auskultasi untuk mengetahui bising usus atau
peristaltik usus, pada post op seksio sesaria suara bising usus mungkin kurang
jelas karena adanya penurunan kerja usus dari efek anestesi. Perkusi untuk
mengetahui adanya massa, gas atau cairan pada post op seksio sesaria suara
terdengar timpani atau normal kecuali ada masalah dengan abdomen. Palapsi untuk
mengetahui adanya pembesaran pada hepar dan pada post op seksio sesaria untuk
mengetahui kontraksi uterus.
k.
Genetalia
Pada post op seksio sesaria amati warna dan bau
pada pengeluaran pervagina seperti lokhea.
l.
Ekstremitas
Kaji khususnya pada fungsi pada ekstremitas
bawah karena akibat dari efek spinal anestesi.
m.
Integument
Kaji turgor kulit dan capilerry refill pada post
op seksio sesaria untuk mengetahui kehilangan darah saat pasca operasi.
3.
Data penunjang
a.
Pra operasi
1)
Pemantauan janin terhadap kesehatan
janin
2)
Pemantauan EKG
3)
Jumlah darah lengkap
4)
Pemantauan elektrolit
5)
Golongan dari pencocokan silang darah
6)
Pemeriksaan sinar-X sesuai indikasi
7)
Ultrasound sesuai indikasi
b.
Pasca operasi
1)
Jumlah darah lengkap,
hemoglobin/hematokrit: mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan
mngevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
2)
Urinalisis, kultur urine, vagina dan
lokhea: pemeriksaan tambahan pada kebutuhan individual (Doengoes, 2001);
(Bobak, 2005).
4.
Diagnosa keperawatan, intervensi dan
rasional
Menurut Doengoes
(2001):
a.
Gangguan eliminasi BAB: konstipasi
berhubungan denganpenurunan peristaltik usus.
Kriteria hasil: Peritaltik usus
meningkat/normal, BAB normal/seperti
pola kebiasaan dan konsisten lembek, tidak ada keluhan nyeri pada
abdomen/adanya massa pada abdomen.
Intervensi dan Rasional
1)
Auskultasi bising usus, perhatikan
distensi abdomen.
Rasional:
indikator adanya/perbaikan ileus.
2)
Anjurkan klien untuk banyak minum kurang
lebih 8 gelas per hari.
Rasional: Meningkatkan pelunakan feses dan
membantu merangsang peristaltik usus.
3)
Anjurkan klien untuk mengkonsumsi
buah-buahan dan sayuran yang tinggi serat.
4)
Anjurkan klien untuk secepatnya
melakukan mobilisasi: miring kanan dan kiri setiap 2 jam.
Rasioanal:
membantu merangsang fungsi intestinal dan mengembalikan peristaltik.
5)
Kolaborasi pemberian obat pencahar.
Rasional:
meningkatkan pelunakan feses.
b.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
post de entri atau invaksi bakteri.
Kriteria
hasil: Luka bekas dari tanda-tanda infeksi seperti adanya pus dan luka
kemerahan, menunjukan luka bebas dari drainase purulent dengan tanda awal
penyembuhan (misalnya penyatuan tepi-tepi luka) uterus lunak, tidak ada nyeri
tekan.
Intervensi
dan rasional
1)
Inspeksi insisi terhadap proses
penyembuhan, perhatikan kemerahan, edema, nyeri eksudat dan gangguan penyatuan.
Rasional:
tanda-tanda untuk mngetahui adanya insfeksi.
2)
Kaji suhu, nadi dan jumlah sel darah
putih.
Rasional:
demam setelah pascaoperasi, takikardi dan
lekositosis menunjukan infeksi.
3)
Kaji lokasi dan kontraktilitas uterus,
perhatikan perubahan involusio atau
adanya nyeri tekan yang ekstrim.
Rasional:
setelah kelahiran sesaria, tinggi fundus uteri selama plasenta lahir setinggi
umbilicus, bila involusio mulai yang disertai dengan peningkatan aliran lokhea,
perlambatan involusi meningkat, perkembangan tekanan darah ekstrim menandakan
adanya jaringan plasenta yang bertahan.
4)
Inspeksi balutan abdominal terhadap
eksudat atau rembesan dan ganti balutan sesuai indikasi.
Rasional:
rembesan menunujukan adanya hematom dan gangguan penyatuan jahitan, sedangkan
balutan yang basah atau lembab merupakan media paling baik untuk pertumbuhan
bakteri dan memudahkan bakteri untuk berpindah-pindah.
5)
Kolaborasi pemberian antibiotik.
Rasional:
Digunakan untuk pertahanan tubuh dari
mikroorganisme.
c.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi atau luka setelah operasi, trauma pembedahan.
Kriteria
Hasil: Klien akan mngidentifikasi dan melakukan cara untuk mengurangi nyeri,
klien akan mengatakan nyeri berkuang, klien akan tampak rileks, dapat tidur dan
istirahat dengan tenang.
Intervensi
dan rasional
1)
Kaji, tentukan karakteristik dan lokasi
nyeri serta perhatikan ekspresi perhatikan ekspresi klien.
Rasional:
untuk menentukan dan mengetahui karakteristik,
lokasi dan tingkatan nyeri yang dirasakan oleh klien.
2)
Ajarkan tehnik-tehnik mengurangi nyeri
(relaksasi napas panjang dan distraksi atau pengalihan perhatian).
Rasional:
untuk memudahkan klien dalam mengurangi nyeri.
3)
Monitor tekanan darah dan nadi.
Rasional:
nyeri dapat menyebabkan gelisah, meningkatkan tekanan darah dan nadi.
4)
Ubah posisi klien, kurangi rangsangan
yang berbahaya dan anjurkan untuk tehnik relaksasi napas panjang dan distraksi.
Rasional:
merilekskan otot dan mengalihkan perhatian dan rangsang nyeri dapat
meningkatkan kenyamanan.
5)
Kolaborasi pemberian analgesik.
Rasional:
dapat mengurangi nyeri yang berat sehingga meningkatkan kenyamanan dan
memperbaiki status psikologis.
d. Inkontinensia urin
berhubungan dengan penurunan sensitifitas uretra dan sensasi kandung kemih
Kriteria
hasil: Klien dapat BAK dengan lancar, klien mengatakan rasa ingin berkemih.
Intervensi
dan rasional
1)
Pantau eliminasi urin, meliputi:
frekuensi, jumlah, bau dan warna.
Rasional: untuk mengtahui apakah ada masalah
dengan organ ginjal.
2)
Latih klien untuk melakukan bladder
training.
Rasional: latihan ini untuk mencoba cara
menahan saat berkemih apabila tidak bisa dikendalikan.
3)
Ajarkan klien untuk latihan kegel’s
exercise.
Rasional: untuk meningkatkan otot perineal
sehingga klien dapat mengontrol BAK.
4)
Batasi pemkain obat anti deuretik, anti histamin
dan anti hipertensi.
Rasional: karena obat-obatan tersebut dapat
meningkatkan pengeluaran urin.
5)
Kolaborasi pemasangan kateter urinaria
apabila klien tidak mengontrol saat berkemih.
Rasional: tindakan ini juga dapat mengurangi
rasa nyeri pada saat berkemih.
e.
Tidak efektifnya menyusui berhubungan
dengan karakteristik payudara ibu,
kurangnya pengetahuan tingkat pengetahuan.
Kriteria hasil: Klien
memahami tentang proses suatu menyusui, klien mendemonstrasikan tehnik efektif
menyusui, bayi tidak rewel, payudara kenyal.
Intervensi
dan rasional
1)
Kaji pengetahuan dan pengalaman klien
tentang menyusui sebelumnya.
Rasional: untuk mengetahui tingkat pengetahuan
klien tentang menyusui.
2)
Berikan informasi mengetahui fisiologi
dan keuntungan menyusui, perawatan
payudara dan putting susu, keutuhan diet khusus, faktor-faktor yang memudahkan
dan menghambat keberhasilan menyusui.
Rasional: untuk meningkatkan pengetahuan
klien.
3)
Demonstrasikan dan tinjau ulang
tehnik-tehnik menyusui, perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama
menyusui.
Rasional:
posisi yang tepat dapat mencegah putting terluka, tanpa memperhatikan lamanya menyusui.
4)
Kaji putting klien, anjurkan klien untuk
memperhatiakan putting setiap habis
menyusui.
Rasioanal: identifikasi dan intervensi
dini dapat mencegah atau membatasi terjadinya luka atau pecah putting yang
dapat merusak proses menyusui.
5)
Identifikasi sumber-sumber yang tersedia
di masyarakat sesuai indikasi.
Rasional:
pelayanan ini mendukung pemberian ASI melalui pendidikan klien.
f.
Defisist volume cairan berhubungan
dengan pengeluaran yang berlebihan.
Kriteria hasil: Tekanan
tekanan darah dan nadi dalam batas normal, kontraksi uterus normal.
Intervensi
dan rasional
1)
Kaji tekanan darah dan nadi.
Rasional: takikardi dan hipotensi menunjukan
hipovolemia.
2)
Lakukan massase uterus dan pantau fundus
uteri
Rasional:
meningkatkan kontraktilitas uterus, menurunkan resiko atonia uteri dan
haemorogie.
3)
Anjurkan klien untuk minum sedikit 8
gelas atau lebih.
Rasional:
mengkonsumsi air yang banyak, mengganti cairan yang hilang.
4)
Kaji frekuensi dan jumlah berkemih.
Rasional: fungsi ginjal sebagai indicator
volume sirkulasi darah.
5)
Diskusikan perubahan involusi normal
atau tanda subinvolusi.
Rasional:
klien harus mampu mengidentifikasi tanda haemorogie dan melakukan intervensi
yang tepat bila terjadi perdarahan yang berlebihan.
6)
Kolaborasi dengan tim kesehatan jika
fundus tetap menonjol atau gagal berkontraksi bila dimassase.
Rasional: obat-obtan mungkin diperlukan
untuk mempertahankan kontraksi
miometrial.
g.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, pembatasan gerak
setelah operasi
Kriteria hasil: Klien
dapat melakukan ADL secara bertahap, klien dapat toleran terhadap aktivitasnya.
Intervensi dan
rasional
1)
Kaji kemampuan klien untuk beraktivitas.
Rasional:
untuk mengetahui tingkat aktivitas yang bisa
dilakukan oleh pasien.
2)
Ajarkan klien untuk pentingnya
mobilisasi.
Rasional: agar klien tahu apabila klien
hanya tiduran tidak melakukan aktivitas
akan mengakibatkan kerusakan kulit.
3)
Rencanakan kegiatan yang akan dilakukan
untuk memulai latihan aktivitas.
Rasional:
memberikan rencana aktivitas secara bertahap dari mulai gerak di tempat tidur sampai turun dari
kasur.
4)
Bantu dan libatkan keluarga dalam
memenuhi ADL.
Rasional: membantu dan memnuhi kebutuhan ADL
klien.
5)
Ajarkan pada klien tentang ambulasi dini
secara bertahap.
Rasional: mangajari klien untuk beraktivitas
sedikit demi sedikit.
h. Resiko nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake nutrisi
Kriteria hasil: Tidak ada keluhan mual dan muntah, klien menghabiskan
satu porsi makan, mukosa membrane lembab, klien tidak terlihat lemah.
Intervensi dan Rasional
1)
Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat
untuk penyembuhan.
Rasional:
Dapat meningkatkan pengetahuan pasien tentang manfaat nutrisi guna penyembuhan
luka.
2)
Menganjurkan pasien untuk makan dengan
porsi kecil tapi sering.
Rasional:
Porsi kecil tapi sering dapat mengurangi keluhan rasa ingin mual dan muntah.
3)
Timbang berat badan tiap hari.
Rasional:
Penurunan berat badan lebih dari 20% mengidentifikasi nutrisi kurang dari
kebutuhan.
4)
Anjurkan pasien untuk mengurangi atau
menghindari bau-bauan yang merangsang atau menyebabkan rasa ingin muntah.
Rasional:
Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa ingin muntah.
5)
Pertahankan kebersihan mulut yang baik
sebelum dan sesudah maka.
Rasional:
Kebersihan mulut dapat meningkatkan nafsu makan.
j.
Kurang perawatan diri berhubungan dengan
penurunan terhadap kebutuhan diri dan ketergantungan.
Kriteria hasil:
Klien mendemonstrasikan tehnik-tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi dan
rasional
1)
Pastikan berat atau durasi ketidaknyamanan,
perhatikan adanya sakit kepala pascaspinal.
2)
Kaji status psikologis pasien.
Rasional:
Pengalaman nyeri fisik mungkin disertai dengan nyeri mental yang mempengaruhi
keinginan pasien dan motivasi untuk mendapatkan hak pasien.
3)
Ubah posisi pasien setiap 1-2 jam, bantu
dalam ambulasi dan latihan kaki.
Rasional:
Untuk mencegah komplikasi seperti flebitis atau pneumonia yang terjadi jika
ketidaknyamanan mempengaruhi pasien.
4)
Berikan bantuan sesuai kebutuhan hygiene
pasien (missal: perawatan mulut, mandi dan perawatan perineal).
Rasional:
indicator adanya/perbaikan ileus.
5)
Berikan pilihan bila mungkin (missal:
pemilihan jadwal mandi, pemilihan jarak selama ambulasi).
Rasional:
Meningkatkan kenyamanan dan dapat mempengaruhi untuk melaksanakan perawatan
diri.
k.
Perubahan menjadi orang tua berhubungan
dengan adanya tambahan anggota keluarga.
Kriteria hasil:
Keluarga mendemonstrasikan respon terhadap isyarat bayi, mengungkapkan resolusi
positif mengenai perubahan gaya hidup dan tambahan anggota keluarga.
Intervensi dan
Rasional
1)
Kaji kedekatan orang tua dengan bayi.
Rasional:
Ikatan kedekatan harus kuat pada 4-6 minggu post partum.
2)
Tinjau ulang faktor-faktor budaya dan
harapan.
Rasional:
Keyakinan budaya mempengaruhi interaksi oranrtua dan anak.
3)
Diskusikan masalah pasien atau pasangan
mengenai perilaku dan ketrampilan-ketrampilan menjadi orang tua.
Rasional:
membantu menghilangkan ansietas, memberikan kesempatan untuk penguatan positif
untuk upaya-upaya serta meningkatkan pertumbuhan.
4)
Kaji resolusi berduka berkenaan dengan
asumsi peran baru dan kehilangan gaya hidup yang lama.
Rasional:
Adaptasi pada peran menjadi orang tua baru dan integritas bayi ke dalam
keluarga menyebabkan berduka sementara terhadap kehilanganpola hidup lama dan
kebutuhan untuk menurunkan atau mngeubah karir atau peran-peran social.
5)
Catat kemajuan ke arah pemulihan gaya
hidup dan stabilisasi bayi.
Rasional:
Kegagalan untuk maju dan depresi pasca partum mempunyai dampak negatif pada
kedekatan dan menandakan kebutuhan terhadap evaluasi atau intervensi lanjut.
k. kurang pengetahuan mengenai
perawatan kondisi bayi dan dirinya berhubungan dengan kurang mengingat atau mengenal sumber-sumber
informasi.
Kriteria hasil: Pasien mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis
dan kebutuhan-kebutuhan yang di inginkan.
Intervensi dan Rasional
1)
Kaji pengetahuan pasien, pemahaman dan
kemampuan untuk menerapkan konsep yang berhubungan dengan perawatan diri.
Rasional:
Kelelahan, ansietas atau pembatasan fisik dapat mempunyai dampak negatif
pembelajaran pada waktu tersebut.
2)
Berikan informasi berhubungan dengan
involusi uterus yang normal dan perubahan lokhea untuk mengantisipasi perubahan
fisik dan emosioanal.
Rasional:
Masase dapat menstimulasi kontraktilitas uterus, menurunkan aliran lokhea serta
meningkatkan involusi.
3)
Tinjau ulang pemahaman pasien tentang
informasi yang diterima selama prenatal, intrapartum dan pasca partum, dan
berikan informasi atau penjelasan kesalahan konsep bila perlu.
Rasional:
Pengulangan informasi dapat membantu dan memberikan kesempatan untuk
mendiskusikan ide-ide dan masalah.
4)
Berikan informasi mengenai perawatan
bayi, kebutuhan imunisasi, pemberian maka, pertumbuhan dan perkembangan yang
normal.
Rasional:
Dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan fisik, psikologis dan nutrisi bayi.
5)
Tentukan rencana-rencana pasien atau
pasangan untuk penggunaan kontrasepsi dan tentukan pilihan-pilihan sesuai
indikasi.
Rasional:
Membantu, mencegah kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak direncanakan dan
membantu pilihan pasien dalam memilih kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi
ibu.
BAB
III
TINJAUAN
KASUS
A. Pengkajian
1. Biodata
dan penanggung jawab pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal
19 Juni 2012, jam 07.30 WIB data yang didapat:
Nama
: Ny. S
Umur
: 25 tahun
Alamat
: Jl. Anyar Beringin
No.
RM : 287152
Pasien dirawat di ruang Bougenville
dengan post operasi seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan, pasien masuk
rumah sakit pada tanggal 16 Juni 2012 , penanggung jawab pasien adalah suaminya
yang bernama Tn. E yang berumur 27 tahun.
2. Riwayat
kesehatan
a. Keluhan
utama
Pasien mengeluh nyeri pada luka
operasi.
b. Status
obstetrik
Pasien nifas hari ke-2 dengan riwayat P1A1.
Tipe persalinan seksio sesaria berat badan bayi 2800 gr, umur bayi 2
hari, bayi menangis spontan, tidak ada komplikasi nifas.
c. Masalah
kehamilan sekarang
Pada usia kehamilan 40 minggu 1
hari pasien mengatakan kenceng-kenceng, keluar lender darah, pasien mengatakan
pada saat itu langsung periksa ke bidan kemudian oleh bidan klien di rujuk untuk
melakukan persalinan di rumah sakit karena tekanan darah pasien 150/80 mmHg
kemudian pasien di bawa ke ruang Bougenville.
d. Riwayat
persalinan sekarang
Pasien mengatakan haid terakhir HPHt: 13-9-2011 dan
HPL: 10-6-2012. Riwayat obstetric G2P0A1, kerana tekanan darah pasien tinggi
mak pasien di lakukan persalinan seksio sesaria pada tanggal 17 Juni 2012 jam
7.45 WIB di ruang IBS atau ruang operasi.
e. Riwayat
KB
Pasien mengatakan sebelumnya belum pernah KB
f. Rencana
KB
Pasien mengatakan setelah persalinan anaknya akan
melakukan KB suntik 3 bulan atau spiral.
3. Kebutuhan
dasar khusus
a. Pola
nutrisi
Sebelum
sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari (nasi, lauk sayur, tahu tempe, ikan
dan buah-buahan) minum 6 gelas air putih per har, BB: 85 kg, TB: 155 cm.
Selama sakit pasien mengatakan
makan 3 x sehari selalu di habiskan dengan lauk pauk yang diberikan dari rumah
sakit. Pasien mengatakan tidak ada
pantangan dalam makan karena pasien ingin cepat sembuh, BB: 82 kg, TB: 155 cm.
b. Pola
eliminasi
Sebelum sakit pasien mengatakan BAB
1 x sehari (karakteristik konsisten lembek, bau khas, warna kuning), BAK 4-5 x
sehari.
Selama sakit pasien belum pernah
BAB selama setelah di lakukan operasi seksio sesaria, BAK hanya seklai saat
mandi.
c. Pola
persepsi sensori dan kognitif
Sebelum sakit pasien mengatakan
tidak ada gangguan pendengaran maupun penglihatan
Selama sakit pasien tampak meringis
kesakitan saat bergerak.
Pasien mengatkan:
P =
nyeri saat di tekan
Q = nyeri sperti di sayat-sayat
R = nyeri pada daerah perut bagian
bawah luka operasi
S = skala nyeri 5
T = nyeri saat bergerak dan
berjalan
d. Pola
aktivitas dan latihan
Seblum sakit pasien mengatakan
melakukan aktivitas dengan baik dan mandiri.
Selama sakit pasien mengatkanklien
mengtakan sulit untuk bergerak, pasien hanya bisa bangun duduk dari tempat
tidur.
|
|
Mandiri
|
Bantuan
Minimal
|
Bantuan
total
|
|
Bathing
|
-
|
-
|
√
|
|
Dressing
|
-
|
-
|
√
|
|
Toileting
|
-
|
-
|
√
|
|
Transferring
|
-
|
√
|
-
|
|
Continent
|
-
|
-
|
√
|
|
Feeding
|
-
|
√
|
-
|
Indeks Katz: C (pasien dapan melakukan aktivitas dengan bantuan minimal
atau alat dua)
e. Pola
persepsi dan konsep diri
1) Citra diri
Pasien mengatkan tetap bersyukur dengan
kondisi tubuhnya.
2) Identitas diri
Pasien mengatakan dirinya seorang
perempuan dan sudah menikah
3)
Peran diri
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga,
yang sudah mempunyai 1 orang anak peempuan yang baru lahir.
4)
Ideal diri
Pasien berharap ingin cepat sembuh dan
bisa berkumpul dengan keluarga
5)
Harga diri
Pasien merasa tidak malu dengan
kondisi fisiknya yang gemuk.
f. Pola
mekanisme koping
Pasien mengatakan apabila ada
masalah selalu diseleseikan dengan baik dan di musyawarahkan dengan suaminya.
4. Pemeriksaan
fisik dan TTV
Keadaan umum: baik, tingkat
kesadran: composmentis, tanda-tanda vital: tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 360
C, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit.
a. Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik, simetris, pupil isokor.
b. Mulut
Mukosa bibir lembab, tidak ada
caries gigi maupun gigi palsu, tidak ada sianosis.
c. Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar
tyroid.
d. Dada
Pasien mengatakan mammae tidak
membengkak, areolla mammae hitam, papilla mammae kedalam (inverted), ASI keluar
sedikit bila di tekan.
e.
Paru
Inspeksi : pengembangan paru kanan = kiri
Palpasi : paru kanan kiri simetris
Perkusi : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan
f. Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis
teraba di LMCS intercosta IV-V
Perkusi : pekak di area jantung
Auskultasi : bunyi jantung I dan II murni
g. Abdomen
Inspeksi : perut tidak distensi, striae tidak
ada, terdapat luka sayatan ±15 cm.
Auskutasi : bising usus 10x/menit
Palpasi : ada nyeri tekan
Perkusi : tympani
TFU 2 jari di bawah umbilikus,
kontraksi kuat
h. Perineum
dan vulva
Tidak dilakukan episiotomi, lokhea
rubra berwarna merah, bau seperti menstruasi amis, banyaknya lokhea ± 200cc.
i.
Rektum
Tidak ada hemoroid
j.
Ekstremitas
Atas: tidak ada edema, tidak
terpasang infus (infus sudah di lepas)
Bawah: tidak ada edema, tidak ada
varises, CRT < 3 detik, reflek patella positif, tidak ada tanda homan.
k. Integument
Turgor kulit elastik, warna kulit
sawo matang dan bersih.
5. Data
penunjang
a. Terapi
Terapi yang di dapat: cefadroxyl 3
x 500 mg, asam mefenamat 3 x 500 mg, vitamin B Complexs 1 x1 tablet, sero
sulfat 1 x 1 tablet, vitamin A dan C 1 x 1 tablet.
b. Pemeriksaan
laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada
tanggal 17 Juni 2012 yaitu: leukosit 15,21 ribu/ul, Eritrosit 4,78 ribu/ul,
trombosit 296 ribu/ul, hematokrit 37,20%, hemoglobin 12,30 g/dl.
c. Diet:
Nasi tinggi kalori tinggi protein.
B. Analisa data
Data
yang di dapat pada Ny. S tanggal 19 Juni 2012 dari data subyektif pasien
mengatakan nyeri pada saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri tersa di
sayat-sayat (Q), nyeri di daerah perut bagian bawah pada luka operasi (R),
skala nyeri 5 (S), nyeri saat bergerak (T), dan obyektifnya klien terlihat
kesakitan dan memegangi perutnya, tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan
20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, muncul masalah gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputtusnya kontinuitas
jaringan.
Data
kedua sebagai berikut data subyektif klien mengatakan ASI keluar sedikit saat
di tekan dan klien mengatakan belum mengetahui cara menyusui yang benar dan
data obyektif yang di dapat adalah papilla mammae ke dalam atau inverted, bayi
di ruang perinatologi, muncul masalah dengan ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik
payudara ibu.
Data
yang ketiga sebagai berikut data obyektif yang di dapat pada abdomen tampak ada
luka jahitan dengan diameter ± 15 cm, balutan pada luka tampak bersih tidak ada
rembesan, lekosit 15,21 ribu/ul dan suhu 36 0C, muncul masalah
dengan risiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen.
Data
ke empat sebagai berikut data subyektif klien mengatakan sulit
bergerak/berjalan, klien mengatakan hanya bisa miring ke kanan dan ke kiri
secara perlahan dan data obyektif yang di dapat adalah klien di bantu suaminya
saat akan melakukan aktivitas ke kamar mandi dan aktivitas lainnya, muncul
masalah dengan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
C. Diagnosa keperawatan
Data
yang sudah ada dapat disimpulkan bahwa untuk prioritas utama adalah nyeri
berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan,
ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik fisik payudara ibu,
dan selanjutnya resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen,
yang terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
D. Intervensi keperawatan
Rencana
atau intervensi keperawatan pada diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan trauma pembedahan atau dikontinuitas jaringan tujuannya
setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam diharapkan nyeri dapat
teratasi dengan kriteria hasil pasien tampak rileks atau nyaman, skala nyeri 5
menjadi 2. Intervensi dan rasionalnya sebagai berikut: kaji karakteristik dan
lokasi nyeri (R/ untuk mengetahui karakteristik nyeri, lokasi dan tingkatan
nyeri yang di rasakan pasien, ajarkan tehnik relaksasi napas dalam (R/ untuk mngurangi nyeri pada pasien), monitor
tekanan darah dan nadi (R/ mengetahui KU pasien terhadap nyeri yang di
rasakan), anjurkan pada pasien untuk bergerak secara perlahan-lahan saat
mengubah posisi (R/ meningkatkan kenyamanan pasien dalam melakukan gerakan
ringan), berikan analgesik oral sesuai advis dokter asam mefenamat 3x500mg(R/
mengurangi nyeri pasien).
Diagnosa kedua ketidak efektifan
menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu setelah di lakukan
tindakan 2 x 7 jam di harapkan putting dapat erektil, produksi ASI maksimal,
bayi dapat minum ASI secara terus menerus. Intervensi dan rasionalnya kaji
payudara (R/ untuk menegtahui menojolnya papilla mamae), ajarkan breascare (R/
untuk memperlancar ASI agar keluar), berikan penyuluhan kesehatan tentang ASI
eksklusif dan tehnik menyusui yang benar (R/ untuk mengetahui manfaat ASI
ekssklusif dan tehnik menyusui yang benar), dorong ibu untuk mengungkapkan
masalah secara terbuka seperti pengetahuan cara menyusui (R/ mengetahui masalah
ibu dan memberikan masukan untuk ibu memulai proses menyusui), beri informasi
keuntungan menyusui (R/ menyusui dapat menghindari payudara dari penyakit
kanker).
Diagnosa
ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entri kuman patogen setelah di
lakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan tidak terjadi infeksi selama
perdaraha dan pada luka operasi. Intervensi dan rasionalnya, kaji kondisi
keluaran pus(warna, jumlah, dan bau (R/ perubahan yang terjadi pada setiap pus
yang keluar, adanya warna yang lebih gelap disertai bau yang tidak enak mungkin
terjadi tanda infeksi), gunakan aseptik setiap ingin melakukan tindakan (R/
mencegah organisme yang masuk ke dalam tubuh), terangkan pada pasien pentingnya
perawatan luka post operasi (R/ infeksi dapat timbul karena kurangnya
kebersihan luka), lakukan perawatan luka jahitan adakah rembesan atau tidak
pada balutan (R/ inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi),
terangkan pada pasien cara mengidentifikasi tanda infeksi (R/ demam dan rasa
nyeri mungkin gejala infeksi), anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan
makanan, tingkatkan kalori dan protein (R/ kalori dan protein akan cepat
meningkatkan proses penyembuhan luka).
Diagnosa
terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik setelah
dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan pasien dapat melakukan ADL
secara mandiri, pasien dapat toleran dengan aktivitasnya. Intervensi dan
rasionalnya kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (R/ untuk mengetahui aktivitas yang bisa dilakukan oleh
pasien, ajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi (R/ apabila pasien tidak
melakukan aktivitas akan mengakibatkan kerusakan kulit), rencanakan kegiatan
yang akan dilakukan untuk memulai aktivitas (R/ memberikan rencana aktivitas
secara bertahap mulai gerak dari tempat tidur sampai turun dari tempat tidur),
bantu dalam memenuhi ADL (R/ membantu memenuhi kebutuhan ADL pasien), ajarkan
pada pasien ambulasi dini secara bertahap (R/ membantu memotivasi pasien untuk
beraktivitas sedikit demi sedikit secara perlahan), dorong pasien untuk tidak
takut dalam beraktivitas (R/ memberikan semangat pada pasien untuk aktivitas
secara mandiri).
E. Implementasi
Implementasi
pada hari selasa tanggal 19 Juni 2012 jam 07.45 – 13.30 WIB. Diagnosa pertama
dilakukan mengkaji karakteristik nyeri: keluhan nyeri, lokasi, frekuensi,
durasi dan intensitas nyeri, (respon pasien nyeri di bagian perut bawah, nyeri
seperti di sayat-sayat, nyeri bertambah saat pasien bergerak, skala nyeri 5
muncul sewaktu-waktu, dan data obyektifnya pasien terlihat kesakitan saat
bergerak). Mengajarkan tehnik napas dalam saat nyeri muncul, (respon pasien
mengatakan lebih rileks dan nyaman). Monitor tanda-tanda vital didapatkan data
tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C,
memberikan obat oral cefadroxin 500 mg, asam mefenamat 500 mg, vit A dan C 1
tablet, (respon pasien terlihat kooperatif).
Diagnosa kedua di lakukan mengkaji
kondisi payudara pasien, (respon pasien mengatakan ASI belum keluar dan data
obyektifnya ASI keluar saat di tekan). Memberikan penyuluhan kesehatan tentang
ASI eksklusif dan cara menyusui yang benar, (respon pasien terlihat
kooperatif). Mengajarkan cara menyusui yang benar, (respon pasien mengatakan
bersedia di ajarkan tehnik menyusui yang benar dan pasien terlihat sudah mulai
paham cara menyusui yang benar).Menganjurkan pada pasien untuk mengkaji keadaan
putting sebelum dan sesudah menyusui. Mengajarkan breastcare perawatan payudara pada pasien, (respon pasien
mengatakan bersedia diajarkan breastcare dan
pasien terlihat kooperatif).
Diagnosa ketiga di lakukan mengkaji
keadaan luka, (respon pasien mengatakan luka sakit saat ditekan/bergerak).
Menerangkan pada pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi, (respon
pasien mengatakan tidak tahu tanda-tanda infeksi dan pasien terlihat mengerti
setelah diterangkan tanda-tanda infeksi). Mengkaji jumlah lokhea dan bau,
(respon pasien dari data obyektif bau tidak menyengat dan jumlahnya ±200 cc).
Mengkaji balutan abdominalis terhadap eksudat, adanya rembesan di balutan,
(respon pasien pasien mengatakan saat mandi berhati-hati agar balutan tidak
basah dan balutan terlihat kering tidak basah dan tidak ngrembes).
Diagnosa keempat di lakukan mengajarkan
pasien tentang perlunya mobilisasi dini (miring ke kanan dan ke kanan dan ke
kiri), (respon pasien mengatakan dapat miring kanan dan kiri dan pasien
terlihat melakukan miring kanan dan kiri secara perlahan). Mengajarkan pada
pasien untuk aktivitas turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan
dengan bantuan minimal, (respon pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur
dan berjalan secara perlahan-lahan dan pasien terlihat berjalan dan turun dari
tempat tidur secara perlahan dengan dibantu suaminya). Dorong partisipasi
pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan individu, (respon pasien
mengatakan bisa jalan secara perlahan dan pasien terlihat berjalan perlahan ke
ruang perinatologi dengan dibantu suaminya untuk memberikan ASI pada bayinya).
Hari ke dua tanggal 20 Juni 2012
dari jam 08.00 sampai 09.50 WIB. Untuk diagnosa pertama di lakukan memonitor
TTV, (respon pasien bersedia di lakukan TTV dan obyektifnya tekan darah 120/80
mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,20C). Mengkaji tingkat karakteristik
nyeri, (respon pasien mengatakan nyeri saat berjalan (P), nyeri seperti
disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah luka operasi (R), skala nyeri 2 (S), nyeri
saat berjalan (T).
Diagnosa kedua dilakukan
menganjurkan pasien untuk makan yang banyak protein dan banyak makanan yang
bergizi, (respon pasien mengatakan makan makanan yang diberikan dari rumah
sakit dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat). Memantau klien melakukan
tehnik menyusui dengan benar, (respon pasien mengatakan sudah mulai bisa
menyusui dengan benar dan pasien tampak rileks saat menyusui). Menganjurkan
klien untuk memperhatikan keadaan putingnya setiap akan menyusui dan sesudah
menyusui, (respon pasien mengatakan akan berhati-hati pada saat menyusui dan
pasien terlihat mendengarkan anjuran perawat). Menganjurkan klien untuk
menyendawakan bayinya setelah menyusui, (respon pasien tampak menyendawakan
bayinya setelah menyusui). Menganjurkan klien untuk melakukan breascare secara
mandiri, (respon pasien mengatakan akan melakukan breascare secara mandiri di rumah dan pasien terlihat mengerti
anjuran perawat).
F. Evaluasi
Evaluasi yang didapat pada tanggal 19 Juni 2012 dari
implementasi yang sudah di lakukan pada diagnos pertama gangguan rasa nyaman
nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas
jaringan sbagai berikut: dari data subyektif pasien nyeri saat ditekan dan akan
duduk (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah perut terumam
pada luka jahitan (R), skala nyeri 4 (S), nyeri muncul saat bergerak dan berjalan
(T), data obyektif pasien tampak
kesakitan, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36 0C,
maka masalah nyeri teratasi sebagian menjadi 4, rencana tindak lanjutnya kaji
tingkatan rasa nyaman nyeri, monitor TTV, anjurkan pasien untuk relaksasi nafas
dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan dan
lanjutkan pemberian analgesik asam mefenamat 3x500 mg, vitamin B complex 1x1
tablet, vitamin A dan C 1x1 tablet sesuai advis dokter agar nyeri dapat di
tolerir oleh pasien.
Diagnosa kedua ketidakefektifan menyusui berhubungan
dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut dari data subyektif pasien
mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan, pasien mengatakan bersedia
menerapkan tehnik menyusui yang benar, data obyektif pasien terlihat bingung
memposisikan bayinya dan paham dengan informasi yang diberikan, maka masalah
ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan
pasien untuk breastcare secara
mandiri, beri informasi keuntungan menyusui, anjurkan pasien untuk mengkaji
putting sebelum dan sesudah menyusui.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan
port de entry kuman patogen sebagai berikut dari data subyektif pasien
mengatakan selalu berhati-hati dalam menjaga balutan luka agar tidak ngrembes
dan basah pada saat mandi, data obyektif
balutan luka kering tidak ada rembesan, maka masalah resiko tinggi
infeksi teratasi sebagian (tidak ada pus ataupun rembesan pada balutan),
rencana tindak lanjutnya kaji kondisi keluaran pus (warna, jumlah dan bau),
lakukan perawatan luka, anjurkan pasien untuk mengidentifikasi tanda infeksi,
anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan dalam makanan.
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik sebagai berikut data subyektif pasien mengatakan dapat
turun dari tempat tidur dan makan minum secara mandiri, pasien mengatakan dapat
berjalan ke ruang perinatologi melihat bayinya dengan dibantu suaminya, dan
data obyektifnya pasien terlihat mandiri meskipun dilakukan secara perlahan
dengan bantuan minimal, maka masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi
sebagian, rencana tindak lanjutnya mengkaji kemampuan aktivitas pasien, bantu
memenuhi kebutuhan dasar pasien,
motivasi pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
Evaluasi yang didapat pada tanggal 20 Juni 2012 dari
implementasi yang sudah di lakukan pada diagnosa yang pertama nyeri berhubungan
dengan trauma pmebedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sebagai berikut
dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka operasi (P), nyeri
seperti di sayat-sayat, pada perut terutama pada luka jahitan (R), skala nyeri
2 (S), nyeri muncul saat berjalan (T), pasien tampak rileks dan kuat berjalan,
pasien di ijinkan pulang, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, pernapasan
20 x/menit, suhu 36,2 0C, maka masalah nyeri dapat teratasi menjadi
2, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk tehnik nafas dalam saat nyeri
muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan.
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan
dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut data subyektif pasien
mengtakan ASI sudah keluar tapi belum lancar, pasien pasien sudah bisa menyusui
dengan tehnik yang benar, dan data obyektifnya pasien tampak rileks dan nyaman
pada saat menyusui, maka masalah ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak
lanjut anjurkan pasien untuk breastcare atau perawatan payudara secara mandiri
di rumah.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan
port de entry kuman patogen sebagai berikut data obyektif luka jahitan bersih,
tidak ada pus, jahitan menyatu tidak ada yang membuka, diameter jahitan ±15 cm,
maka masalah resiko infeksi teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya
anjurkan pasien untuk menghabiskan obat sesuai advis dokter, anjurkan pasien
untuk tidak pantangan makanan, gunakan tehnik aseptic setiap ingin melakukan
tindakan, lakukan perawatan luka jahit (control kembali sealama 1 minggu).
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik. Data subyektif pasien mengatakan sudah bisa
beraktivitas dengan mandiri secara perlahan, data obyektif pasien terlihat
mandiri dalam beraktivitas seperti ke kamar mandi maupun berjalan, maka masalah
intoleransi aktivitas teratasi.
BAB
III
TINJAUAN
KASUS
A. Pengkajian
1. Biodata
dan penanggung jawab pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal
19 Juni 2012, jam 07.30 WIB data yang didapat:
Nama
: Ny. S
Umur
: 25 tahun
Alamat
: Jl. Anyar Beringin
No.
RM : 287152
Pasien dirawat di ruang Bougenville
dengan post operasi seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan, pasien masuk
rumah sakit pada tanggal 16 Juni 2012 , penanggung jawab pasien adalah suaminya
yang bernama Tn. E yang berumur 27 tahun.
2. Riwayat
kesehatan
a. Keluhan
utama
Pasien mengeluh nyeri pada luka
operasi.
b. Status
obstetrik
Pasien nifas hari ke-2 dengan riwayat P1A1.
Tipe persalinan seksio sesaria berat badan bayi 2800 gr, umur bayi 2
hari, bayi menangis spontan, tidak ada komplikasi nifas.
c. Masalah
kehamilan sekarang
Pada usia kehamilan 40 minggu 1
hari pasien mengatakan kenceng-kenceng, keluar lender darah, pasien mengatakan
pada saat itu langsung periksa ke bidan kemudian oleh bidan klien di rujuk untuk
melakukan persalinan di rumah sakit karena tekanan darah pasien 150/80 mmHg
kemudian pasien di bawa ke ruang Bougenville.
d. Riwayat
persalinan sekarang
Pasien mengatakan haid terakhir HPHt: 13-9-2011 dan
HPL: 10-6-2012. Riwayat obstetric G2P0A1, kerana tekanan darah pasien tinggi
mak pasien di lakukan persalinan seksio sesaria pada tanggal 17 Juni 2012 jam
7.45 WIB di ruang IBS atau ruang operasi.
e. Riwayat
KB
Pasien mengatakan sebelumnya belum pernah KB
f. Rencana
KB
Pasien mengatakan setelah persalinan anaknya akan
melakukan KB suntik 3 bulan atau spiral.
3. Kebutuhan
dasar khusus
a. Pola
nutrisi
Sebelum
sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari (nasi, lauk sayur, tahu tempe, ikan
dan buah-buahan) minum 6 gelas air putih per har, BB: 85 kg, TB: 155 cm.
Selama sakit pasien mengatakan
makan 3 x sehari selalu di habiskan dengan lauk pauk yang diberikan dari rumah
sakit. Pasien mengatakan tidak ada
pantangan dalam makan karena pasien ingin cepat sembuh, BB: 82 kg, TB: 155 cm.
b. Pola
eliminasi
Sebelum sakit pasien mengatakan BAB
1 x sehari (karakteristik konsisten lembek, bau khas, warna kuning), BAK 4-5 x
sehari.
Selama sakit pasien belum pernah
BAB selama setelah di lakukan operasi seksio sesaria, BAK hanya seklai saat
mandi.
c. Pola
persepsi sensori dan kognitif
Sebelum sakit pasien mengatakan
tidak ada gangguan pendengaran maupun penglihatan
Selama sakit pasien tampak meringis
kesakitan saat bergerak.
Pasien mengatkan:
P =
nyeri saat di tekan
Q = nyeri sperti di sayat-sayat
R = nyeri pada daerah perut bagian
bawah luka operasi
S = skala nyeri 5
T = nyeri saat bergerak dan
berjalan
d. Pola
aktivitas dan latihan
Seblum sakit pasien mengatakan
melakukan aktivitas dengan baik dan mandiri.
Selama sakit pasien mengatkanklien
mengtakan sulit untuk bergerak, pasien hanya bisa bangun duduk dari tempat
tidur.
|
|
Mandiri
|
Bantuan
Minimal
|
Bantuan
total
|
|
Bathing
|
-
|
-
|
√
|
|
Dressing
|
-
|
-
|
√
|
|
Toileting
|
-
|
-
|
√
|
|
Transferring
|
-
|
√
|
-
|
|
Continent
|
-
|
-
|
√
|
|
Feeding
|
-
|
√
|
-
|
Indeks Katz: C (pasien dapan melakukan aktivitas dengan bantuan minimal
atau alat dua)
e. Pola
persepsi dan konsep diri
1) Citra diri
Pasien mengatkan tetap bersyukur dengan
kondisi tubuhnya.
2) Identitas diri
Pasien mengatakan dirinya seorang
perempuan dan sudah menikah
3)
Peran diri
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga,
yang sudah mempunyai 1 orang anak peempuan yang baru lahir.
4)
Ideal diri
Pasien berharap ingin cepat sembuh dan
bisa berkumpul dengan keluarga
5)
Harga diri
Pasien merasa tidak malu dengan
kondisi fisiknya yang gemuk.
f. Pola
mekanisme koping
Pasien mengatakan apabila ada
masalah selalu diseleseikan dengan baik dan di musyawarahkan dengan suaminya.
4. Pemeriksaan
fisik dan TTV
Keadaan umum: baik, tingkat
kesadran: composmentis, tanda-tanda vital: tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 360
C, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit.
a. Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik, simetris, pupil isokor.
b. Mulut
Mukosa bibir lembab, tidak ada
caries gigi maupun gigi palsu, tidak ada sianosis.
c. Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar
tyroid.
d. Dada
Pasien mengatakan mammae tidak
membengkak, areolla mammae hitam, papilla mammae kedalam (inverted), ASI keluar
sedikit bila di tekan.
e.
Paru
Inspeksi : pengembangan paru kanan = kiri
Palpasi : paru kanan kiri simetris
Perkusi : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan
f. Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis
teraba di LMCS intercosta IV-V
Perkusi : pekak di area jantung
Auskultasi : bunyi jantung I dan II murni
g. Abdomen
Inspeksi : perut tidak distensi, striae tidak
ada, terdapat luka sayatan ±15 cm.
Auskutasi : bising usus 10x/menit
Palpasi : ada nyeri tekan
Perkusi : tympani
TFU 2 jari di bawah umbilikus,
kontraksi kuat
h. Perineum
dan vulva
Tidak dilakukan episiotomi, lokhea
rubra berwarna merah, bau seperti menstruasi amis, banyaknya lokhea ± 200cc.
i.
Rektum
Tidak ada hemoroid
j.
Ekstremitas
Atas: tidak ada edema, tidak
terpasang infus (infus sudah di lepas)
Bawah: tidak ada edema, tidak ada
varises, CRT < 3 detik, reflek patella positif, tidak ada tanda homan.
k. Integument
Turgor kulit elastik, warna kulit
sawo matang dan bersih.
5. Data
penunjang
a. Terapi
Terapi yang di dapat: cefadroxyl 3
x 500 mg, asam mefenamat 3 x 500 mg, vitamin B Complexs 1 x1 tablet, sero
sulfat 1 x 1 tablet, vitamin A dan C 1 x 1 tablet.
b. Pemeriksaan
laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada
tanggal 17 Juni 2012 yaitu: leukosit 15,21 ribu/ul, Eritrosit 4,78 ribu/ul,
trombosit 296 ribu/ul, hematokrit 37,20%, hemoglobin 12,30 g/dl.
c. Diet:
Nasi tinggi kalori tinggi protein.
B. Analisa data
Data
yang di dapat pada Ny. S tanggal 19 Juni 2012 dari data subyektif pasien
mengatakan nyeri pada saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri tersa di
sayat-sayat (Q), nyeri di daerah perut bagian bawah pada luka operasi (R),
skala nyeri 5 (S), nyeri saat bergerak (T), dan obyektifnya klien terlihat
kesakitan dan memegangi perutnya, tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan
20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, muncul masalah gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputtusnya kontinuitas
jaringan.
Data
kedua sebagai berikut data subyektif klien mengatakan ASI keluar sedikit saat
di tekan dan klien mengatakan belum mengetahui cara menyusui yang benar dan
data obyektif yang di dapat adalah papilla mammae ke dalam atau inverted, bayi
di ruang perinatologi, muncul masalah dengan ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik
payudara ibu.
Data
yang ketiga sebagai berikut data obyektif yang di dapat pada abdomen tampak ada
luka jahitan dengan diameter ± 15 cm, balutan pada luka tampak bersih tidak ada
rembesan, lekosit 15,21 ribu/ul dan suhu 36 0C, muncul masalah
dengan risiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen.
Data
ke empat sebagai berikut data subyektif klien mengatakan sulit
bergerak/berjalan, klien mengatakan hanya bisa miring ke kanan dan ke kiri
secara perlahan dan data obyektif yang di dapat adalah klien di bantu suaminya
saat akan melakukan aktivitas ke kamar mandi dan aktivitas lainnya, muncul
masalah dengan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
C. Diagnosa keperawatan
Data
yang sudah ada dapat disimpulkan bahwa untuk prioritas utama adalah nyeri
berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan,
ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik fisik payudara ibu,
dan selanjutnya resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen,
yang terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
D. Intervensi keperawatan
Rencana
atau intervensi keperawatan pada diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan trauma pembedahan atau dikontinuitas jaringan tujuannya
setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam diharapkan nyeri dapat
teratasi dengan kriteria hasil pasien tampak rileks atau nyaman, skala nyeri 5
menjadi 2. Intervensi dan rasionalnya sebagai berikut: kaji karakteristik dan
lokasi nyeri (R/ untuk mengetahui karakteristik nyeri, lokasi dan tingkatan
nyeri yang di rasakan pasien, ajarkan tehnik relaksasi napas dalam (R/ untuk mngurangi nyeri pada pasien), monitor
tekanan darah dan nadi (R/ mengetahui KU pasien terhadap nyeri yang di
rasakan), anjurkan pada pasien untuk bergerak secara perlahan-lahan saat
mengubah posisi (R/ meningkatkan kenyamanan pasien dalam melakukan gerakan
ringan), berikan analgesik oral sesuai advis dokter asam mefenamat 3x500mg(R/
mengurangi nyeri pasien).
Diagnosa kedua ketidak efektifan
menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu setelah di lakukan
tindakan 2 x 7 jam di harapkan putting dapat erektil, produksi ASI maksimal,
bayi dapat minum ASI secara terus menerus. Intervensi dan rasionalnya kaji
payudara (R/ untuk menegtahui menojolnya papilla mamae), ajarkan breascare (R/
untuk memperlancar ASI agar keluar), berikan penyuluhan kesehatan tentang ASI
eksklusif dan tehnik menyusui yang benar (R/ untuk mengetahui manfaat ASI
ekssklusif dan tehnik menyusui yang benar), dorong ibu untuk mengungkapkan
masalah secara terbuka seperti pengetahuan cara menyusui (R/ mengetahui masalah
ibu dan memberikan masukan untuk ibu memulai proses menyusui), beri informasi
keuntungan menyusui (R/ menyusui dapat menghindari payudara dari penyakit
kanker).
Diagnosa
ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entri kuman patogen setelah di
lakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan tidak terjadi infeksi selama
perdaraha dan pada luka operasi. Intervensi dan rasionalnya, kaji kondisi
keluaran pus(warna, jumlah, dan bau (R/ perubahan yang terjadi pada setiap pus
yang keluar, adanya warna yang lebih gelap disertai bau yang tidak enak mungkin
terjadi tanda infeksi), gunakan aseptik setiap ingin melakukan tindakan (R/
mencegah organisme yang masuk ke dalam tubuh), terangkan pada pasien pentingnya
perawatan luka post operasi (R/ infeksi dapat timbul karena kurangnya
kebersihan luka), lakukan perawatan luka jahitan adakah rembesan atau tidak
pada balutan (R/ inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi),
terangkan pada pasien cara mengidentifikasi tanda infeksi (R/ demam dan rasa
nyeri mungkin gejala infeksi), anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan
makanan, tingkatkan kalori dan protein (R/ kalori dan protein akan cepat
meningkatkan proses penyembuhan luka).
Diagnosa
terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik setelah
dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan pasien dapat melakukan ADL
secara mandiri, pasien dapat toleran dengan aktivitasnya. Intervensi dan
rasionalnya kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (R/ untuk mengetahui aktivitas yang bisa dilakukan oleh
pasien, ajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi (R/ apabila pasien tidak
melakukan aktivitas akan mengakibatkan kerusakan kulit), rencanakan kegiatan
yang akan dilakukan untuk memulai aktivitas (R/ memberikan rencana aktivitas
secara bertahap mulai gerak dari tempat tidur sampai turun dari tempat tidur),
bantu dalam memenuhi ADL (R/ membantu memenuhi kebutuhan ADL pasien), ajarkan
pada pasien ambulasi dini secara bertahap (R/ membantu memotivasi pasien untuk
beraktivitas sedikit demi sedikit secara perlahan), dorong pasien untuk tidak
takut dalam beraktivitas (R/ memberikan semangat pada pasien untuk aktivitas
secara mandiri).
E. Implementasi
Implementasi
pada hari selasa tanggal 19 Juni 2012 jam 07.45 – 13.30 WIB. Diagnosa pertama
dilakukan mengkaji karakteristik nyeri: keluhan nyeri, lokasi, frekuensi,
durasi dan intensitas nyeri, (respon pasien nyeri di bagian perut bawah, nyeri
seperti di sayat-sayat, nyeri bertambah saat pasien bergerak, skala nyeri 5
muncul sewaktu-waktu, dan data obyektifnya pasien terlihat kesakitan saat
bergerak). Mengajarkan tehnik napas dalam saat nyeri muncul, (respon pasien
mengatakan lebih rileks dan nyaman). Monitor tanda-tanda vital didapatkan data
tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C,
memberikan obat oral cefadroxin 500 mg, asam mefenamat 500 mg, vit A dan C 1
tablet, (respon pasien terlihat kooperatif).
Diagnosa kedua di lakukan mengkaji
kondisi payudara pasien, (respon pasien mengatakan ASI belum keluar dan data
obyektifnya ASI keluar saat di tekan). Memberikan penyuluhan kesehatan tentang
ASI eksklusif dan cara menyusui yang benar, (respon pasien terlihat
kooperatif). Mengajarkan cara menyusui yang benar, (respon pasien mengatakan
bersedia di ajarkan tehnik menyusui yang benar dan pasien terlihat sudah mulai
paham cara menyusui yang benar).Menganjurkan pada pasien untuk mengkaji keadaan
putting sebelum dan sesudah menyusui. Mengajarkan breastcare perawatan payudara pada pasien, (respon pasien
mengatakan bersedia diajarkan breastcare dan
pasien terlihat kooperatif).
Diagnosa ketiga di lakukan mengkaji
keadaan luka, (respon pasien mengatakan luka sakit saat ditekan/bergerak).
Menerangkan pada pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi, (respon
pasien mengatakan tidak tahu tanda-tanda infeksi dan pasien terlihat mengerti
setelah diterangkan tanda-tanda infeksi). Mengkaji jumlah lokhea dan bau,
(respon pasien dari data obyektif bau tidak menyengat dan jumlahnya ±200 cc).
Mengkaji balutan abdominalis terhadap eksudat, adanya rembesan di balutan,
(respon pasien pasien mengatakan saat mandi berhati-hati agar balutan tidak
basah dan balutan terlihat kering tidak basah dan tidak ngrembes).
Diagnosa keempat di lakukan mengajarkan
pasien tentang perlunya mobilisasi dini (miring ke kanan dan ke kanan dan ke
kiri), (respon pasien mengatakan dapat miring kanan dan kiri dan pasien
terlihat melakukan miring kanan dan kiri secara perlahan). Mengajarkan pada
pasien untuk aktivitas turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan
dengan bantuan minimal, (respon pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur
dan berjalan secara perlahan-lahan dan pasien terlihat berjalan dan turun dari
tempat tidur secara perlahan dengan dibantu suaminya). Dorong partisipasi
pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan individu, (respon pasien
mengatakan bisa jalan secara perlahan dan pasien terlihat berjalan perlahan ke
ruang perinatologi dengan dibantu suaminya untuk memberikan ASI pada bayinya).
Hari ke dua tanggal 20 Juni 2012
dari jam 08.00 sampai 09.50 WIB. Untuk diagnosa pertama di lakukan memonitor
TTV, (respon pasien bersedia di lakukan TTV dan obyektifnya tekan darah 120/80
mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,20C). Mengkaji tingkat karakteristik
nyeri, (respon pasien mengatakan nyeri saat berjalan (P), nyeri seperti
disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah luka operasi (R), skala nyeri 2 (S), nyeri
saat berjalan (T).
Diagnosa kedua dilakukan
menganjurkan pasien untuk makan yang banyak protein dan banyak makanan yang
bergizi, (respon pasien mengatakan makan makanan yang diberikan dari rumah
sakit dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat). Memantau klien melakukan
tehnik menyusui dengan benar, (respon pasien mengatakan sudah mulai bisa
menyusui dengan benar dan pasien tampak rileks saat menyusui). Menganjurkan
klien untuk memperhatikan keadaan putingnya setiap akan menyusui dan sesudah
menyusui, (respon pasien mengatakan akan berhati-hati pada saat menyusui dan
pasien terlihat mendengarkan anjuran perawat). Menganjurkan klien untuk
menyendawakan bayinya setelah menyusui, (respon pasien tampak menyendawakan
bayinya setelah menyusui). Menganjurkan klien untuk melakukan breascare secara
mandiri, (respon pasien mengatakan akan melakukan breascare secara mandiri di rumah dan pasien terlihat mengerti
anjuran perawat).
F. Evaluasi
Evaluasi yang didapat pada tanggal 19 Juni 2012 dari
implementasi yang sudah di lakukan pada diagnos pertama gangguan rasa nyaman
nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas
jaringan sbagai berikut: dari data subyektif pasien nyeri saat ditekan dan akan
duduk (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah perut terumam
pada luka jahitan (R), skala nyeri 4 (S), nyeri muncul saat bergerak dan berjalan
(T), data obyektif pasien tampak
kesakitan, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36 0C,
maka masalah nyeri teratasi sebagian menjadi 4, rencana tindak lanjutnya kaji
tingkatan rasa nyaman nyeri, monitor TTV, anjurkan pasien untuk relaksasi nafas
dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan dan
lanjutkan pemberian analgesik asam mefenamat 3x500 mg, vitamin B complex 1x1
tablet, vitamin A dan C 1x1 tablet sesuai advis dokter agar nyeri dapat di
tolerir oleh pasien.
Diagnosa kedua ketidakefektifan menyusui berhubungan
dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut dari data subyektif pasien
mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan, pasien mengatakan bersedia
menerapkan tehnik menyusui yang benar, data obyektif pasien terlihat bingung
memposisikan bayinya dan paham dengan informasi yang diberikan, maka masalah
ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan
pasien untuk breastcare secara
mandiri, beri informasi keuntungan menyusui, anjurkan pasien untuk mengkaji
putting sebelum dan sesudah menyusui.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan
port de entry kuman patogen sebagai berikut dari data subyektif pasien
mengatakan selalu berhati-hati dalam menjaga balutan luka agar tidak ngrembes
dan basah pada saat mandi, data obyektif
balutan luka kering tidak ada rembesan, maka masalah resiko tinggi
infeksi teratasi sebagian (tidak ada pus ataupun rembesan pada balutan),
rencana tindak lanjutnya kaji kondisi keluaran pus (warna, jumlah dan bau),
lakukan perawatan luka, anjurkan pasien untuk mengidentifikasi tanda infeksi,
anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan dalam makanan.
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik sebagai berikut data subyektif pasien mengatakan dapat
turun dari tempat tidur dan makan minum secara mandiri, pasien mengatakan dapat
berjalan ke ruang perinatologi melihat bayinya dengan dibantu suaminya, dan
data obyektifnya pasien terlihat mandiri meskipun dilakukan secara perlahan
dengan bantuan minimal, maka masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi
sebagian, rencana tindak lanjutnya mengkaji kemampuan aktivitas pasien, bantu
memenuhi kebutuhan dasar pasien,
motivasi pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
Evaluasi yang didapat pada tanggal 20 Juni 2012 dari
implementasi yang sudah di lakukan pada diagnosa yang pertama nyeri berhubungan
dengan trauma pmebedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sebagai berikut
dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka operasi (P), nyeri
seperti di sayat-sayat, pada perut terutama pada luka jahitan (R), skala nyeri
2 (S), nyeri muncul saat berjalan (T), pasien tampak rileks dan kuat berjalan,
pasien di ijinkan pulang, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, pernapasan
20 x/menit, suhu 36,2 0C, maka masalah nyeri dapat teratasi menjadi
2, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk tehnik nafas dalam saat nyeri
muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan.
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan
dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut data subyektif pasien
mengtakan ASI sudah keluar tapi belum lancar, pasien pasien sudah bisa menyusui
dengan tehnik yang benar, dan data obyektifnya pasien tampak rileks dan nyaman
pada saat menyusui, maka masalah ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak
lanjut anjurkan pasien untuk breastcare atau perawatan payudara secara mandiri
di rumah.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan
port de entry kuman patogen sebagai berikut data obyektif luka jahitan bersih,
tidak ada pus, jahitan menyatu tidak ada yang membuka, diameter jahitan ±15 cm,
maka masalah resiko infeksi teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya
anjurkan pasien untuk menghabiskan obat sesuai advis dokter, anjurkan pasien
untuk tidak pantangan makanan, gunakan tehnik aseptic setiap ingin melakukan
tindakan, lakukan perawatan luka jahit (control kembali sealama 1 minggu).
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik. Data subyektif pasien mengatakan sudah bisa
beraktivitas dengan mandiri secara perlahan, data obyektif pasien terlihat
mandiri dalam beraktivitas seperti ke kamar mandi maupun berjalan, maka masalah
intoleransi aktivitas teratasi.
BAB
III
TINJAUAN
KASUS
A. Pengkajian
1. Biodata
dan penanggung jawab pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal
19 Juni 2012, jam 07.30 WIB data yang didapat:
Nama
: Ny. S
Umur
: 25 tahun
Alamat
: Jl. Anyar Beringin
No.
RM : 287152
Pasien dirawat di ruang Bougenville
dengan post operasi seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan, pasien masuk
rumah sakit pada tanggal 16 Juni 2012 , penanggung jawab pasien adalah suaminya
yang bernama Tn. E yang berumur 27 tahun.
2. Riwayat
kesehatan
a. Keluhan
utama
Pasien mengeluh nyeri pada luka
operasi.
b. Status
obstetrik
Pasien nifas hari ke-2 dengan riwayat P1A1.
Tipe persalinan seksio sesaria berat badan bayi 2800 gr, umur bayi 2
hari, bayi menangis spontan, tidak ada komplikasi nifas.
c. Masalah
kehamilan sekarang
Pada usia kehamilan 40 minggu 1
hari pasien mengatakan kenceng-kenceng, keluar lender darah, pasien mengatakan
pada saat itu langsung periksa ke bidan kemudian oleh bidan klien di rujuk untuk
melakukan persalinan di rumah sakit karena tekanan darah pasien 150/80 mmHg
kemudian pasien di bawa ke ruang Bougenville.
d. Riwayat
persalinan sekarang
Pasien mengatakan haid terakhir HPHt: 13-9-2011 dan
HPL: 10-6-2012. Riwayat obstetric G2P0A1, kerana tekanan darah pasien tinggi
mak pasien di lakukan persalinan seksio sesaria pada tanggal 17 Juni 2012 jam
7.45 WIB di ruang IBS atau ruang operasi.
e. Riwayat
KB
Pasien mengatakan sebelumnya belum pernah KB
f. Rencana
KB
Pasien mengatakan setelah persalinan anaknya akan
melakukan KB suntik 3 bulan atau spiral.
3. Kebutuhan
dasar khusus
a. Pola
nutrisi
Sebelum
sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari (nasi, lauk sayur, tahu tempe, ikan
dan buah-buahan) minum 6 gelas air putih per har, BB: 85 kg, TB: 155 cm.
Selama sakit pasien mengatakan
makan 3 x sehari selalu di habiskan dengan lauk pauk yang diberikan dari rumah
sakit. Pasien mengatakan tidak ada
pantangan dalam makan karena pasien ingin cepat sembuh, BB: 82 kg, TB: 155 cm.
b. Pola
eliminasi
Sebelum sakit pasien mengatakan BAB
1 x sehari (karakteristik konsisten lembek, bau khas, warna kuning), BAK 4-5 x
sehari.
Selama sakit pasien belum pernah
BAB selama setelah di lakukan operasi seksio sesaria, BAK hanya seklai saat
mandi.
c. Pola
persepsi sensori dan kognitif
Sebelum sakit pasien mengatakan
tidak ada gangguan pendengaran maupun penglihatan
Selama sakit pasien tampak meringis
kesakitan saat bergerak.
Pasien mengatkan:
P =
nyeri saat di tekan
Q = nyeri sperti di sayat-sayat
R = nyeri pada daerah perut bagian
bawah luka operasi
S = skala nyeri 5
T = nyeri saat bergerak dan
berjalan
d. Pola
aktivitas dan latihan
Seblum sakit pasien mengatakan
melakukan aktivitas dengan baik dan mandiri.
Selama sakit pasien mengatkanklien
mengtakan sulit untuk bergerak, pasien hanya bisa bangun duduk dari tempat
tidur.
|
|
Mandiri
|
Bantuan
Minimal
|
Bantuan
total
|
|
Bathing
|
-
|
-
|
√
|
|
Dressing
|
-
|
-
|
√
|
|
Toileting
|
-
|
-
|
√
|
|
Transferring
|
-
|
√
|
-
|
|
Continent
|
-
|
-
|
√
|
|
Feeding
|
-
|
√
|
-
|
Indeks Katz: C (pasien dapan melakukan aktivitas dengan bantuan minimal
atau alat dua)
e. Pola
persepsi dan konsep diri
1) Citra diri
Pasien mengatkan tetap bersyukur dengan
kondisi tubuhnya.
2) Identitas diri
Pasien mengatakan dirinya seorang
perempuan dan sudah menikah
3)
Peran diri
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga,
yang sudah mempunyai 1 orang anak peempuan yang baru lahir.
4)
Ideal diri
Pasien berharap ingin cepat sembuh dan
bisa berkumpul dengan keluarga
5)
Harga diri
Pasien merasa tidak malu dengan
kondisi fisiknya yang gemuk.
f. Pola
mekanisme koping
Pasien mengatakan apabila ada
masalah selalu diseleseikan dengan baik dan di musyawarahkan dengan suaminya.
4. Pemeriksaan
fisik dan TTV
Keadaan umum: baik, tingkat
kesadran: composmentis, tanda-tanda vital: tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 360
C, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit.
a. Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik, simetris, pupil isokor.
b. Mulut
Mukosa bibir lembab, tidak ada
caries gigi maupun gigi palsu, tidak ada sianosis.
c. Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar
tyroid.
d. Dada
Pasien mengatakan mammae tidak
membengkak, areolla mammae hitam, papilla mammae kedalam (inverted), ASI keluar
sedikit bila di tekan.
e.
Paru
Inspeksi : pengembangan paru kanan = kiri
Palpasi : paru kanan kiri simetris
Perkusi : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan
f. Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis
teraba di LMCS intercosta IV-V
Perkusi : pekak di area jantung
Auskultasi : bunyi jantung I dan II murni
g. Abdomen
Inspeksi : perut tidak distensi, striae tidak
ada, terdapat luka sayatan ±15 cm.
Auskutasi : bising usus 10x/menit
Palpasi : ada nyeri tekan
Perkusi : tympani
TFU 2 jari di bawah umbilikus,
kontraksi kuat
h. Perineum
dan vulva
Tidak dilakukan episiotomi, lokhea
rubra berwarna merah, bau seperti menstruasi amis, banyaknya lokhea ± 200cc.
i.
Rektum
Tidak ada hemoroid
j.
Ekstremitas
Atas: tidak ada edema, tidak
terpasang infus (infus sudah di lepas)
Bawah: tidak ada edema, tidak ada
varises, CRT < 3 detik, reflek patella positif, tidak ada tanda homan.
k. Integument
Turgor kulit elastik, warna kulit
sawo matang dan bersih.
5. Data
penunjang
a. Terapi
Terapi yang di dapat: cefadroxyl 3
x 500 mg, asam mefenamat 3 x 500 mg, vitamin B Complexs 1 x1 tablet, sero
sulfat 1 x 1 tablet, vitamin A dan C 1 x 1 tablet.
b. Pemeriksaan
laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada
tanggal 17 Juni 2012 yaitu: leukosit 15,21 ribu/ul, Eritrosit 4,78 ribu/ul,
trombosit 296 ribu/ul, hematokrit 37,20%, hemoglobin 12,30 g/dl.
c. Diet:
Nasi tinggi kalori tinggi protein.
B. Analisa data
Data
yang di dapat pada Ny. S tanggal 19 Juni 2012 dari data subyektif pasien
mengatakan nyeri pada saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri tersa di
sayat-sayat (Q), nyeri di daerah perut bagian bawah pada luka operasi (R),
skala nyeri 5 (S), nyeri saat bergerak (T), dan obyektifnya klien terlihat
kesakitan dan memegangi perutnya, tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan
20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, muncul masalah gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputtusnya kontinuitas
jaringan.
Data
kedua sebagai berikut data subyektif klien mengatakan ASI keluar sedikit saat
di tekan dan klien mengatakan belum mengetahui cara menyusui yang benar dan
data obyektif yang di dapat adalah papilla mammae ke dalam atau inverted, bayi
di ruang perinatologi, muncul masalah dengan ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik
payudara ibu.
Data
yang ketiga sebagai berikut data obyektif yang di dapat pada abdomen tampak ada
luka jahitan dengan diameter ± 15 cm, balutan pada luka tampak bersih tidak ada
rembesan, lekosit 15,21 ribu/ul dan suhu 36 0C, muncul masalah
dengan risiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen.
Data
ke empat sebagai berikut data subyektif klien mengatakan sulit
bergerak/berjalan, klien mengatakan hanya bisa miring ke kanan dan ke kiri
secara perlahan dan data obyektif yang di dapat adalah klien di bantu suaminya
saat akan melakukan aktivitas ke kamar mandi dan aktivitas lainnya, muncul
masalah dengan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
C. Diagnosa keperawatan
Data
yang sudah ada dapat disimpulkan bahwa untuk prioritas utama adalah nyeri
berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan,
ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik fisik payudara ibu,
dan selanjutnya resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen,
yang terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
D. Intervensi keperawatan
Rencana
atau intervensi keperawatan pada diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan trauma pembedahan atau dikontinuitas jaringan tujuannya
setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam diharapkan nyeri dapat
teratasi dengan kriteria hasil pasien tampak rileks atau nyaman, skala nyeri 5
menjadi 2. Intervensi dan rasionalnya sebagai berikut: kaji karakteristik dan
lokasi nyeri (R/ untuk mengetahui karakteristik nyeri, lokasi dan tingkatan
nyeri yang di rasakan pasien, ajarkan tehnik relaksasi napas dalam (R/ untuk mngurangi nyeri pada pasien), monitor
tekanan darah dan nadi (R/ mengetahui KU pasien terhadap nyeri yang di
rasakan), anjurkan pada pasien untuk bergerak secara perlahan-lahan saat
mengubah posisi (R/ meningkatkan kenyamanan pasien dalam melakukan gerakan
ringan), berikan analgesik oral sesuai advis dokter asam mefenamat 3x500mg(R/
mengurangi nyeri pasien).
Diagnosa kedua ketidak efektifan
menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu setelah di lakukan
tindakan 2 x 7 jam di harapkan putting dapat erektil, produksi ASI maksimal,
bayi dapat minum ASI secara terus menerus. Intervensi dan rasionalnya kaji
payudara (R/ untuk menegtahui menojolnya papilla mamae), ajarkan breascare (R/
untuk memperlancar ASI agar keluar), berikan penyuluhan kesehatan tentang ASI
eksklusif dan tehnik menyusui yang benar (R/ untuk mengetahui manfaat ASI
ekssklusif dan tehnik menyusui yang benar), dorong ibu untuk mengungkapkan
masalah secara terbuka seperti pengetahuan cara menyusui (R/ mengetahui masalah
ibu dan memberikan masukan untuk ibu memulai proses menyusui), beri informasi
keuntungan menyusui (R/ menyusui dapat menghindari payudara dari penyakit
kanker).
Diagnosa
ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entri kuman patogen setelah di
lakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan tidak terjadi infeksi selama
perdaraha dan pada luka operasi. Intervensi dan rasionalnya, kaji kondisi
keluaran pus(warna, jumlah, dan bau (R/ perubahan yang terjadi pada setiap pus
yang keluar, adanya warna yang lebih gelap disertai bau yang tidak enak mungkin
terjadi tanda infeksi), gunakan aseptik setiap ingin melakukan tindakan (R/
mencegah organisme yang masuk ke dalam tubuh), terangkan pada pasien pentingnya
perawatan luka post operasi (R/ infeksi dapat timbul karena kurangnya
kebersihan luka), lakukan perawatan luka jahitan adakah rembesan atau tidak
pada balutan (R/ inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi),
terangkan pada pasien cara mengidentifikasi tanda infeksi (R/ demam dan rasa
nyeri mungkin gejala infeksi), anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan
makanan, tingkatkan kalori dan protein (R/ kalori dan protein akan cepat
meningkatkan proses penyembuhan luka).
Diagnosa
terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik setelah
dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan pasien dapat melakukan ADL
secara mandiri, pasien dapat toleran dengan aktivitasnya. Intervensi dan
rasionalnya kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (R/ untuk mengetahui aktivitas yang bisa dilakukan oleh
pasien, ajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi (R/ apabila pasien tidak
melakukan aktivitas akan mengakibatkan kerusakan kulit), rencanakan kegiatan
yang akan dilakukan untuk memulai aktivitas (R/ memberikan rencana aktivitas
secara bertahap mulai gerak dari tempat tidur sampai turun dari tempat tidur),
bantu dalam memenuhi ADL (R/ membantu memenuhi kebutuhan ADL pasien), ajarkan
pada pasien ambulasi dini secara bertahap (R/ membantu memotivasi pasien untuk
beraktivitas sedikit demi sedikit secara perlahan), dorong pasien untuk tidak
takut dalam beraktivitas (R/ memberikan semangat pada pasien untuk aktivitas
secara mandiri).
E. Implementasi
Implementasi
pada hari selasa tanggal 19 Juni 2012 jam 07.45 – 13.30 WIB. Diagnosa pertama
dilakukan mengkaji karakteristik nyeri: keluhan nyeri, lokasi, frekuensi,
durasi dan intensitas nyeri, (respon pasien nyeri di bagian perut bawah, nyeri
seperti di sayat-sayat, nyeri bertambah saat pasien bergerak, skala nyeri 5
muncul sewaktu-waktu, dan data obyektifnya pasien terlihat kesakitan saat
bergerak). Mengajarkan tehnik napas dalam saat nyeri muncul, (respon pasien
mengatakan lebih rileks dan nyaman). Monitor tanda-tanda vital didapatkan data
tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C,
memberikan obat oral cefadroxin 500 mg, asam mefenamat 500 mg, vit A dan C 1
tablet, (respon pasien terlihat kooperatif).
Diagnosa kedua di lakukan mengkaji
kondisi payudara pasien, (respon pasien mengatakan ASI belum keluar dan data
obyektifnya ASI keluar saat di tekan). Memberikan penyuluhan kesehatan tentang
ASI eksklusif dan cara menyusui yang benar, (respon pasien terlihat
kooperatif). Mengajarkan cara menyusui yang benar, (respon pasien mengatakan
bersedia di ajarkan tehnik menyusui yang benar dan pasien terlihat sudah mulai
paham cara menyusui yang benar).Menganjurkan pada pasien untuk mengkaji keadaan
putting sebelum dan sesudah menyusui. Mengajarkan breastcare perawatan payudara pada pasien, (respon pasien
mengatakan bersedia diajarkan breastcare dan
pasien terlihat kooperatif).
Diagnosa ketiga di lakukan mengkaji
keadaan luka, (respon pasien mengatakan luka sakit saat ditekan/bergerak).
Menerangkan pada pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi, (respon
pasien mengatakan tidak tahu tanda-tanda infeksi dan pasien terlihat mengerti
setelah diterangkan tanda-tanda infeksi). Mengkaji jumlah lokhea dan bau,
(respon pasien dari data obyektif bau tidak menyengat dan jumlahnya ±200 cc).
Mengkaji balutan abdominalis terhadap eksudat, adanya rembesan di balutan,
(respon pasien pasien mengatakan saat mandi berhati-hati agar balutan tidak
basah dan balutan terlihat kering tidak basah dan tidak ngrembes).
Diagnosa keempat di lakukan mengajarkan
pasien tentang perlunya mobilisasi dini (miring ke kanan dan ke kanan dan ke
kiri), (respon pasien mengatakan dapat miring kanan dan kiri dan pasien
terlihat melakukan miring kanan dan kiri secara perlahan). Mengajarkan pada
pasien untuk aktivitas turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan
dengan bantuan minimal, (respon pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur
dan berjalan secara perlahan-lahan dan pasien terlihat berjalan dan turun dari
tempat tidur secara perlahan dengan dibantu suaminya). Dorong partisipasi
pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan individu, (respon pasien
mengatakan bisa jalan secara perlahan dan pasien terlihat berjalan perlahan ke
ruang perinatologi dengan dibantu suaminya untuk memberikan ASI pada bayinya).
Hari ke dua tanggal 20 Juni 2012
dari jam 08.00 sampai 09.50 WIB. Untuk diagnosa pertama di lakukan memonitor
TTV, (respon pasien bersedia di lakukan TTV dan obyektifnya tekan darah 120/80
mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,20C). Mengkaji tingkat karakteristik
nyeri, (respon pasien mengatakan nyeri saat berjalan (P), nyeri seperti
disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah luka operasi (R), skala nyeri 2 (S), nyeri
saat berjalan (T).
Diagnosa kedua dilakukan
menganjurkan pasien untuk makan yang banyak protein dan banyak makanan yang
bergizi, (respon pasien mengatakan makan makanan yang diberikan dari rumah
sakit dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat). Memantau klien melakukan
tehnik menyusui dengan benar, (respon pasien mengatakan sudah mulai bisa
menyusui dengan benar dan pasien tampak rileks saat menyusui). Menganjurkan
klien untuk memperhatikan keadaan putingnya setiap akan menyusui dan sesudah
menyusui, (respon pasien mengatakan akan berhati-hati pada saat menyusui dan
pasien terlihat mendengarkan anjuran perawat). Menganjurkan klien untuk
menyendawakan bayinya setelah menyusui, (respon pasien tampak menyendawakan
bayinya setelah menyusui). Menganjurkan klien untuk melakukan breascare secara
mandiri, (respon pasien mengatakan akan melakukan breascare secara mandiri di rumah dan pasien terlihat mengerti
anjuran perawat).
F. Evaluasi
Evaluasi yang didapat pada tanggal 19 Juni 2012 dari
implementasi yang sudah di lakukan pada diagnos pertama gangguan rasa nyaman
nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas
jaringan sbagai berikut: dari data subyektif pasien nyeri saat ditekan dan akan
duduk (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah perut terumam
pada luka jahitan (R), skala nyeri 4 (S), nyeri muncul saat bergerak dan berjalan
(T), data obyektif pasien tampak
kesakitan, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36 0C,
maka masalah nyeri teratasi sebagian menjadi 4, rencana tindak lanjutnya kaji
tingkatan rasa nyaman nyeri, monitor TTV, anjurkan pasien untuk relaksasi nafas
dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan dan
lanjutkan pemberian analgesik asam mefenamat 3x500 mg, vitamin B complex 1x1
tablet, vitamin A dan C 1x1 tablet sesuai advis dokter agar nyeri dapat di
tolerir oleh pasien.
Diagnosa kedua ketidakefektifan menyusui berhubungan
dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut dari data subyektif pasien
mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan, pasien mengatakan bersedia
menerapkan tehnik menyusui yang benar, data obyektif pasien terlihat bingung
memposisikan bayinya dan paham dengan informasi yang diberikan, maka masalah
ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan
pasien untuk breastcare secara
mandiri, beri informasi keuntungan menyusui, anjurkan pasien untuk mengkaji
putting sebelum dan sesudah menyusui.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan
port de entry kuman patogen sebagai berikut dari data subyektif pasien
mengatakan selalu berhati-hati dalam menjaga balutan luka agar tidak ngrembes
dan basah pada saat mandi, data obyektif
balutan luka kering tidak ada rembesan, maka masalah resiko tinggi
infeksi teratasi sebagian (tidak ada pus ataupun rembesan pada balutan),
rencana tindak lanjutnya kaji kondisi keluaran pus (warna, jumlah dan bau),
lakukan perawatan luka, anjurkan pasien untuk mengidentifikasi tanda infeksi,
anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan dalam makanan.
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik sebagai berikut data subyektif pasien mengatakan dapat
turun dari tempat tidur dan makan minum secara mandiri, pasien mengatakan dapat
berjalan ke ruang perinatologi melihat bayinya dengan dibantu suaminya, dan
data obyektifnya pasien terlihat mandiri meskipun dilakukan secara perlahan
dengan bantuan minimal, maka masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi
sebagian, rencana tindak lanjutnya mengkaji kemampuan aktivitas pasien, bantu
memenuhi kebutuhan dasar pasien,
motivasi pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
Evaluasi yang didapat pada tanggal 20 Juni 2012 dari
implementasi yang sudah di lakukan pada diagnosa yang pertama nyeri berhubungan
dengan trauma pmebedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sebagai berikut
dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka operasi (P), nyeri
seperti di sayat-sayat, pada perut terutama pada luka jahitan (R), skala nyeri
2 (S), nyeri muncul saat berjalan (T), pasien tampak rileks dan kuat berjalan,
pasien di ijinkan pulang, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, pernapasan
20 x/menit, suhu 36,2 0C, maka masalah nyeri dapat teratasi menjadi
2, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk tehnik nafas dalam saat nyeri
muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan.
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan
dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut data subyektif pasien
mengtakan ASI sudah keluar tapi belum lancar, pasien pasien sudah bisa menyusui
dengan tehnik yang benar, dan data obyektifnya pasien tampak rileks dan nyaman
pada saat menyusui, maka masalah ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak
lanjut anjurkan pasien untuk breastcare atau perawatan payudara secara mandiri
di rumah.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan
port de entry kuman patogen sebagai berikut data obyektif luka jahitan bersih,
tidak ada pus, jahitan menyatu tidak ada yang membuka, diameter jahitan ±15 cm,
maka masalah resiko infeksi teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya
anjurkan pasien untuk menghabiskan obat sesuai advis dokter, anjurkan pasien
untuk tidak pantangan makanan, gunakan tehnik aseptic setiap ingin melakukan
tindakan, lakukan perawatan luka jahit (control kembali sealama 1 minggu).
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik. Data subyektif pasien mengatakan sudah bisa
beraktivitas dengan mandiri secara perlahan, data obyektif pasien terlihat
mandiri dalam beraktivitas seperti ke kamar mandi maupun berjalan, maka masalah
intoleransi aktivitas teratasi.
BAB
IV
PEMBAHASAN
Bab IV ini akan dibahas mengenai permasalahan
tentang asuhan keperawatan pada Ny. S dengan post seksio sesaria indikasi pre
eklamsi ringan di Ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang. Pembahasan akan
diuraikan sesuai masalah yang ditemukan dengan menggunakan pendekatan konsep
dasar yang mendukung. Penulis akan menguraikan tentang kesenjangan yang muncul
pada asuhan keperawatan antara teori dengan kasus yang penulis kelola. Penulis
akan membahas tentang diagnosa yang muncul, diagnosa yang tidak muncul serta
dukungan dan hambatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada Ny. S selama
2 hari.
A.
Diagnosa yang muncul
1.
Gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas
jaringan.
Nyeri adalah sensori
yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara actual atau
potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan keserangan
mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat
diantisipasi dengan akhir, yang dapat diprediksi dengan durasi kurang dari 6
bulan (Doengoes, 2001).
Batasan karakteristik
nyeri meliputi laporan secara verbal atau non verbal, fakta dan observasi,
posisi analgetik untuk menghindari nyeri, gerakan melindungi, tingkah laku
berhati-hati, gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan
kacau, menyeringai), tingkah laku distraksi, contohnya jalan-jalan, aktivitas
berulang, perubahan dalam nafsu makan (NANDA, 2007).
Diagnosa ini muncul
karena menurut penulis ada beberapa data yang mendukung, seperti dari data
subjektif pasien mengatakan nyeri pada saat ditekan dan pada saat duduk (P),
nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada perut daerah luka operasi (R),
skala nyeri 5 (S), nyeri saat bergerak (T), dan data objektif pasien tampak
kesakitan dan memegangi perutnya, tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20
x/menit. Nadi 80 x/menit, suhu 360
C.
Trauma
pembedahan yang dialami pasien merupakan penyebab utama timbulnya nyeri yang
dirasakan pasien dan mengganggu pasien. Trauma pembedahan sebagai stimulus
nyeri mengirimkan impuls melalui serabut saraf perifer. Serabut nyeri memasuki
medulla spinalis dan menjalani salah satu dari beberapa rute saraf dan akhirnya
sampai didalam massa berwarna abu-abu di Medulla spenalis. Nyeri dapat
berinteraksi dengan sel-sel saraf inihibitor ditransmisikan ke korteks
serebral. Sekali stimulus nyeri mencapai korteks serebral maka otak akan
menginterpretasikan kualitas nyeri dan presepsi nyeri (Potter&Pery, 2006).
Penulis mengangkat diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri
sebagai prioritas utama karena nyeri merupakan keluhan utama yang paling
dirasakan pasien. Nyeri merupakan alasan utama seseorang untuk mencari bantuan
perawatan kesehatan (Smeltzer, 2002). Nyeri merupakan faktor utama yang dapat
menghambat kemampuan dan keinginan individu untuk pulih dari suatu penyakit.
Hal ini didukung oleh Potter & Perry (2006) karena apabila nyeri
berlangsung secara terus menerus dan tidak segera diatasi dapat menimbulkan
respon fisiologis yang akan membahayakan individu. Alasan mengapa penulis
mengangkat diagnosa utama karena nyeri berlangsung secara terus menerus dan
tidak segera teratasi dapat menimbulkan respons fisiologis yang akan
membahayakan individu hal ini telah di dukung oleh potter & Perry, 2006.
Untuk menilai nyeri pada pasien menggunakan skala 0-10, pengkajian lebih akurat
apabila pasien mampu mendiskripsikan sensasi yang dirasakan setelah perawat
mengajukan pertanyaan terbuka. Untuk menghilangkan nyeri maka dilakukan
tindakan mengubah posisi, melakukan tindakan ritual (melangkah, berayun-ayun),
makan (Potter & Perry, 2006).
Implementasi yang
dilakukan mengkaji karakteristik dan lokasi nyeri serta durasi dan intensitas
nyeri serta perhatikan ekspresi pasien, mengajarkan teknik napas dalam saat
nyeri muncul monitor tanda-tanda vital, memberikan terapi analgetik sesuai
indikasi yaitu asam mefenamat 3x500mg peroral. Implementasi ini sudah sesuai
dengan teori menurut Doengoes (2001), bahwa nyeri dengan skala lima adalah
nyeri sedang sehingga implementasinya untuk mengurangi nyeri dengan mengajarkan
tehnik napas dalam.
Hasil evaluasi yang
didapat oleh penulis setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari yaitu
dari data subjektif pasien nyeri saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri seperti
disayat-sayat (Q), nyeri di daerah perut bagian bawah (R), skala nyeri 4 (S),
nyeri saat bergerak (T), data objektif pasien tampak rileks dan kuat berjalan , tekanan darah 120/80
mmHg, pernapasan 20 x/m, suhu 36,2 nadi 80 x/m, maka masalah nyeri teratasi
dengan skala nyeri 2, pasien tampak rileks, rencana tindak lanjut anjurkan
pasien untuk teknik relaksasi nafas dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien
untuk beraktifitas secara perlahan, berikan analgetik asam mefenamat1x500mg,
vitamin B complex 1 tablet dan vitamin A dan C 1 tablet sesuai advis dokter.
2.
Ketidak
efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik fisik payudara ibu.
Tidak efektifnya menyusui adalah keadaan dimana ibu,
bayi atau anak mengalami kesulitan pada proses menyusui, yang mengakibatkan
ketidakadekuatan nutrisi untuk kebutuhan metabolik (Carpenito, 2000).
Batasan karakteristik: ketidak adekuatan suplay ASI,
ketidakmampuan bayi untuk menempel dengan tepat di payudara ibu, tidak terlihat
pelepasan oksitosin, menghisap tidak terus menerus, nyeri atau lecet pada
putting, bayi menangis saat di susui.
Diagnosa ini muncul karena menurut penulis ada
beberapa data yang mendukung, seperti data subyektif pasien mengatakan ASI
keluar sedikit bila di tekan, pasien mengatakan belum mengetahui cara menyusui
yang benar, dan data obyektifnya papilla mammae kedalam atau inverted, bayi di
ruang perinatologi.
Penulis mengangkat diagnosa ketidak efektifan
menyusui karena pasien belum pernah menyusui, ASInya tidak keluar dan belum
mengetahui cara menyusui yang benar. Penulis memberikan penyuluhan kesehatan
tentang ASI eksklusif dan tehnik menyusui yang benar. Untuk mengetahui
keberhasilan tindakan, penulis merumuskan kriteria hasil puting pasien erektil,
produksi ASI dapat maksimal, bayi dapat minum ASI secara terus menerus.
Implementasi keperawatan yang di lakukan oleh
penulis selama 2 hari yaitu mengkaji
payudara pasien dan tingkatan pengetahuan pasien tentang ASI eksklusif dan
tehnik menyusui yang benar, mengajarkan breastcare
(perawatan payudara), maka penulis membuat kesepakatan dengan pasien untuk
dilakukan penkes dan breastcare,
meminta pasien untuk dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan tehnik menyusui
yang benar dan melakukan brestcare.
Implementasi yang belum di lakukan sesuai teori (Doengoes, 2001), yaitu
demonstrasikan dan tinjau ulang tehnik-tehnik menyusui, perhatikan posisi bayi
selama menyusui dan lama menyusui (R/ posisi yang tepat dapat mencegah putting
terluka, tanpa memperhatikan lamanya menyusui), identifikasi sumber-sumber yang
tersedia di masyarakat sesuai indikasi (R/ pelayanan ini mendukung pemberian
ASI melalui pendidikan klien).
Hasil evaluasi yang didapat oleh penulis setelah
tindakan keperawatan selama 2 hari yaitu data subyektif pasien mengatakan ASI
keluar sedikit saat di tekan, pasien mengatakan belum mengetahui cara menyusui
yang benar, dan data obyektif pasien terlihat rileks dan nyaman pada saat
menyusui, maka masalah ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana
tindak lanjut anjurkan pasien untuk mengkaji putting sebelum dan sesudah
menyusui, anjurkan pasien untuk melakukan breastcare
secara mandiri.
3.
Resiko infeksi
berhubungan dengan port de entri kuman pathogen
Infeksi adalah suatu kondisi penyakit akibat
masuknya kuman patogen atau mikroorganisme lain kedalam tubuh sehingga
menimbulkan gejala tertentu (Wahit, 2007). Menurut Nanda (2007) resiko infeksi
adalah peningkatan resiko masuknya kuman patogen. Bobak (2005) mengemukakan
bahwa leukosit normal pada kehamilan rata-rata 12 ribu/mm3. Selama
10 sampai 12 hari pertama plasenta lahir, nilai leukosit antara 20.000 ribu dan
25.000 ribu/mm3 merupakan hal yang umum. Keberadaan leukosit yang
disertai dengan peningkatan laju endap darah merah dapat membingungkan dalam
menentukan diagnosa infeksi akut.
Diagnosa ini muncul karena menurut penulis ada
beberapa data yang mendukung seperti, data obyektif pada abdomen terlihat ada
luka jahitan dengan diameter ±15 cm, leukosit 15,21 ribu/ul, suhu 36 0C.
Port de entry kuman patogen merupakan pintu masuknya
kuman patogen yang masuk ke dalam organ tubuh.
Penulis mengangkat diagnosa resiko infeksi karena
pada saat di lakukan pengkajian leukosit pasien tinggi dan terlihat adanya luka
jahitan post operasi seksio sesaria. Dengan tidak menggunakan tehnik aseptik
pada saat akan melakukan tindakan maka kuman akan sangat mudah masuk ke dalam
tubuh dan akan menyebabkan infeksi pada luka.
Tujuan diangkatnya diagnosa resiko infeksi di
harapakan tidak terjadi perdarahan pada luka operasi. Untuk mengetahui
keberhasilan tindakan keperawatan, maka penulis merumuskan kriteria hasil di
harapkan tidak ada tanda-tanda infeksi, serta leukosit dalam rentan normal 3,6
– 11 ribu/ul.
Implementasi keperawatan yang di lakukan oleh
penulis selama dua hari yaitu mengkaji keadaan luka apakah ada rembesan pada
balutan atau tidak, menerangkan pada pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda
infeksi, mengkaji jumlah keluaran lokhea dan bau, melakukan perawatan luka
jahit atau ganti balut pada hari ke tiga dengan tehnik aseptik.
Hasil evaluasi yang di dapat oleh penulis setelah
tindakan keperawatan selama dua hari yaitu data subyektif pasien mengatakan
berhati-hati dalam mandi agar balutan tidak terkena air dan basah, data
obyektif luka jahitan bersih, tidak ada pus yang keluar, jahitan menyatu tidak
ada yang membuka, maka masalah resiko infeksi teratasi sebagian, meskipun luka
belum sembuh total, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk kontrol satu
minggu kemudian ke rumah sakit, anjurkan
pasien untuk tidak ada pantangan dalam makanan agar luka cepat sembuh, anjurkan
pasien untuk menghabiskan obat asam mefenamat, vitamin B complex, vitamin A dan
C sesuai advis dokter.
4.
Intoleransi
Aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Intoleransi aktifitas adalah penurunan kapasitas fisiologis
seseorang untuk mempertahankan aktifitas sampai ketingkat yang diinginkan
(Carpenito, 2000). Kemampuan beraktifitas merupakan kebutuhan dasar yang mutlak
diharapkan oleh setiap manusia. Kemampuan tersebut meliputi berdiri, berjalan,
bekerja, makan dan minum, dan lain sebagainya (Wahit, 2007).
Menurut Nanda (2007) intoleransi aktifitas adalah
ketidak cukupan energi secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan
atau menyelesaikan aktifitas sehari-hari. Pasca pembedahan pasien akan
mengalami penurunan kekuatan dan ketahanan tubuh karena nyeri yang dirasakan
akan menyebabkan penurunan kemampuan (Potter&Perry, 2006).
Batasan karakteristik: kelelahan dan kelemahan,
respon terhadap aktifitas menunjukan nadi dan tekanan darah abnormal, perubahan
EKG menunjukan aritmia atau disritmia.
Diagnosa ini muncul karena menurut penulis ada
beberapa data yang mendukung, seperti data subyektif pasien mengatakan sulit
untuk bergerak atau berjalan, klien mengatakan hanya miring ke kanan dan ke
kiri secara perlahan, dan data obyektif pasien terlihat di bantu suaminya saat
akan melakukan tindakan ke kamar mandi dan aktivitas lainnya.
Penulis mengangkat diagnosa ini didasarkan pada
data-data saat pengkajian bahwa pasien setelah selesai operasi hingga saat
pengkajian belum bisa beraktivitas karena pasien mengalami kelemahan fisik,
maka disarankan pasien untuk ambulasi dini secara bertahap untuk mengurangi
resiko terjadinya kerusakan kulit.
Tujuan diangkat diagnosa ini adalah pasien dapat
toleran dengan aktivitasnya. Untuk mengetahui keberhasilan tindakan
keperawatan, penulis merumuskan kriteria hasil pasien dapat melakukan aktivitas
secara mandiri, pasien dapat toleran dengan aktivitasnya.
Implementasi
keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama dua hari yaitu mengkaji
kemampuan pasien dalam beraktivitas, mengajarkan pasien untuk mobilisasi dan
ambulasi dini (miring kanan kiri, duduk, turun dari tempat tidur), dorong
aktivitas pasien dalam aktivitas sesuai kemampuan.
Hasil evaluasi yang di dapat oleh penulis setelah
tindakan keperawatan selama dua hari yaitu dari data subyektif pasien
mengatakan sudah bisa beraktivitas dengan mandiri misalnya makan dan minum,
bangun dari tempat tidur, ke kamar mandi, data obyektifnya pasien tampak
mandiri dalam melakukan aktivitas, maka masalah in toleransi aktivitas
teratasi.
B.
Diagnosa yang tidak muncul
1. Gangguan eliminasi BAB: kontipasi berhubungan dengan
penurunan peristaltik usus.
Konstipasi adalah gangguan pada pola eliminasi
akibatnya adanya feses kering atau keras yang melewati usus besar, perjalanan
feses yang lama karena jumlah air yang diabsorbsi sangat kurang menyebabkan
feses menjadi kering dan keras. Konstipasi terjadi karena pola defekasi yang
tidak teratur, penggunaan laktasif yang terlalu sering, stress psikologis yang meningkat,
kurang aktivitas serta proses pembedahan dengan anestesi (Wahit, 2007).
Diagnosa ini tidak muncul karena data-data yang
penulis dapatkan dari hasil pengkajian pada klien menunjukan bahwa tidak
ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa gangguan eliminasi BAB karena
menurut Wahit (2007) konstipasi di sebabkan oleh efek spinal anestesi, jadi
pasien tidak bisa BAB setelah persalinan merupakan hal yang wajar dari efek
anestesi dan saat dilakukan pengkajian pola eliminasi pasien pada hari pertama
pasien tidak bisa BAB tetapi pada hari ketiga dapat BAB dengan konsisten
lembek, berbau khas dan warna kuning.
2.
Inkontinensia
urin berhubungan dengan penurunan sensitifitasnya uretra dan sensasi kandung
kemih.
Inkontinensia urin adalah suatu keadaan dimana individu
mengalami atau berada pada resiko mengalami disfungsi urinarius (Carpenito,
2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena pasien
tidak mengalami gangguan pada penurunan urin setelah selang kateter di lepas
pasien tetap BAK dengan lancar sehari 2x saat mandi.
3.
Defisit vulome
cairan berhubungan dengan pengeluaran yang berlebihan.
Defisit volume cairan adalah keadaan dimana
seseorang yang tidak makan dan minum per oral mempunyai resiko dehidrasi
vaskuler, intersisiel, atau interseluler (Carpenito, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data
yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian pada pasien menunjukan bahwa tidak
ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa defisit atau kurangnya volume
cairan, seperti membrane mukosa kering, tekanan darah kurang dari 110/70 mmHg,
haus atau dehidrasi.
4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan
terhadap kebutuhan diri dan ketergantungan.
Kebutuhan perawatan diri adalah keadaan dimana
individu mengalami suatu kerusakan fungsi motorik atau fungsi kognitif yang
menyebabkan penurrunan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri yang
meliputi makan, mandi, berpakaian/berdandan dan toileting (Carpenito, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data
yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian pada pasien menunjukan bahwa tidak
ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa kurang perawatan diri. Diagnosa yang
penulis angkat adalah diagnosa yang ada kaitannya dengan kebutuhan aktivitas
pasien yaitu diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
setelah post operasi, karena pada saat penulis melakukan pengkajian pasien
dalam kondisi lemah. Diagnosa intoleransi aktivitas penulis angkat dengan
tujuan agar pasien mampu melakukan aktivitas secara mandiri.
5. Kurang perawatan mengenai perawatan kondisi bayi dan
dirinya berhubungan dengan kurang mengingat atau mengenal sumber-sumber
informasi.
Kurang pengetahuan adalah suatu kondisi dimana
individu atau kelompok mengalami kekurangan pengetahuan kognitif atau
ketrampilan psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana tindakan pengobatan.
Kurang pengetahuan tidak menunjukan respon, perubahan atau disfungsi manusia,
tetapi lebih sebagai sesuatu etiologi atau faktor penunjang (Carpenitto, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data
yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian pada pasien tidak ditemukannya data
yang mengarah ke diagnosa kurang pengetahuan mengenai perawatan kondisi bayi
karena pasien sudah mengetahui sebelum pasien melakukan persalinan pasien
sering belajar melakukan perawatan bayi dari kakaknya atau keponakan.
6. Perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan
adanya tambahan anggota keluarga.
Perubahan menjadi orang tua adalah suatu keadaan
dimana satu atau lebih pemberi asuhan mendemonstrasikan ketidakmampuan yang
nyata atau potensial dalam menyediakan lingkungan yang mendukung dalam
pemelihraan pertumbuhan dan perkembangan anaknya(Carpenitto, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data
yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian, pasien tidak menunjukan bahwa
tidak ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa kurang pengetahuan mengenai
perawatan kondisi bayi karena pasien sudah mengetahui perawatan kondisi bayi.
7. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan tidak adekuatnya intake nutrisi.
Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan adalah kondisi
ini di alami oleh invidu yang tidak mengalami puasa atau berisiko mengalami
penurunan berat badan yang berhubungan dengan tidak cukupnya masukan atau
metabolisme nutrisi untuk kebutuhan metabolisme (Carpenitto, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data
yang penulis dapatkan saat pengkajian tidak ada data-data yang mengarah ke
diagnosa risiko nutrisi kurang dari kebutuhan. Pasien juga tidak mengalami
hambatan dalam masalah nutrisi, pasien selalu menghabiskan porsi makannya dan
tidak ada rasa mual maupun muntah pada saat makan dan setelah makan.
C.
Dukungan dan hambatan
Dalam mencapai
tujuan keperawatan penulis tidak lepas dari faktor pendukung yang ada selama
melakukan asuhan keperawatan dalam jangka waktu
dua hari khususnya berkat bimbingan, pengarahan serta dukungan dari
berbagai pihak diantaranya sikap pasien yang kooperatif terhadap penulis,
kepercayaan perawat dan penguji yang diberikan pada penulis serta bimbingan
yang telah di berikan kepada penulis sangat membantu dan bermanfaat dalam
melaksanakan tindakan keperawatan.
Faktor penghambat untuk mencapai tujuan tindakan
keperawatan yang di hadapi penulis adalah kemampuan dan pengetahuan penulis
yang kurang dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien post seksio sesaria
indikasi pre eklamsi ringan dari pengkajian sampai menganalisa data dan dalam
menentukan intervensi yang sesuia dengan apa yang di butuhkan pasien.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
beberapa uraian tentang seksio sesaria serta indikasinya maka penulis
menyimpulkan bahwa pengertian seksio sesaria adalah pembedahan yang dilakukan
untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus agar ibu
dan janin selamat.
Beberapa indikasi dilakukannya seksio sesaria adalah
pre eklamsi. Dimana pre eklamsi tersebut adalah tekanan darah >140/90 mmHg
setelah umur kehamilan 20 minggu. Dimana dampak dari pre eklamsi adalah
terjadinya perdarahan intra kranial, kejang, koma, dan gagal ginjal yang
terjadi pada ibu dan berat badan lahir janin di bawah normal tang terjadi pada
bayi. Maka penulis tidak membahas tentang pre eklamsi karena pasien setelah di
lakukan persalinan tidak ada tanda-tanda pre eklamsi seperti uraian di atas dan
tidak ada dampak dari pre eklamsi seperti terjadinya kejang, gagal ginjal,
kematian pada ibu dan berat badan bayi di bawah normal. Pasien mengalami pre
eklamsi saat akan melakukan persalinan dengan tekanan darah 150/80 mmHg dan
usia kehamilan pasien 40 minggu lebih 1 hari maka pasien di lakukan tindakan
seksio sesaria.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan yang berjudul “
Asuhan Keperawatan Maternitas Pada Ny. S dengan Post Operasi Seksio Sesaria
Indikasi Pre Eklamsi Ringan di Ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang” di
dapatkan diagnosa keperawatan yang muncul yaitu gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan,
ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu,
resiko infeksi berhubungan dengan Port de entri kuman patogen, intoleransi
aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri muncul pada Ny.
S karena adanya trauma pembedahan setelah operasi seksio sesaria sebagai
stimulus nyeri yang meningkatkan rangsangan terhadap saraf perifer, diteruskan
ke saraf pusat yang akan dimanifestasikan sebagai rasa sakit. Masalah ketidak
efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu karena ASI
pasien tidak keluar apabila tidak di tekan dan papilla mamma ke dalam atau
inverted. Resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen karena
keluar masuknya kuman yang masuk ke dalam tubuh akan menyebabkan terjadinya
infeksi pada luka jahitan. Masalah intoleransi aktifitas berhubungan dengan
kelemahan fisik karena selama 2 hari pasca pembedahan Ny. S belum dapat
melakukan ADLnya secara mandiri sehingga
perawat menyarankan untuk ambulasi dini secara bertahap. Maka penulis
mengangkat diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tindakan keperawatan selama dua hari pada Ny S baik
mandiri maupun kolaborasi, masalah nyeri dapat teratasi sebagian, sehingga
masalah tersebut benar-benar terpecahkan, penulis mendelegasikan tugas perawat
yang belum terseleseikan kepada perawat
ruangan. Masalah ketidakefektifan menyusui sebagian teratasi karena pasien
sudah mengetahui dan terlihat rileks saat menyusui. Masalah resiko infeksi
sudah teratasi sebagian karena pada luka jahitan tidak ada pus yang keluar dan
masalah intoleransi aktivitas telah teratasi meskipun pasien melakukan
aktivitas secara perlahan-lahan tetapi bertahap. Untuk rencana tindak lanjut,
menganjurkan pasien untuk tidak beraktivitas berat selama di rumah.
Semua upaya di atas yang di mulai dari penanganan
saat persalinan seksio sesaria dan penatalaksanaan masa nifas beserta indikasi
sesksio sesaria bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin dan
agar dapat menurunkan angka kematian yang terjadi pada ibu.
B.
Saran
Saran yang dapat penulis berikan dalam memberikan
asuhan keperawatan pada pasien post operasi seksio sesaria indikasi preeklamsi
ringan adalah sebagai berikut:
1. Bagi
penulis
Penulis dalam melakukan tindakan
tindakan keperawatan pada pasien post seksio sesaria seharusnya lebih
mempelajari secara mendalam lagi agar bermanfaat di kemudian hari.
2. Bagi
lahan praktek
Rumah sakit seharusnya memberikan
pelayanan yang lebih baik kepada pasien dengan post seksio sesaria serta para
perawat sebagai pemberi pelayanan selalu meningkatkan ketrampilan tentang teori
dan prosedur keperawatan sehingga pelayanan yang maksimal dapat diberikan.
3. Bagi
Pasien
Dari pendapat penulis pada pasien
yang setelah dilakukan tindakan operasi seksio sesaria di sarankan untuk tetap
menjaga personal hygiene terutama pada perineum. Karena dari hygiene yang harus
selalu dijaga, akan membantu dalam meminimalkan terjadinya risiko infeksi,
serta selalu melatih tubuhnya untuk bergerak sedini mungkin untuk membantu
mempercepat kesembuhan pasien.
4. Bagi
masyarakat
Masyarakat dapat memanfaatkan pelayanan
kesehatan bila tidak mampu untuk menanganinya, serta masyarakat hendaknya dapat
melakukan penangan dan pencegahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Baston,
Hellen. (2012). Midwifery Essentials
Persalinan. Volume 3. Jakarta: EGC
Bobak, dkk.(2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas, ed 4. Jakarta: EGC
Carpenitto,
Linda Juall.(2000). Buku saku Diagnosa
keperawatan, ed.18. Terjemah oleh Monika Ester. 2001. Jakarta: EGC
Cuningham, GF.(2006). Obstetri Williams, vol.1, ed. 2. Jakarta: EGC
Departemen
Kesehatan RI. (2010). Profil Kesehatan
Republik Indonesia, di akses pada 23 Juni 2012 dari http://www.depkes.gi.id/downloads/publikasi/Profil
Kesehatan Indonesia.pdf.
Dinas
Kesehatan Profil Jawa Tengah.(2010). Profil
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Dinkes Jateng, di akses pada 23 Juni 2012
dari http://www.dinkes jateng.gi.id/download/publikasi/Profil
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.pdf
Doengoes,
ME.(2001). Rencana Maternal/Bayi: Pedoman
Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Klien, ed.2. Jakarta: EGC
Farrer,
H. (2001). Keperawatan Maternitas. Jakarta:
EGC
Frasser,
DM & Cooper, MA.(2009). Buku Ajar
Bidan. Jakarta: EGC
Herdman,
TH & Ester, M. (2010). Diagnosa
keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta: EGC
Jitowiyono,
S & Kristiyanasari, W.(2010). Asuhan
Keperawatan Post Operasi. Yogyakarta: Muha Medika
Joseph, dkk. (2010). Ginekologi dan Ostetri (Obsgyn).
Yogyakarta: Nuha Medika
Liu,
David.T.Y, dkk.(2001). Keperawatan
Maternitas, vol. 2, ed. 18. Jakarta: EGC
Mansjoer,
Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran,
ed. 3, cet. 1. Jakarta: Medika Aesculapius
Mitayani.(2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika
Mubarak,
Wahit Iqbal. (2007). Buku ajar Kebutuhan
Manusia: Teori dan Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC
Potter
& Perry. (2006). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses, dan Praktik, ed. 4, vol. 2. Alih
Bahasa Renata Komalasari, dkk. (2006). Jakarta: EGC
Reeder,
dkk.(2010). Nanda Diagnosa Keperawatan
Wanita, Bayi & Keluarga Vol 2. Ed 18.Jakarta:EGC
Saifudin.(2008). Buku Asuhan Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta: EGC
Saleha, S.(2009). Buku Asuhan kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: EGC
Sujiyatini,
dkk.(2009). Asuhan Patologi Kebidanan.
Jogjakarta: Nuha Litera Offset
Winkjosastro,
dkk. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka-Sarwono Prawirohardjo
Winkjosastro,
dkk.(2005). Ilmu Kebidanan.Jakarta.:
Yayasan Bina Pustaka-Sarwono Prawirohardjo
Winkjosastro,
dkk.(2006). Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka-Sarwono
Prawirohardjo
Yeyeh, dkk.(2009). Asuhan Kebidanan 1 (Kehamilan). Jakarta: Trans Info Media
No comments:
Post a Comment