Friday, May 27, 2016

ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM PADA NY. S DENGAN POST SEKSIO SESARIA INDIKASI PER DIRUANG BOUGENVILLE RSUD TUGUREJO SEMARANG



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………..i
HALAMAN PERSETUJUAN…………………………………………….....iii
HALAMAN PENGESAHAN………………………………………..............iv
RIWAYAT HIDUP PENULIS………………………………………………...v
HALAMAN PERSEMBAHAN……………………………………………....vi
KATA PENGANTAR ……………………………………………………......viii
DAFTAR ISI………………………………………………………………....x
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………...1
A.    Latar belakang…………………………………………………... 1
B.     Tujuan penulisan………………………………………………..... 4
C.     Manfaat penulisan……………………………………………….. 5
D.    Pengumpulan data……………………………………………….. 6
E.     Sistematika penulisan…………………………………………….. 7
BAB II TUJUAN TEORI………………………………………………….... 8
A.    Masa Nifas…………………………………………………..….. 8
1.      Pengertian………………………………………………….... 8
2.      Tahap-tahap masa nifas……………………………………… 9
3.      Adaptasi Fisiologis masa nifas………………………………... 9
4.      Adaptasi psikologis masa nifas……………………………..... 19
5.      Kebutuhan Dasar Ibu Post Partum…………………………... 21
B.     Seksio Sesaria…………………………………………………... 23
1.      Pengertian ………………………………………………..… 23
2.      Indikasi seksio sesaria……………………………………..... 24
3.      Kontra indikasi seksio sesaria……………………………...... 29
4.      Komplikasi seksio sesaria……………………………………. 29
5.      Macam-macam seksio sesaria………………………………... 31
6.      Patofisiologis seksio sesaria………………………………….. 31
7.      Penatalaksanaan post seksio sesaria………………………….. 33
C.     Pre Eklamsi………………………………………………………. 34
1.      Pengertian …………………………………………………… 34
2.      Jenis-jenis pre eklamsi……………………………………….. 34
3.      Etiologi pre eklamsi………………………………………….. 35
4.      Tanda dan gejala pre eklamsi………………………………... 35
5.      Patofisiologi…………………………………………………. 36
6.      Komplikasi………………………………………………….. .38
7.      Penatalaksanaan…………………………………………….. .38
D.    Pathways ……………………………………………………........ 41
E.     Asuhan Keperawatan…………………………………………….. 42
BAB III TINJAUAN KASUS……………………………………………...... 60
A.    Pengkajian……………………………………………………… ..60
B.     Analisa Data……………………………………………………... 66
C.     Diagnosa Keperawatan…………………………………………... 67
D.    Intervensi Keperawatan………………………………………….. 68
E.     Implementasi…………………………………………………...... 70
F.      Evaluasi………………………………………………………….. 73
BAB IV PEMBAHASAN…………………………………………………... 77
A.    Diagnosa yang muncul………………………………………….. 77
B.     Diagnosa yang tidak muncul……………………………………. 86
C.     Dukungan dan Hambatan……………………………………….. 90
BAB V PENUTUP………………………………………………………….. 91
A.    Kesimpulan ……………………………………………………... 91
B.     Saran …………………………………………………………..... 93
DAFTAR PUSTAKA 


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Depkes RI (2010) mengemukakan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI di Indonesia menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu sebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penangananya selama kehamilan, melahirkan dan masa nifas. Hasil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Laporan Dinkes Jateng (2010) bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010 berdasarkan laporan dari masing-masing kabupaten/kota sebesar 104,97 per 100.000 kelahiran hidup mengalami penurunan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2009 sebesar 117,02 per 100.000 kelahiran hidup. Kejadian kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 50,57% di susul kemudian pada waktu hamil sebesar 25,04%, dan pada waktu bersalin sebasar 24,39%. Penyebab kematian ibu tersebut adalah eklamsia sebesar 30 %, perdarahan sebesar 20%, infeksi sebesar 4%, dan lain-lain sebesar 46%. Data eklamsia menempati peringkat pertama dari sebab kejadian Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Tengah.
 Laporan Dinkes Jateng  (2010) bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu, keadaan social ekonomi, keadaan yang kurang baik menjelang kehamilan, kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran, tersedianya penggunaan fasilitas pelayanan prenatal dan obstetrik. Tingginya angka kematian  ibu menunjukan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal obstetrik yang rendah pula.
Keadaan sosial ekonomi dan fasilitas kesehatan prenatal obstetrik yang rendah, oleh pemerintah dibuatkan kebijakan untuk menurunkan angka kematian ibu dengan adanya jaminan persalinan (Jampersal) untuk periksa kehamilan dan melahirkan secara gratis di puskesmas atau  rumah sakit, penempatan bidan di desa untuk meningkatkan status kesehatan ibu,  dikembangkannya sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA) dan di lakukannya kerjasama lintas sektoral antara lain dengan pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) dan Gerakan Reproduksi keluarga Sejahtera (GRKS).
Kebijakan pemerintah harus didukung oleh puskesmas dan rumah sakit untuk memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil. Ibu hamil dengan memriksakan kehamilan di puskesmas atau rumah sakit dapat di ketahui secara dini terkait dengan janin yang bermasalah supaya dapat penangan secara baik. Ibu yang bersalin dengan janin yang bermasalah dilakukan tindakan pembedahan yaitu seksio sesaria. Seksio sesaria ini sama dengan tindakan laparatomi yang membuka isi perut. Tindakan tersebut merupakan penanganan untuk mengurangi risiko kematian ibu dan bayi yang mempunyai indikasi dalam persalinan tidak normal.
The Information Center (2007) dalam Baston Hall (2012)  mengemukakan angka bedah sesar di Inggris telah meningkat hampir dua kali lipat dalam tahun  2006, 23,5% kelahiran terjadi melalui bedah sesar dan lebih dari separuhnya merupakan bedah sesar darurat.
Andon  dalam Nakita  (2008)  berpendapat angka kesakitan dan kematian ibu pada tindakan operasi seksio sesaria lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginan. Angka kematian langsung pada operasi sesar adalah 5,8 per 100.000 kelahiran ibu. Pada angka kesakitan sekitar 27,3 persen dibandingkan dengan persalinan normal hanya sekitar 9 per 1000 kejadian.
Statistik Peel dan Chamberlain dalam Winkjosastro (2005) tentang 3.509 kasus section caesaria, untuk indikasi section caesaria meliputi disproporsi janin panggul 21%, gawat janin 14%, plasenta previa 11%,kelainan letak janin 10%, pre eklamsi dan hipertensi 7% dengan angka kematian ibu 17% sebelum dikoreksi dan 0,5% sesudah dikoreksi, sedangkan kematian janin 14,5%. Hasil data yang di peroleh dari rekam medik RSUD Tugurejo Semarang tahun 2011 di dapatkan data persalinan ibu seksio sesaria dengan pre eklamsi ringan sebesar 19 orang, seksio sesaria dengan pre eklamsi berat 6 orang, seksio sesaria  dengan eklamsia 10 orang. Salah satu indikasi seksio sesaria adalah pre eklamsi. Dimana pre eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang masih merupakan penyebab utama kematian ibu dan penyebab kematian perinatal tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan urain di atas, maka penulis termotivasi menyusun Karya Tulis Ilmiah  (KTI) dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Ny S dengan post seksio sesaria  indikasi pre eklamsi ringan di ruang bougenville RSUD Tugurejo Semarang.”

B.     Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Khusus
Mengetahui pentingnya perawatan secara nyata tentang asuhan keperawatan pada pasien post partum dengan seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
2.    Tujuan Umum
a.    Mendiskripsikan pengkajian pada pasien post partum dengan seksio sesaria  indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
b.    Mendiskripsikan permasalahan (diagnosa keperawatan) pada pasien dengan seksio sesaria indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
c.    Mendiskripsikan rencana keperawatan (intervensi) pada pasien post partum dengan seksio sesaria indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
d.   Mendiskripsikan dan dapat melaksanakan implementasi pada pasien post partum dengan seksio sesaria indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo semarang.
e.    Mendiskripsikan evaluasi (catatan perkembangan) pada pasien post partum dengan seksio sesaria indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.
f.     Membahas asuhan keperawtan pada psien post partum dengan seksio sesaria indikasi preeklamsi ringan di ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang.

C.      Alasan Penyusun KTI
Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini di lakukan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan jenjang Diploma Keperawatan Widya Husada Semarang.

D.      Manfaat penyusunan Karya Tulis Ilmiah
1.    Bagi penulis
Penulis diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam melakukan asuhan keperawatan pada ibu post op seksio sesaria pndikasi pre eklamsi ringan.
2.    Bagi lahan praktek
Lahan praktek diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pada ibu post op seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan dan dapat memberikan bimbingan yang lebih maksimal pada mahasiswa.
3.    Bagi Institusi pendidikan
Institusi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa terutama dalam melakukan pemeriksaan pada ibu post op seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan baik didalam laboratorium maupun lahan praktik.
4.    Bagi masyarakat
Masyarakat diharapkan lebih menjaga kondisi pada saat hamil sekaligus memeriksakan kehamilan secara rutin supaya dapat diketahui sejak dini untuk mencegah komplikasi masyarakat memahami perawatan pasca post partum dengan seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan.
5.    Bagi Pasien
Pasien diharapkan lebih memahami perawatan pasca post partum dengan seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan.

E.   Pengumpulan Data
Penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Tehnik pengumpulan data menggunakan metode:
1.    Observasi Partisipasif
Observasi partisipasif yaitu mengadakan pengawasan langsung terhadap keadaan umum pasien serta perkembangannya dan melaksanakan asuhan keperawatan selama observasi.
2.    Wawancara
Wawancara yaitu tanya jawab dengan pasien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan yang ikut menangani.
3.    Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu dengan mempelajari buku – buku literatur yang berkaitan dengan perawatan pasien post partum dengan seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan.
4.    Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi yaitu dengan memepelajari catatan medik pasien, buku laporan serta dokumen lainnya untuk membandingkan dengan data yang penulis dapatkan.

F.       Sistematika Penulisan
       Sistematika penulisan karya tulis ilmiah ini diuraikan singkat dalam bentuk bab dan sub bab penulisannya, Penulis menjabarkan menjadi 5 bab meliputi:
1.    BAB I adalah pendahuluan, terdiri atas latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
2.    BAB II adalah tinjauan pustaka, terdiri atas masa nifas, seksio sesaria, pre aklamsi, penatalaksanaan, pathways, asuhan keperawatan
3.    BAB III adalah resume asuhan keperawatan, terdiri atas pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi.
4.    BAB IV adalah pembahasan.
5.    BAB V adalah kesimpulan dan saran.
6.    DAFTAR PUSTAKA



BAB II
TINJAUAN TEORI

A.  Masa Nifas
1.    Pengertian
            Pasca partum merupakan masa enam minggu sejak bayi lahir, sampai organ-organ reproduksi kembali kekeadaan normal sebelum hamil (Bobak, 2005).
Periode post partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali pada keadaan tidak hamil,terhadap hadirnya anggota keluarga (Mitayani, 2009).
Cuningham (2006) masa nifas atau postpartum disefisinisikan sebagai periode selama dan tepat setelah kelahiran.
Frasser (2009) empat minggu pertama setelah persalinan disebut periode pascanatal atau pascapartum.sebagai periode tidak kurang dari sepuluh hari  dan tidak lebih dari 28 hari setelah brakhirnya persalinan dan selama itu bantuan yang kontinu harus di berikan kepada ibu dan bayinya.
Masa nifas adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum lahir (Saleha. S, 2009).
2.    Tahap-tahap masa nifas
Saleha (2009) tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah:


a. Periode immediate postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, harus di lakukan pemeriksaan rutin kontraksi uterus, pengeluaran lokhea, tekanan darah dan suhu.
b. Periode early postpartum (24 jam-1 minggu)
Pada fase ini memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
c. Periode late postpartum (1 minggu-5 minggu)
Pada periode ini tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB. 
3.      Adaptasi Fisiologis Post Partum
Selama masa nifas, alat-alat interna maupun eksterna berangsur-angsur kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan keseluruhan alat genetalia ini di sebut involusi. Pada masa nifas juga terjadi perubahan-perubahan penting di antaranya adalah sebagai berikut:
a.    Sistem reproduksi
1) Uterus
Pada akhir tahap persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilicus dan besar uterus kira-kira sama dengan usia kehamilan 16 minggu (kira-kira sebesar jeruk asam) dan beratnyakira-kira 1000 gram. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilicus. Dalam beberapa hari kemudian perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari ke-9 pascapartum biasanya uterus sudah tidak bisa dipalapasi pada daerah abdomen. Setelah 1 minggu melahirkan ukurannya sudah kembali pada ukuran sebelum hamil yaitu 500 g dan 350 g (11-12 ons) 2 minggu setelah lahir  (Bobak, 2005; Saleha, 2009).
Involusi
Tinggi Fundus uteri
Berat Uterus
Bayi Lahir
Setinggi pusat, 2 jbpst*
1000 gr
1 minggu
Pertengahan pusat simfisis
750 gr
2 Minggu
Tidak teraba diatas simfisis
500 gr
6 Minggu
Normal
50 gr
8 Minggu
Normal tapi sebelum hamil
30 gr

2) Lokhea
Lokhea adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas.
Ada beberapa jenis lokhea yang terdapat pada wanita pada masa nifas yaitu:
a) Lokhea rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, set-set desidua, verniks caseosa, lanugo dan mekonium.
b) Lokhea sanguilenta berwarna merah kekuningan yang berisi darah dan lender yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7 pasca persalinan.
c) Lokhea serosa berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning yang keluar pada hari ke-7 sampai hari ke 14 pasca persalinan.
d) Lokhea alba bentuknya seperti cairan putih berbentuk krim yang terdiri atas leukosit dan sel-sel desidua yang keluar pada hari ke 14 yang keluar sedikit demi sedikit hingga berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya (Bobak, 2005; Saleha, 2009).
3)  Serviks
Serviks menjadi lunak setelah ibu melahirkan. 18 jam pascapartum, serviks memendek dan konsistennya lebih padat dan kembali ke  bentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan.pada hari ke-4 sampai ke-6 pascapartum, 2 jari mungkin bisa masuk kedalam muara serviks tetapi hanya tangkai kuret terkecil yang bisa di masukan pada akhir minggu ke-2 (Bobak, 2005).
4)  Vagina
Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerpenium merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali kembali seperti ukuran seorang nulipara. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Humen tampak sebagai tonjolan jarngan yang kecil, yang dalam proses pembentukan berubah menjadi kurun kulae mitiformis yang khas bagi wanita multipura (Saleha, 2009).
5)  Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Hemostasis  pascapartum di capai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agresi  trombosit dan pembentukan bekuan. Hormone oksigen yang di lepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi pembuluh darah, dan membantu hemostasis.  Selama 1-2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya suntikan oksitosin (Pitosin) secara intravena atau intramuskuler di berikan segera setelah plasenta lahir. Ibu yang merencanakan menyusui bayinya, dianjurkan membiarkan bayinya dipayudara segera setelah lahir karena isapan lahir pada payudara merangsang pelepasan oksitosin (Bobak, 2005).
B.     Sistem pencernaan
1) Mortalitas
Secara khas, penurunan tonus dan mortalitas otot traktus cerna    menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anesthesia bila memperlambat pengembalian tonus dan mortalitas ke keadaan normal. Mual dan muntah terjadi akibat reproduksi saliva meningkat pada kehamilan trimester I, gejala ini terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung kurang lebih 10 minggu terjadi pada ibu nifas.pada ibu nifas yang partus lama dan terlantar mudah terjadi ileus paralitikus, yaitu adanya obstruksi usus akibat tidak adanya peristaltik usus. Penyebabnya adalah buah dada dalam kehamilan dan partus lama, sehingga membatasi gerak peristaltic usus, serta bisa terjadi karena pengaruh psikis takut BAB karena ada luka pada perineum (Bobak, 2005; Saleha, 2009).  
1)   Defekasi
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan dan dehidrasi (Bobak, 2005).
C.     Sistem endokrin
Selama periode pascapartum, terjadi perubahan hormon yang besar yaitu:
1)   Hormon plasenta
Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikasi hormon-hormon yang diproduksi oleh organ tersebut. Penurunan hormone Human placental Lactogen (HPL), estrogen dan kortisol, serta plasenta insulinasi membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara yang bermakna pada masa puerpenium. Kadar estrogen dan progesterone menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendah dicapai kira-kira 1 minggu pascapartum. Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan dieresis cairan extraseluler berlebih berakumulasi selama masa hamil (Bobak, 2005).
2)  Hormon hipofisis dan fungsi ovarium
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk menegeluarkan prolaktin, hormon ini berperan dalam pemebesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang tidak menyusui bayinya tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14-21 hari setelah persalinan. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui berperan menenkan ovulasi. Kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil. Pada wanita menyusui, kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu ke-6 setelah melahirkan. Pada wanita tidak menyusui, ovulasi terjadi dini, dengan waktu rata-rata 70-75 hari. Pada wanita, waktu rata-rata terjadi ovulasi sekitar 190 hari (Bobak, 2005; Saleha, 2009).
D.     Abdomen
Di hari pertama setelah melahirkan, abdomen akan menonjol, dalam dua minggu setelah melahirkan, dinding abdomen pada wanita akan rileks. Dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil diperlukan waktu sekitar 6 minggu (Bobak, 2005).
E.     Sistem kardiovaskuler
1)   Volume darah
Pada minggu ke 3 dan ke 4 setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum hamil. Sewaktu melahirkan bayi tunggal pervaginam, ibu kehilangan 300-400ml darah, atau sekitar 2x lipat pada saat seksio sesaria.
Tiga perubahan fisiologis pascapartum yang melindungi wanita: (1) hilangnya sirkulasi uteruplasenta yang mengurangi ukuran pembuluh darah maternal 10%-15%; (2) hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus vasodilatasi; (3) terjadinya mebolisasi air ekstra vaskuler yang disimpan selama wanita hamil (Bobak, 2005)
2)   Curah jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Setelah melahirkan keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 menit karena darah yang melintasi sirkuit uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. Kembalinya hemodinamika jantung secara pasti ke kadar normal tidak tersedia, tetapi nilai curah jantung normal ditemukan bila di lakukan pemeriksaan 8 sampai 10 minggu setelah wanita melahirkan (Bobak, 2005).
F.      Sistem neurologi
Perubahan neurologis selama puerpenium merupakan kebalikan adaptasi neurologia yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma yang di alami wanita saat bersalin dan melahirkan. Eliminasi edema fisiologis melalui deuresis setelah bayi lahir menghilangnya sindrom carpal tunel dengan mengurangi kompresi saraf median. Rasa kesemutan pada jari yang di alami 5% wanita hamil biasanya hilang setelah anak lahir. Nyeri kepala pascapartum bisa di sebabkan  berbagai keadaan  termasuk hipertensi kehamilan, stress, dan kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang ekstradural selama jarum epidural diletakan di tulang punggung untuk anestesi. Lama nyeri kepala dari satu smapai tiga hari bahkan sampai beberapa minggu, tergantung pada penyebab dan efektivitas pengobatan (Bobak, 2005).
G.    Sistem muskuluskeletal
Adaptasi sitem muskuloskiletal pada ibu yang terjadi selama masa hamil berlangsung secara terbalik pada masa pascapartum. Adaptasi iini membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahanpuasat berat ibu akibat pembesaran rahim. Stabilitas sendi lengkap pada minggu keenam sampai ke-8 setelah wanita melahirkan (Bobak, 2005).
H.    Sistem integument
Kehamilan  yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areolla dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Pada wanita pigmentasi pada daerah tersebut akan menetap. Kulit yang merenggang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar tetapi tidak hilang seluruhnya. Kelainan pada pembuluh darah seperti spider angeoma, eritema palmar, dan epulis berkurang sebagai respon terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir. Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan, tetapi rambut kasar yang timbul sewaktu hamil  biasanya akan menetap. Konsisten dan kekuatan kuku akan kembali pada keadaan sebelum hamil (Bobak, 2005).
I.       Sistem urinarius
Penurunan kadar steroid pada wanita pasca partum sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama masa pasca partum. Fungsi ginjal kembali normal pada waktu 1 bulan setelah wanita melahirkan (Bobak, 2005).
Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan terdapat spasme sfingter dan edema leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan. Urine dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan. Keadaan ini akan menyebabkan deuresis, ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu (Farrer, 2005).
J.       Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital yang harus di kaji pada masa nifas sebagai berikut:


1) Suhu
    Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 0C. Sesudah partus dapat naik kurang lebih 0,5 0C dari keadaan normal, namun tidak akan melebihi 80 C. Sesudah dua jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari 38 0C, mungkin terjadi  infeksi pada klien. 
2) Denyut nadi
Denyut nadi dan volume sekuncup serta curah jantung tetap tinggi selama jam pertama setelah bayi lahir. Pada minggu ke 8-10 setelah melahirkan, denyut nadi kembali ke frekuensi sebelum hamil.
3) Pernapasan
Pernapasan harus berda dalam rentang normal sebelum melahirkan.
4) Tekanan darah
Tekanan darah sedikit berubah atau menetap. Hipotensi artostatik yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segera setelah berdiri, dapat timbul dalam 48 jam pertama (Bobak, 2005 ; Saleha, 2009).
K.    Laktasi
Sejak kehamilan muda, sudah mendapat persiapan-persiapan pada kelenjar-kelenjar mammae untuk menghadapi masa laktasi:
1)   Proliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar dan alveolua mammae dan lemak.
2)   Pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan, berwarna kuning (kolostrum).
3)   Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mammae. Pembuluh-pembuluh vena berdilatasi dan tampak dengan jelas. Tanda ini merupakan salah satu tanda tidak pasti kehamilan.
4)   Setelah partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang. Timbul oengaruh hormon-hormon hipofisis kembali, antara lactogenic hormone (prolaktin) yang dihasilkan pula. Mamme yang telah dipersiapkan pada masa hamil terpenuhi, dengan akibat kelenjar-kelenjar berisi air susu. Pengaruh oksitosi mengakibatkan miopitelium kelenjar-kelelnjar susu berkontraksi, sehingga air susu dikeluarkan. Umumnya produksi air susu baru berlangsung pada hari ke 2-3 post partum (Winkjosastro,2006).
4.      Adapatsi psikologis post partum
a. Taking in periode
Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangta bergantung pada orang lain, focus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat (Saleha, 2009).
b. Taking hold periode
Berlangsung 2-4 hari post partum, ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitive, sehinga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami oleh ibu (Saleha, 2009).
c. Letting go periode
Dialami setelah tiba ibu dan bayi tiba dirumah. Ibu mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai “seorang ibu” dan menyadari atau merasa ketuban bayi sangat tergantung pada dirinya (Saleha, 2009).
5.      Hal-hal yang harus di penuhi selama masa nifas adalah sebgai berikut:
a. Fisik
Istirahat, makan makanan yang bergizi, sering menghirup udara segar, dan lingkungan yang bersih.
b. Psikologi
Stres setelah persalinan dapat segera distabilkan dengan dukungan dari keluarga yang menunjukan rasa simpati, mengakui, dan mengharigai ibu.
c. Sosial
Menemani ibu bila terlihat kesepian, ikut menyayangi anaknya, menanggapi dan memperhatikan kebahagian ibu serta menghibur bila ibu terlihat sedih.



6.      Kebutuhan dasar ibu pada masa nifas
a.       Nutrisi dan cairan
Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang harus di berikan diet yang bergizi tinggi, cukup kalori, dan banyak mengandung cairan.
b.      Ambulasi
Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan. Keuntungan ambulasi dini adalah ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan ambulasi dini, faal usus dan kandung kemih lebih baik, ambulasi dini memungkinkan kita mengjarkan ibu cara merawat anaknya selama ibu masih di rumah sakit, lebih sesuai dengan keadaan Indonesia. Ambulasi dini tidak di benarkan pada ibu post partum dengan penyulit, seperti anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam.
c.       Eliminasi
1)      Buang air kecil
      Ibu di minta untuk buang air kecil 6 jam post partum. Jika dalam 8 jam post partum belum dapat berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi.


2)         Buang air besar
      Ibu post partum diharapkan dapat buang air besar setelah hari kedua post partum. Jika hari ketiga belum juga BAB, maka perlu diberi obat pencahar peroral atau per rekatal. Jika setelah pemberian obat pencahar masih belum bisa BAB, maka dilakukan huknah.
d.      Personal higiene
Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebesihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga.
e.       Istirahat dan tidur
Untuk memnuhi kebutuhan istirahat dan tidur pada ibu adalah anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan, sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi masih tidur.
f.       Aktivitas seksual
Aktivitas seksual yang dapat dilakukan oleh ibu masa nifas harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1)   Secara fisik aman untuk memenuhi hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu memasukan satu-satu jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri, maka ibu aman memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
2)   Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan.
g.      Latihan dan senam nifas
Setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ tubuh wanita. Involusi ini sangat jelas terlihat pada alat-alat kandungan. Akibatnya dinding perut menjadi lembek dan lemas disertai adanya striae yang membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu. Ibu akan selalu berusaha untuk memulihkan dan mengencangkan keadaan dinding perut yang sudah tidak indah lagi. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indah dan langsing seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas (Saleha. S, 2009).

B.     Seksio Sesaria
1.      Pengertian
Seksio sesaria merupakan lahirnya janin melaui  insisi di dinding abdomen (laparatomi)dan dinding uterus atau histerektomi (Cuningham, 2006).
          Seksio sesar adalah prosedur operasi untuk melahirkan bayi melalui sayatan pada dinding perut uterus (Wiknjosastro, 2008).
Mary Nolan (2004) bedah Caesar adalah pembedahan besar pada perut dan kebanyakan wanita membtutuhkan beberapa minggu, bahkan bulan untuk  pulih kembali.
Seksio sesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (FK Surabaya, 2003).
Menurut hasil urain di atas, seksio sesaria adalah pembedahan yang dilakukan secara transabdomina untuk melahirkan janin yang sudah mampu hidup, beserta plasenta dan selaput ketuban
2.    Indikasi seksio searia
Menurut Rasjidi (2009) indikasi seksio sesaria:
a. Indikasi mutlak
1)  Indikasi Ibu
a) Panggul sempit
Pengurangan ukuran pada satu atau lebih diameter utama panggul yang mempengaruhi kemajuan persalinan. Panggul yang sempit menyebabkan ketidaksesuaian ukuran antara ukuran janin dan ukuran jalan lahir yang paling sering terjadi. Rongga panggul dapat mengalami penyempitan pada pintu atas panggul berkurang menjadi 10 cm atau kurang dari 10 cm, atau ukuran diameter melintang terbesar 12 cm atau kurang. Penyempitan pintu atas panggul dapat terjadi akibatpenyakit riketsia atau umunya karena perkembangan yang buruk. Penyempitan panggul tengah telah mempunyai batasan yang tegas dibandingkan dengan penyempitan pintu atas panggul atau pintu bawah panggul. Namun, panggul tengah dianggap sempit apabila jarak antara tulang spina iskiadika kurang dari 9,0 cm (normalnya 10,5 cm) atau apabila jumlah jarak interspinosa dan sagitalis posterior kurang dari 13, 5 cm(normalnya 15,0 cm sampa 15,5 cm). penyempitan pintu bawah panggu dikenali terjadi apabila jarak antara tuberositas iskiadika kurang dari 8 cm.
b) Kegagalan melahirkan secara normal karena kurang adekuatnya stimulasi
c)  Tumor-tumor jalan lahir yang menyebabkan obstruksi
d)  Atenosi serviks atau vagina
e)  Plasenta previa
Plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus (rahim) sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internnum)
f) Disproporsi sefalopelvik
Keadaan yang menggambarkan ukuran janin ketidaksesusain anatara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak bisa keluar melalui vagina.
g) Rupture uterus (dehisensi dramataik/eskar) terjadi robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat di lampauinya daya renggang miomentrium.
2)  Indikasi Janin
a) Kelainan letak meliputi (1) letak sungsang yaitu keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uter;(2) letak lintang yaitu presentasi janin, dimana janin berada dalam posisi melintang atau tegak lurus terhadap jalan lahir.
b) Gawat janin adalah keadaan janin tidak memperoleh oksigen yang cukup, sehingga mengalami hipoksia dan dapat mengancam kesehatan janin.
c) Prolapsus tali pusat, tali pusat teraba disamping atau lebih rendah dari pada bagian depan sedangkan ketuban sudah pecah. Keadaan ini sangat berbahaya dan mengancam kehidupan janin.
d)  Perkembangn bayi yang terhambat
e)  Mencegah hipoksia janin, misalnya karena pre eklamsi
b. Indikasi Relatif
    Indikasi tersebut meliputi:
1) Riwayat seksio sesaria sebelumnya
2) Presentase bokong, bila bokong merupakan bagian terendah janin.
3) Distosia bahu
Distosia didefinisikan sebagai persalinan yang panjang, sulit, atau abnormal, yang timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan lima faktor persalinan.
4) Fetal distress
Perlambatan abnormal tenaga kerja, kehadiran meconium (feses hijau gelap dari janin) atau zat abnormal lainnya dalam cairan ketuban melalui pemantauan janin dengan perangkat elektronik yang menunjukan pH kulit kepala janin kurang dari 7.2.
5) Pre eklamsi sedang sampai berat
Tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu. Tekanan darah yang disertai dengan proteinuria (protei dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.
c. Indikasi sosial
1) Wanita yang takut melahirkan berdasarkan pengalaman sebelumnya
2) Wanita yang ingin seksio sesaria elektif karena takut bayinya mengalami cedera asfiksia selama persalinan atau mengurangi resiko kerusakan dasar panggul
3) Wanita yang takut terjadinya perubahan pada tubuhnya atau sexuality image setelah melahirkan.
Menurut Martin, Reeder, Koniak-Griffin (2011) indikasi seksio sesaria meliputi:
a.    Ibu dan janin
Distosia (kemajuan persalinan yang abnormal)adalah indikasi paling umum kedua yang pada umunya ditujukan sebagai suatu “kegagalan kemajuan” dalam persalinan. Hal ini berhubungan dengan ketidakmampuan antara ukuran panggul dengan ukuran kepala janin, atau aksi kontraksi uterus yang abnormal.


b.    Ibu
Penyakit ibu yang berat, seperti penyakit jantung berat, diabetes mellitus, pre eklamsi berat atau eklamsia, kanker serviks, atau infeksi berat (yaitu, virus herpes simpleks tipe II atau herpes lesi aktif). Penyekit tersebut membutuhkan persalinan seksio sesarea karedna beberapa alasan ; untuk mempercepat pelahiran dalam suatu kondisi yang kritis, karena klien dan janinnya tidak mampu menoleransi persalinan, atau janin akan terpajan dengan resiko bahaya yang meningkat saat melalui jalan lahir.
Pembedahan uterus sebelumnya, termasuk miomektomi, pelahiran pelahiran sesaria sebelumnya dengan insisi klasik atau rekonstruksi uterus.
c.    Janin
Gawat janin, seperti janin dengan kasus prollaps talimpusat, insufisiensi uteruplasenta berat, malpresentasi, seperti letak lintang, janin dengan presentasi dahi.
Kehamilan ganda dengan bagian terendah janin kembar adalah pada posisi melintang bokong.
d.   Plasenta
Plasenta tertanam di segmen bawah uterus sehingga seluruhplasenta menutupi serviks internal. Plasenta diklasifikasikan sebagai plasenta previa total, sebagian atau implantasi rendah berdasarkan letak plasenta di segmen bawah uterus dan derajat penutupan mulut serviks internal. Plasenta previa total terjadi saat plasenta plasenta menutupi mulut serviks internal secara menyeluruh. Implantasi rendah plasenta terjadi ketika plasenta sampai ke bagian mulit serviks internal sehingga plasenta dapat tepalpasi oleh dokter saat eksplorasi digital disekitar serviks, tetapi tidak melebar bagian pinggir mulut internal.
3.      Kontra Indikasi
Menurut Rasjidi, imam (2009) kontra indikasi seksio sesaria adalah :
a) Janin mati
b) Syok pada ibu akibat perdarahan
c) Anemia berat pada ibu
d) Kelainan congenital berta
e) Infeksi piogenik pada dinding abdomen
f) Minimnya fasilitas operasi sectio caesaria
4.      Komplikasi
Komplikasi menurut Jitowiyono (2010) adalah :
a.  Infeksi puerperal
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis.
b.  Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
c. Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru.
d. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi rupture uteri.
e.  Pada anak
Nasib anak yang dilahirkan dengan seksio sesaria banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan seksio sesaria.
Komplikasi yang kemungkinan muncul setelah di lakukan tindakan operasi seksio sesaria antara lain:
a.    Komplikasi ibu
1)      Infeksi puerperal (nifas)
a)      Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari.
b)      Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung.
c)      Berat, peritonialis, sepsis dan usus peristaltik.
2)      Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.
3)      Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi.
4)      Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya.



b.    Komplikasi bayi  
Anestesi umum mempunyai depresi pada pusat pernapasan janin sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan apneu yang tidak dapat diatasi dengan mudah (Winkjosastro, 2006).
5.  Macam-macam seksio sesaria
Menurut Baston, Hall (2012) seksio sesaria di bagi menjadi 4 macam:
a) Section caesaria klasik atau corporal adalah insisi memanjang pada segmen atas uterus.
b) Section caesaria transperitonealis profunda adalah insisi pada segmen bawah rahim. Tehik yang sering di lakukan ada 2 macam yaitu tehnik melintang (secara keer) dan tehnik memanjang (secara kronik)
c) Section caesaria extra peritnialis, pada rongga peritoneum tidak di buka saat operasi, dahulujenis operasi ini sering di lakukan pada penderita dengan infeksi intra uterin yang berat, tetapi untuk sekarang operasi ini jarang di lakukan.
d) Caesaria section hysterectomy, seetelah section caesaria di kerjakan histerektomi dengan indikasi antonia uteri, plasenta accrete, myoma uteri, infeksi intra uterin yang berat.
6. Patofisiologi seksio sesaria
                        Plasenta previa, cepallo pelvic disproportion, pre eklamsi, ketuban pecah dini, partus tak maju, partus lama, distosia servik dan mal presentasi janin adalah indikasi dilakukannya seksio sesaria. Seksio sesaria akan memberikan dampak fisik dan fisiologi bagi ibu, selain itu trauma fisik akibat prosedur pembedahan seksio sesaria, dan efek dari anestesi adalah dengan adanya penurunan kerja pons varoli dan modulla oblongata. Sehingga akan mempengaruhi penurunan kerja system saraf pernapasan kemudian reflek batuk, maka mengakibatkan akumulasi skret dari  penurunan pons varoli mempengaruhi penurunan kerja otot eliminasi dan penurunan peristaltik usus sehingga mengakibatkan konstipasi dan juga mempengaruhi penurunan sensitivitas uretra.
Luka post operasi juga menimbulkan jaringan terputus dan merangsang area sensorik kemudian akan menimbulkan rasa nyeri. Dari luka post operasi juga membuat jaringan terbuka sehingga apabila perawatan luka kurang maka akan menimbulkan post de entry kuman patogen (infeksi bakteri).
Dampak fisik juga mempengaruhi distensi kandung kemih juga mengakibaktkan gangguan pada BAK, selain itu juga mempengaruhi penurunan progesterone dan estrogen. Pada progesterone akan mempengaruhi kontraksi uterus apabila kontraksi tidak adekuat akan terjadi perdarahan mengakibatkan kelemahan dan kekurangan cairan dan eletrolit. Pada estrogen mempengaruhi peningkatan hormon prolaktin dan pengeluaran ejeksi ASI. Selain berdampak fisik, prosedur seksio sesaria juga berdampak psikologis bagi ibu yang akan mengalami operasi seksio sesaria akan merasa cemas, khawatir akan keberhasilan atau kegagalan tindakan seksio sesaria. Ibu juga akan khawatir akan diri dan bayinya (Mansjoer, 2001; Prawirohardjo, 2006).  
7.    Penatalaksanaan post seksio sesaria
Cuningham (2005):
1.    Pengeluaran pervaginam harus di pantau secra ketat; warna, bau dan jumlah.
2.    Fundus uteri harus sering di palpasi untuk memastikan uterus masih tetap berkontraksi atau tidak.
3.    Pemberian anlgesik untuk mengurangi nyeri pada luka bekas operasi.
4.    Periksa aliran darah uterus paling sedikit 30 ml/jam, untuk memantau apakah mengalami perdarahan atau tidak.
5.    Pemberian cairan IV 3 liter untuk 24 jam pertama setelah operasi, untuk mengganti cairan yang hilang.
6.    Ambulasi 1 hari setelah pembedahan, klien bisa turun sebentar dari tempat tidur dengan bantuan orang lain untuk mengurangi risiko terjadinya kekakuan otot den dekubitus.
7.    Perawatan luka, ganti balut hari ketiga setelah operasi untuk mengurangi risiko infeksi dan meningkatkan penyembuhan penyakit.
8.    Pemeriksaan laboratorium darah lengkap, Hematokrit (Ht) di ukur tiap hari untyk mengetahui adanya pengentalan dalam darah.
9.    Pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi.




C.    Pre eklamsi
1.      Pengertian
Pre eklamsia adalah sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitasi endotel.tanda penting dalam preeklamsi adalah adanya proteinuria (Cuningham, 2006).
             Menurut Bobak (2005) preeklamsi merupakansuatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Preeklamsi juga merupakan suatu penyakit vasospastik, yang melibatkan banyak system dan ditandai oleh hemokonsentrasi, hipertensi dan proteinuria.
               Pre eklamsia adalah tekanan darah ≥ 140/ 90 mmHg setelah umur kehamilan 20 minggu, disertai dengan proteinuria (Joseph, 2010).
                  Pre eklamsi meruapakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante, intra, dan postpartum.
2.    Jenis-jenis pre eklamsi
a.    Pre eklamsi Ringan
   Pre eklamsi ringan adalah timbulnya hipertensi di sertai proteinuria dan edema setelah umur kehamilan 20 minggu setelah persalinan.
b.    Pre eklamsi berat
Pre eklamsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Sujiyatini, 2009).
c.  Eklamsia
      Eklamsia adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan pre eklamsia yang tidak dapat di sebabkan oleh hal lain (Cuningham, 2002).
3.      Etiologi
                  Bobak (2005) etiologi dari pre eklamsi yaitu:
a.       Primigravida adalah wanita yang baru mengandung anak pertama atau wanita yang baru hamil.
b.      Ibu hamil yang sudah pernah hamil sebelumnya, minimal satu kali.
c.       Janin kembar
d.      Kehamilan dengan janin lebih dari satu
e.       Morbid obesitas
Penyakit kelebihan lemak atau berat badan lebih dari 20% di atas berat badan ideal yang berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan.
4.      Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala preeklamsia bervariasi luas dan sangat individual. Kadang-kadang untuk menentukan gejala-gejala preeklamsia mana yang timbul lebih dahulu. Secara teoritik urutan-urutan dari gejala yang timbul pada preeklamsia ialah edema, hipertensi, dan proteuneria; sehingga bila gejala ini timbul tidak dalam urutan diatas, dapat dianggap bukan preeklamsia. Dari semua gejala tersebut, timbulnya hipertensi dan proteinuria merupakan gejala yang paling penting (Prawirohardjo, 2008).
Gejala klinis pre eklamsia ringan meliputi:
a. Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih, diastole 15 mmHg atau lebih dari tekannan darah sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu atau lebih atau sistol 140 mmhg sampai kurang 160 mmHg, diastole 90 mmHa sampai kurang 110 mmHg.
b. Proteinuria adalah secara kuantifitas lebih 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif positif 2 (+2).
c. Edema pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan.
d. Kenaikan berat badan ibu 1 kg lebih perminggu selama 2x berturut-turut.
e. Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda pre eklamsi berat.
5.      Patofisiologi pre eklamsi
      Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapat aliran darah dari cabang-cabang arteri uterine dan arteri ovarika. Kedua pembuluh darah tersebut menembus miometrium berupa arteri arkuarta dan arteri arkuarta memberi cabang arteri radiallis. Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis dan arteri basalis memberi cabang arteri spiralis. Pada hamil normal dan sebab yang belum jelas, terjadi invasi trofoblas ke dalam lapisan otot arteri spirallis, yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis. Invasi trofoblas juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis, sehingga jaringan matriks menjadi gembur dan memudahkan lumen arteri spiralis mengalami distensi dan dilatasi. Distensi dan vasodilatasi lumen arteri spiralis ini member dampak penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskuler, dan peningkatan aliran darah pada daerah utero plasenta. Akibatnya, aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat menjamin pertumbuhan janin yang baik. Proses ini dinamakan remodeling arteri spiralis. Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot arteri spiralis menjadi tetap kaku dan keras sehingga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akibatnya, arteri spiralis relative mengalami vasokontriksi dan terjadi kegagalan remodeling arteri spiralis, sehingga aliran darah utero plasenta menurun, dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Dampak iskemia plasenta akan mengakibatkan perubahan-perubahan yang dapat menjelaskan pathogenesis selanjutnya.



6.      Komplikasi
a.       Bagi Ibu
Perdarahan intra kranial, kejang, koma akibat trauma karena kejang, gagal ginjal dan kematian (Prawirohardjo, 2008).
b.      Bagi janin
Janin yang dikandung ibu hamil mengidap preeklamsia akan hidup dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen dibawah normal. Keadaan ini bisa terjadi karena pembuluh darah yang menyalurkan darah ke plasenta menyempit. Karena buruknya nutrisi, pertumbuhan janin akan terhambat sehingga akan terjadi bayi dengan berat lahir rendah. Bisa juga janin dilahirkan kurang bulan (prematur), komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, asfiksia dan sebagainya (Yeyeh, 2010).
7.      Penatalaksanaan
a.     Penatalaksanaan rawat jalan pada pasien pre eklamsia ringan:
1). Banyak istirahat (berbaring tidur/miring)
2). Diet: cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.
3). Kunjungan ulang setiap 1 minggu.
4). Pemeriksaan laboratorium: hemoglobin, hematokrit, trombosit, urine lengkap, asam urat rendah, fungsi hati dan fungsi ginjal.
b.    Penatalaksanaan rawat tinggal pasien pre eklamsi ringan  berdasarkan kriteria:
1). Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih per minggu selama 2 kali berturt-turut (2 minggu).
2). Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda pre eklamsia berat (Sujiyatini, 2009).
c.  Winkjosasatro (2008) penatalaksanaan pre eklamsia berat meliputi:
1) Profilaksis kejang
a) Magnesium sulfat (MgSO4) intravena harus diberikan selama   persalinan dan selama evaluasi awal pasien penderita pre eklamsi berat.
 b) MgSO4 digunakan untuk menghentikan dan mencegah konvulsi tanpa menyebabkan depresi SSP umum untuk ibu maupun janin.
 c)   MgSO4 tidak di berikan untuk mengobati hipertensi.
 d) MgSO4 harus di berikan dengan metode infus terkendali/pantau untuk mencegah overdosis yang dapat bersifat letal.
 e)  MgSO4 yang di berikan secara parental dibersihkan hampir secara total oleh ekskresi ginjal
 f)  Kalsium glukonat (1 gm IV yang di suntik selama beberapa menit) mungkin diberikan untuk antidote toksisitas terjadi dan harus tersedia.
 g) Konvulsi eklamsia hampir selalu di cegah oleh kadar magnesium plasma dipertahankan pada 4-7mEq/L.
2.  Terapi anti hipertensi
a). Obat-obatan anti hipertensi menjaga agar perdarahan  intrakarnial pada ibu tidak terjadi.
b). Terapi kronis hipertensi sedang tidak akan menunda laju penyakit, memperpanjang kehamilan atau menurunkan resiko kejang.
c). Tekanan darah ibu tidak boleh diturunkan hingga lebih rendah dari 140/90 mmHg karena tekanan yang lebih rendah akan menurnkan perfusi utero-plasenta.





































E.  Asuhan keperawatan
1.      Pengkajian Doengoes (2001); Mitayani (2009):
a.       Sirkulasi
Kehilangan darah selama pembedahan kira-kira 600-800 ml, hioertensi dan pendarahan vagina.
b.      Integritas ego
Dapat menunjukan labilitas atau kegembiraan sampai ketakutan, marah atau menarik diri. Klien atau pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. Klien mungkin mngekspresikan ketidakmampuan untuk menghadapi situasi baru
c.        Eliminasi
Kateter urinarius mungkin terpasang, urin jernih atau pucat, bising usus tidak ada, samar atau jelas.
d.      Makanan dan cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal, nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, dan edema sebagai tanda-tanda hipertensi karena kehamilan.
e.       Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensori di bawah tingkat anestesi spunal epidural.


f.       Nyeri dan ketidaknyamanan
Mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misalnya: nyeri, trauma pembedahan atau insisi, kandung kemih penuh, efek-efek anestesi. Distosia, persalinan lama, terdapat nyeri tekan uterus.
g.      Pernapasan
Bunyi paru jelas atau vesikuller.
h.      Keamanan
Balutan abdomen tampak sedikit noda atau kering atau utuh. Jalur parental, bila digunakan paten dan sisi bebas eritema, akan bengkak dan nyeri tekan.prolaps tali pusat, distress janin, ancaman janin yang premature, presentasi bokong yang sefalik eksternal yang tidak berhasil, ketubah pecah selama 24 jam atau lebih, adanya komplikasi ibu seperti; hipertensi, diabetes mellitus, penyakit ginjal dan jantung.
i.        Reproduksi dan seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak setinggi umbilikus. Aliran lokea sedang dan bebas bekuan, berlebihan atau banyak.
2.      Pemeriksaan fisik
 Robert Priharjo (2007):
a.       Kepala dan rambut
Mengetahui bentuk dan fungsi kepala. Pengkajian yang di awali inspeksi kemudian palpasi. Inspeksi meliputi kesimetrisan kepala, tengkorak, warna dan distribusi rambut, serta kulit kepala. Palapsi meliputi keadaan rambut, massa, pembengkakan, nyeri tekan, keadaan tengkorak dan kulit kepala.
b.      Mata
Mengetahui bentuk dan fungsi mata. Pengkajian dilakukan cara inspeksi dan palpasi. Inspeksi meliputi, bagian-bagian mata yang perlu di amati yaitu bola mata, kelopak mata, konjungtiva, sclera dan pupil. Palapsi pada mata bertujuan ungtuk mengetahui tekanan bola mata dan mngetahui adanya nyeri tekan.
c.       Telinga
Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga/membrane tympani dan pendengaran.
d.      Hidung
Untuk mengtahui jalan napas (mengetahui ada atau tidak sumbatan, sperti: sekret dan benda asing).
e.       Mulut dan gigi
Untuk mengtahui kebersihan mulut dan bibir, mengamati apakah mukosa bibir lembab atau kering, sianosis atau tidak.
f.       Leher
Mengetahui bentuk leher dengan cara inspeksi sampai palpasi. Inspeksi dengan cara mengamati bentuk leher, warna kulit, adanya pembengkakan dan adanya masa. Palpasi untuk mengetahui adanya pembesaran limfe dan tiroid.

g.      Dada dan paru
Pemeriksaan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Inspeksi untuk mengetahui postur, bentuk dan kesimetrisan ekspansi. Palpasi untuk mengkaji keadaan kulit dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan taktil fremitus (vibrasi yang teraba yang dihantarkan melalui sistem bronkopulmonal selama seseorang berbicara). Perkusi untuk mengkaji ada atau tidaknya cairan, udara dan massa pada paru-paru. Auskultasi untuk mengetahui suara atau bunyi pernapasan.
h.      Jantung
Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Inspeksi dan palpasi untuk mengetahui adanya ketidaknormalan denyutan dan pembesaran jantung. Perkusi untuk mengetahui ukuran dan bentuk secara kasar. Auskultasi untuk mengetahui bunyi jantung.
i.        Mammae
Pengkajian dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Inspeksi untuk mengamati kesimetrisan, warna, lesi dan edema, pada ibu dan nifas areolla berwarna lebih gelap dan bentuk lebih besar dari sebelumnya. Palpasi untuk mengetahui nyeri tekan dan massa.
j.        Abdomen
Pemeriksaan dilakukan secara berurutan dari inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi. Inspeksi untuk mengatahui bentuk abdomen, pada post op seksio sesaria amati luka dan jahitan apakah ada kemerahan atau tidak, bengkak dan cairan. Auskultasi untuk mengetahui bising usus atau peristaltik usus, pada post op seksio sesaria suara bising usus mungkin kurang jelas karena adanya penurunan kerja usus dari efek anestesi. Perkusi untuk mengetahui adanya massa, gas atau cairan pada post op seksio sesaria suara terdengar timpani atau normal kecuali ada masalah dengan abdomen. Palapsi untuk mengetahui adanya pembesaran pada hepar dan pada post op seksio sesaria untuk mengetahui kontraksi uterus.
k.      Genetalia
Pada post op seksio sesaria amati warna dan bau pada pengeluaran pervagina seperti lokhea.
l.        Ekstremitas
Kaji khususnya pada fungsi pada ekstremitas bawah karena akibat dari efek spinal anestesi.
m.    Integument
Kaji turgor kulit dan capilerry refill pada post op seksio sesaria untuk mengetahui kehilangan darah saat pasca operasi.
3.      Data penunjang
a.       Pra operasi
1)      Pemantauan janin terhadap kesehatan janin
2)      Pemantauan EKG
3)      Jumlah darah lengkap
4)      Pemantauan elektrolit
5)      Golongan dari pencocokan silang darah
6)      Pemeriksaan sinar-X sesuai indikasi
7)      Ultrasound sesuai indikasi
b.      Pasca operasi
1)      Jumlah darah lengkap, hemoglobin/hematokrit: mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mngevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
2)      Urinalisis, kultur urine, vagina dan lokhea: pemeriksaan tambahan pada kebutuhan individual (Doengoes, 2001); (Bobak, 2005).
4.      Diagnosa keperawatan, intervensi dan rasional
Menurut Doengoes (2001):
a.    Gangguan eliminasi BAB: konstipasi berhubungan denganpenurunan peristaltik usus.
Kriteria hasil: Peritaltik usus meningkat/normal, BAB    normal/seperti pola kebiasaan dan konsisten lembek, tidak ada keluhan nyeri pada abdomen/adanya massa pada abdomen.
Intervensi dan Rasional
1)   Auskultasi bising usus, perhatikan distensi abdomen.
                          Rasional: indikator adanya/perbaikan ileus.
2)   Anjurkan klien untuk banyak minum kurang lebih 8 gelas per hari.
   Rasional: Meningkatkan pelunakan feses dan membantu merangsang peristaltik usus.
3)   Anjurkan klien untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang tinggi serat.
4)   Anjurkan klien untuk secepatnya melakukan mobilisasi: miring kanan dan kiri setiap 2 jam.
Rasioanal: membantu merangsang fungsi intestinal dan mengembalikan peristaltik.
5)   Kolaborasi pemberian obat pencahar.
Rasional: meningkatkan pelunakan feses.
b.        Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan post de entri atau invaksi bakteri.
Kriteria hasil: Luka bekas dari tanda-tanda infeksi seperti adanya pus dan luka kemerahan, menunjukan luka bebas dari drainase purulent dengan tanda awal penyembuhan (misalnya penyatuan tepi-tepi luka) uterus lunak, tidak ada nyeri tekan.
Intervensi dan rasional
1)   Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan, perhatikan kemerahan, edema, nyeri eksudat dan gangguan penyatuan.
Rasional: tanda-tanda untuk mngetahui adanya insfeksi.
2)   Kaji suhu, nadi dan jumlah sel darah putih.
Rasional: demam setelah pascaoperasi, takikardi dan   lekositosis menunjukan infeksi.
3)   Kaji lokasi dan kontraktilitas uterus, perhatikan perubahan  involusio atau adanya nyeri tekan yang ekstrim.
Rasional: setelah kelahiran sesaria, tinggi fundus uteri selama plasenta lahir setinggi umbilicus, bila involusio mulai yang disertai dengan peningkatan aliran lokhea, perlambatan involusi meningkat, perkembangan tekanan darah ekstrim menandakan adanya jaringan plasenta yang bertahan.
4)   Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan dan ganti balutan sesuai indikasi.
Rasional: rembesan menunujukan adanya hematom dan gangguan penyatuan jahitan, sedangkan balutan yang basah atau lembab merupakan media paling baik untuk pertumbuhan bakteri dan memudahkan bakteri untuk berpindah-pindah.
5)   Kolaborasi pemberian antibiotik.
Rasional: Digunakan untuk pertahanan tubuh dari    mikroorganisme.
c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi atau luka  setelah operasi, trauma pembedahan.
Kriteria Hasil: Klien akan mngidentifikasi dan melakukan cara untuk mengurangi nyeri, klien akan mengatakan nyeri berkuang, klien akan tampak rileks, dapat tidur dan istirahat dengan tenang.
Intervensi dan rasional
1)      Kaji, tentukan karakteristik dan lokasi nyeri serta perhatikan ekspresi perhatikan ekspresi klien.
Rasional: untuk menentukan dan mengetahui karakteristik,  lokasi dan tingkatan nyeri yang dirasakan oleh klien.
2)      Ajarkan tehnik-tehnik mengurangi nyeri (relaksasi napas panjang dan distraksi atau pengalihan perhatian).
Rasional: untuk memudahkan klien dalam mengurangi nyeri.
3)      Monitor tekanan darah dan nadi.
Rasional: nyeri dapat menyebabkan gelisah, meningkatkan tekanan darah dan nadi.
4)      Ubah posisi klien, kurangi rangsangan yang berbahaya dan anjurkan untuk tehnik relaksasi napas panjang dan distraksi.
Rasional: merilekskan otot dan mengalihkan perhatian dan rangsang nyeri dapat meningkatkan kenyamanan.
5)   Kolaborasi pemberian analgesik.
Rasional: dapat mengurangi nyeri yang berat sehingga meningkatkan kenyamanan dan memperbaiki status psikologis.
d. Inkontinensia urin berhubungan dengan penurunan sensitifitas uretra dan sensasi kandung kemih
Kriteria hasil: Klien dapat BAK dengan lancar, klien mengatakan rasa ingin berkemih.
Intervensi dan rasional
1)   Pantau eliminasi urin, meliputi: frekuensi, jumlah, bau dan warna.
 Rasional: untuk mengtahui apakah ada masalah dengan organ ginjal.
2)   Latih klien untuk melakukan bladder training.
 Rasional: latihan ini untuk mencoba cara menahan saat berkemih apabila tidak bisa dikendalikan.
3)   Ajarkan klien untuk latihan kegel’s exercise.
 Rasional: untuk meningkatkan otot perineal sehingga klien dapat mengontrol BAK.
4)   Batasi pemkain obat anti deuretik, anti histamin dan anti hipertensi.
  Rasional: karena obat-obatan tersebut dapat meningkatkan  pengeluaran urin.
5)   Kolaborasi pemasangan kateter urinaria apabila klien tidak mengontrol saat berkemih.
 Rasional: tindakan ini juga dapat mengurangi rasa nyeri pada saat berkemih.
e.    Tidak efektifnya menyusui berhubungan dengan karakteristik  payudara ibu, kurangnya pengetahuan tingkat pengetahuan.
Kriteria hasil: Klien memahami tentang proses suatu menyusui, klien mendemonstrasikan tehnik efektif menyusui, bayi tidak rewel, payudara kenyal.
Intervensi dan rasional
1)      Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui  sebelumnya.
 Rasional: untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien tentang   menyusui.
2)      Berikan informasi mengetahui fisiologi dan keuntungan menyusui,  perawatan payudara dan putting susu, keutuhan diet khusus, faktor-faktor yang memudahkan dan menghambat keberhasilan menyusui.
 Rasional: untuk meningkatkan pengetahuan klien.
3)      Demonstrasikan dan tinjau ulang tehnik-tehnik menyusui, perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui.
Rasional: posisi yang tepat dapat mencegah putting terluka, tanpa  memperhatikan lamanya menyusui.
4)        Kaji putting klien, anjurkan klien untuk memperhatiakan putting  setiap habis menyusui.
         Rasioanal: identifikasi dan intervensi dini dapat mencegah atau membatasi terjadinya luka atau pecah putting yang dapat merusak proses menyusui.
5)        Identifikasi sumber-sumber yang tersedia di masyarakat sesuai  indikasi.
Rasional: pelayanan ini mendukung pemberian ASI melalui pendidikan klien.
f.     Defisist volume cairan berhubungan dengan pengeluaran yang berlebihan.
Kriteria hasil: Tekanan tekanan darah dan nadi dalam batas normal, kontraksi uterus normal.
Intervensi dan rasional
1)   Kaji tekanan darah dan nadi.
 Rasional: takikardi dan hipotensi menunjukan hipovolemia.
2)   Lakukan massase uterus dan pantau fundus uteri
Rasional: meningkatkan kontraktilitas uterus, menurunkan resiko atonia uteri dan haemorogie.
3)   Anjurkan klien untuk minum sedikit 8 gelas atau lebih.
Rasional: mengkonsumsi air yang banyak, mengganti cairan yang hilang.
4)   Kaji frekuensi dan jumlah berkemih.
  Rasional: fungsi ginjal sebagai indicator volume sirkulasi darah.
5)   Diskusikan perubahan involusi normal atau tanda subinvolusi.
                        Rasional: klien harus mampu mengidentifikasi tanda haemorogie dan melakukan intervensi yang tepat bila terjadi perdarahan yang berlebihan.
6)   Kolaborasi dengan tim kesehatan jika fundus tetap menonjol atau gagal berkontraksi bila dimassase.
                        Rasional: obat-obtan mungkin diperlukan untuk mempertahankan    kontraksi miometrial.
g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, pembatasan gerak setelah operasi
Kriteria hasil: Klien dapat melakukan ADL secara bertahap, klien dapat toleran terhadap aktivitasnya.
Intervensi dan rasional
1)   Kaji kemampuan klien untuk beraktivitas.
Rasional: untuk mengetahui tingkat aktivitas yang bisa  dilakukan oleh pasien.
2)   Ajarkan klien untuk pentingnya mobilisasi.
   Rasional: agar klien tahu apabila klien hanya tiduran tidak  melakukan aktivitas akan mengakibatkan kerusakan kulit.
3)   Rencanakan kegiatan yang akan dilakukan untuk memulai latihan aktivitas.
Rasional: memberikan rencana aktivitas secara bertahap dari  mulai gerak di tempat tidur sampai turun dari kasur.
4)   Bantu dan libatkan keluarga dalam memenuhi ADL.
 Rasional: membantu dan memnuhi kebutuhan ADL klien.
5)   Ajarkan pada klien tentang ambulasi dini secara bertahap.
 Rasional: mangajari klien untuk beraktivitas sedikit demi sedikit.
h. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake nutrisi
    Kriteria hasil: Tidak ada keluhan mual dan muntah, klien menghabiskan satu porsi makan, mukosa membrane lembab, klien tidak terlihat lemah.
    Intervensi dan Rasional
1)      Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan.
Rasional: Dapat meningkatkan pengetahuan pasien tentang manfaat nutrisi guna penyembuhan luka.
2)      Menganjurkan pasien untuk makan dengan porsi kecil tapi sering.
Rasional: Porsi kecil tapi sering dapat mengurangi keluhan rasa ingin mual dan muntah.
3)      Timbang berat badan tiap hari.
Rasional: Penurunan berat badan lebih dari 20% mengidentifikasi nutrisi kurang dari kebutuhan.
4)      Anjurkan pasien untuk mengurangi atau menghindari bau-bauan yang merangsang atau menyebabkan rasa ingin muntah.
Rasional: Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa ingin muntah.
5)      Pertahankan kebersihan mulut yang baik sebelum dan sesudah maka.
Rasional: Kebersihan mulut dapat meningkatkan nafsu makan.
j.        Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan terhadap kebutuhan diri dan ketergantungan.
Kriteria hasil: Klien mendemonstrasikan tehnik-tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi dan rasional
1)      Pastikan berat atau durasi ketidaknyamanan, perhatikan adanya sakit kepala pascaspinal.
2)      Kaji status psikologis pasien.
Rasional: Pengalaman nyeri fisik mungkin disertai dengan nyeri mental yang mempengaruhi keinginan pasien dan motivasi untuk mendapatkan hak pasien.
3)      Ubah posisi pasien setiap 1-2 jam, bantu dalam ambulasi dan latihan kaki.
Rasional: Untuk mencegah komplikasi seperti flebitis atau pneumonia yang terjadi jika ketidaknyamanan mempengaruhi pasien.
4)      Berikan bantuan sesuai kebutuhan hygiene pasien (missal: perawatan mulut, mandi dan perawatan perineal).
Rasional: indicator adanya/perbaikan ileus.
5)      Berikan pilihan bila mungkin (missal: pemilihan jadwal mandi, pemilihan jarak selama ambulasi).
Rasional: Meningkatkan kenyamanan dan dapat mempengaruhi untuk melaksanakan perawatan diri.
k.      Perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan adanya tambahan anggota keluarga.
Kriteria hasil: Keluarga mendemonstrasikan respon terhadap isyarat bayi, mengungkapkan resolusi positif mengenai perubahan gaya hidup dan tambahan anggota keluarga.
Intervensi dan Rasional
1)      Kaji kedekatan orang tua dengan bayi.
Rasional: Ikatan kedekatan harus kuat pada 4-6 minggu post partum.
2)      Tinjau ulang faktor-faktor budaya dan harapan.
Rasional: Keyakinan budaya mempengaruhi interaksi oranrtua dan anak.
3)      Diskusikan masalah pasien atau pasangan mengenai perilaku dan ketrampilan-ketrampilan menjadi orang tua.
Rasional: membantu menghilangkan ansietas, memberikan kesempatan untuk penguatan positif untuk upaya-upaya serta meningkatkan pertumbuhan.
4)      Kaji resolusi berduka berkenaan dengan asumsi peran baru dan kehilangan gaya hidup yang lama.
Rasional: Adaptasi pada peran menjadi orang tua baru dan integritas bayi ke dalam keluarga menyebabkan berduka sementara terhadap kehilanganpola hidup lama dan kebutuhan untuk menurunkan atau mngeubah karir atau peran-peran social.
5)      Catat kemajuan ke arah pemulihan gaya hidup dan stabilisasi bayi.
Rasional: Kegagalan untuk maju dan depresi pasca partum mempunyai dampak negatif pada kedekatan dan menandakan kebutuhan terhadap evaluasi atau intervensi lanjut.
k. kurang pengetahuan mengenai perawatan kondisi bayi dan dirinya berhubungan dengan  kurang mengingat atau mengenal sumber-sumber informasi.
     Kriteria hasil: Pasien mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis dan kebutuhan-kebutuhan yang di inginkan.
     Intervensi dan Rasional
1)      Kaji pengetahuan pasien, pemahaman dan kemampuan untuk menerapkan konsep yang berhubungan dengan perawatan diri.
Rasional: Kelelahan, ansietas atau pembatasan fisik dapat mempunyai dampak negatif pembelajaran pada waktu tersebut.
2)      Berikan informasi berhubungan dengan involusi uterus yang normal dan perubahan lokhea untuk mengantisipasi perubahan fisik dan emosioanal.
Rasional: Masase dapat menstimulasi kontraktilitas uterus, menurunkan aliran lokhea serta meningkatkan involusi.
3)      Tinjau ulang pemahaman pasien tentang informasi yang diterima selama prenatal, intrapartum dan pasca partum, dan berikan informasi atau penjelasan kesalahan konsep bila perlu.
Rasional: Pengulangan informasi dapat membantu dan memberikan kesempatan untuk mendiskusikan ide-ide dan masalah.
4)      Berikan informasi mengenai perawatan bayi, kebutuhan imunisasi, pemberian maka, pertumbuhan dan perkembangan yang normal.
Rasional: Dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan fisik, psikologis dan nutrisi bayi.
5)      Tentukan rencana-rencana pasien atau pasangan untuk penggunaan kontrasepsi dan tentukan pilihan-pilihan sesuai indikasi.
Rasional: Membantu, mencegah kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak direncanakan dan membantu pilihan pasien dalam memilih kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi ibu.


BAB III
TINJAUAN KASUS

A.    Pengkajian
1.      Biodata dan penanggung jawab pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal 19 Juni 2012, jam 07.30 WIB data yang didapat:
      Nama               : Ny. S
      Umur               : 25 tahun
      Alamat            : Jl. Anyar Beringin
      No. RM           : 287152
Pasien dirawat di ruang Bougenville dengan post operasi seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan, pasien masuk rumah sakit pada tanggal 16 Juni 2012 , penanggung jawab pasien adalah suaminya yang bernama Tn. E yang berumur 27 tahun.
2.      Riwayat kesehatan
a.       Keluhan utama
Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi.
b.      Status obstetrik
Pasien  nifas hari ke-2 dengan riwayat P1A1. Tipe persalinan seksio sesaria berat badan bayi 2800 gr, umur bayi 2 hari, bayi menangis spontan, tidak ada komplikasi nifas.

c.       Masalah kehamilan sekarang
Pada usia kehamilan 40 minggu 1 hari pasien mengatakan kenceng-kenceng, keluar lender darah, pasien mengatakan pada saat itu langsung periksa ke bidan kemudian oleh bidan klien di rujuk untuk melakukan persalinan di rumah sakit karena tekanan darah pasien 150/80 mmHg kemudian pasien di bawa ke ruang Bougenville.
d.      Riwayat persalinan sekarang
Pasien  mengatakan haid terakhir HPHt: 13-9-2011 dan HPL: 10-6-2012. Riwayat obstetric G2P0A1, kerana tekanan darah pasien tinggi mak pasien di lakukan persalinan seksio sesaria pada tanggal 17 Juni 2012 jam 7.45 WIB di ruang IBS atau ruang operasi.
e.       Riwayat KB
Pasien  mengatakan sebelumnya belum pernah KB
f.       Rencana KB
Pasien  mengatakan setelah persalinan anaknya akan melakukan KB suntik 3 bulan atau spiral.
3.      Kebutuhan dasar khusus
a.       Pola nutrisi
Sebelum sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari (nasi, lauk sayur, tahu tempe, ikan dan buah-buahan) minum 6 gelas air putih per har, BB: 85 kg, TB: 155 cm.
Selama sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari selalu di habiskan dengan lauk pauk yang diberikan dari rumah sakit. Pasien  mengatakan tidak ada pantangan dalam makan karena pasien ingin cepat sembuh, BB: 82 kg, TB: 155 cm.
b.      Pola eliminasi
Sebelum sakit pasien mengatakan BAB 1 x sehari (karakteristik konsisten lembek, bau khas, warna kuning), BAK 4-5 x sehari.
Selama sakit pasien belum pernah BAB selama setelah di lakukan operasi seksio sesaria, BAK hanya seklai saat mandi.
c.       Pola persepsi sensori dan kognitif
Sebelum sakit pasien mengatakan tidak ada gangguan pendengaran maupun penglihatan
Selama sakit pasien tampak meringis kesakitan saat bergerak.
Pasien mengatkan:
P  = nyeri saat di tekan
Q = nyeri sperti di sayat-sayat
R = nyeri pada daerah perut bagian bawah luka operasi
S = skala nyeri 5
T = nyeri saat bergerak dan berjalan
d.      Pola aktivitas dan latihan
Seblum sakit pasien mengatakan melakukan aktivitas dengan baik dan mandiri.
Selama sakit pasien mengatkanklien mengtakan sulit untuk bergerak, pasien hanya bisa bangun duduk dari tempat tidur.


Mandiri
Bantuan Minimal
Bantuan total
Bathing
-
-
Dressing
-
-
Toileting
-
-
Transferring
-
-
Continent
-
-
Feeding
-
-
Indeks Katz: C (pasien dapan melakukan aktivitas dengan bantuan minimal atau alat dua)
e.       Pola persepsi dan konsep diri
1) Citra diri
Pasien mengatkan tetap bersyukur dengan kondisi tubuhnya.
2) Identitas diri
Pasien mengatakan dirinya seorang perempuan dan sudah menikah
3) Peran diri
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, yang sudah mempunyai 1 orang anak peempuan yang baru lahir.
4) Ideal diri
Pasien berharap ingin cepat sembuh dan bisa berkumpul dengan keluarga
5) Harga diri
Pasien merasa tidak malu dengan kondisi fisiknya yang gemuk.
f.       Pola mekanisme koping
Pasien mengatakan apabila ada masalah selalu diseleseikan dengan baik dan di musyawarahkan dengan suaminya.
4.      Pemeriksaan fisik dan TTV
Keadaan umum: baik, tingkat kesadran: composmentis, tanda-tanda vital: tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 360 C, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit.
a.       Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, simetris, pupil isokor.
b.      Mulut
Mukosa bibir lembab, tidak ada caries gigi maupun gigi palsu, tidak ada sianosis.
c.       Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid.
d.      Dada
Pasien mengatakan mammae tidak membengkak, areolla mammae hitam, papilla mammae kedalam (inverted), ASI keluar sedikit bila di tekan.
e.       Paru
Inspeksi           : pengembangan paru kanan = kiri
Palpasi             : paru kanan kiri simetris
Perkusi            : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi       : tidak ada bunyi tambahan
f.       Jantung
Inspeksi           : iktus kordis tidak tampak
Palpasi             : iktus  kordis teraba di LMCS intercosta IV-V
Perkusi            : pekak di area jantung
Auskultasi       : bunyi jantung I dan II murni
g.      Abdomen
Inspeksi         : perut tidak distensi, striae tidak ada, terdapat luka   sayatan ±15 cm.
Auskutasi        : bising usus 10x/menit
Palpasi             : ada nyeri tekan
Perkusi            : tympani
TFU 2 jari di bawah umbilikus, kontraksi kuat
h.      Perineum dan vulva
Tidak dilakukan episiotomi, lokhea rubra berwarna merah, bau seperti menstruasi amis, banyaknya lokhea ± 200cc.
i.        Rektum
Tidak ada hemoroid
j.        Ekstremitas
Atas: tidak ada edema, tidak terpasang infus (infus sudah di lepas)
Bawah: tidak ada edema, tidak ada varises, CRT < 3 detik, reflek patella positif, tidak ada tanda homan.

k.      Integument
Turgor kulit elastik, warna kulit sawo matang dan bersih.
5.      Data penunjang
a.     Terapi
Terapi yang di dapat: cefadroxyl 3 x 500 mg, asam mefenamat 3 x 500 mg, vitamin B Complexs 1 x1 tablet, sero sulfat 1 x 1 tablet, vitamin A dan C 1 x 1 tablet.
b.      Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 17 Juni 2012 yaitu: leukosit 15,21 ribu/ul, Eritrosit 4,78 ribu/ul, trombosit 296 ribu/ul, hematokrit 37,20%, hemoglobin 12,30 g/dl.
c.       Diet: Nasi tinggi kalori tinggi protein.

B.     Analisa data
Data yang di dapat pada Ny. S tanggal 19 Juni 2012 dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri tersa di sayat-sayat (Q), nyeri di daerah perut bagian bawah pada luka operasi (R), skala nyeri 5 (S), nyeri saat bergerak (T), dan obyektifnya klien terlihat kesakitan dan memegangi perutnya, tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, muncul masalah gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputtusnya kontinuitas jaringan.
Data kedua sebagai berikut data subyektif klien mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan dan klien mengatakan belum mengetahui cara menyusui yang benar dan data obyektif yang di dapat adalah papilla mammae ke dalam atau inverted, bayi di ruang perinatologi, muncul masalah dengan ketidak efektifan  menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu.
Data yang ketiga sebagai berikut data obyektif yang di dapat pada abdomen tampak ada luka jahitan dengan diameter ± 15 cm, balutan pada luka tampak bersih tidak ada rembesan, lekosit 15,21 ribu/ul dan suhu 36 0C, muncul masalah dengan risiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen.
Data ke empat sebagai berikut data subyektif klien mengatakan sulit bergerak/berjalan, klien mengatakan hanya bisa miring ke kanan dan ke kiri secara perlahan dan data obyektif yang di dapat adalah klien di bantu suaminya saat akan melakukan aktivitas ke kamar mandi dan aktivitas lainnya, muncul masalah dengan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

C.    Diagnosa keperawatan
Data yang sudah ada dapat disimpulkan bahwa untuk prioritas utama adalah nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan, ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik fisik payudara ibu, dan selanjutnya resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen, yang terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

D.    Intervensi keperawatan
Rencana atau intervensi keperawatan pada diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau dikontinuitas jaringan tujuannya setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam diharapkan nyeri dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien tampak rileks atau nyaman, skala nyeri 5 menjadi 2. Intervensi dan rasionalnya sebagai berikut: kaji karakteristik dan lokasi nyeri (R/ untuk mengetahui karakteristik nyeri, lokasi dan tingkatan nyeri yang di rasakan pasien, ajarkan tehnik relaksasi napas dalam (R/  untuk mngurangi nyeri pada pasien), monitor tekanan darah dan nadi (R/ mengetahui KU pasien terhadap nyeri yang di rasakan), anjurkan pada pasien untuk bergerak secara perlahan-lahan saat mengubah posisi (R/ meningkatkan kenyamanan pasien dalam melakukan gerakan ringan), berikan analgesik oral sesuai advis dokter asam mefenamat 3x500mg(R/ mengurangi nyeri pasien).
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu setelah di lakukan tindakan 2 x 7 jam di harapkan putting dapat erektil, produksi ASI maksimal, bayi dapat minum ASI secara terus menerus. Intervensi dan rasionalnya kaji payudara (R/ untuk menegtahui menojolnya papilla mamae), ajarkan breascare (R/ untuk memperlancar ASI agar keluar), berikan penyuluhan kesehatan tentang ASI eksklusif dan tehnik menyusui yang benar (R/ untuk mengetahui manfaat ASI ekssklusif dan tehnik menyusui yang benar), dorong ibu untuk mengungkapkan masalah secara terbuka seperti pengetahuan cara menyusui (R/ mengetahui masalah ibu dan memberikan masukan untuk ibu memulai proses menyusui), beri informasi keuntungan menyusui (R/ menyusui dapat menghindari payudara dari penyakit kanker).
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entri kuman patogen setelah di lakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan tidak terjadi infeksi selama perdaraha dan pada luka operasi. Intervensi dan rasionalnya, kaji kondisi keluaran pus(warna, jumlah, dan bau (R/ perubahan yang terjadi pada setiap pus yang keluar, adanya warna yang lebih gelap disertai bau yang tidak enak mungkin terjadi tanda infeksi), gunakan aseptik setiap ingin melakukan tindakan (R/ mencegah organisme yang masuk ke dalam tubuh), terangkan pada pasien pentingnya perawatan luka post operasi (R/ infeksi dapat timbul karena kurangnya kebersihan luka), lakukan perawatan luka jahitan adakah rembesan atau tidak pada balutan (R/ inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi), terangkan pada pasien cara mengidentifikasi tanda infeksi (R/ demam dan rasa nyeri mungkin gejala infeksi), anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan makanan, tingkatkan kalori dan protein (R/ kalori dan protein akan cepat meningkatkan proses penyembuhan luka).
Diagnosa terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan pasien dapat melakukan ADL secara mandiri, pasien dapat toleran dengan aktivitasnya. Intervensi dan rasionalnya kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (R/ untuk  mengetahui aktivitas yang bisa dilakukan oleh pasien, ajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi (R/ apabila pasien tidak melakukan aktivitas akan mengakibatkan kerusakan kulit), rencanakan kegiatan yang akan dilakukan untuk memulai aktivitas (R/ memberikan rencana aktivitas secara bertahap mulai gerak dari tempat tidur sampai turun dari tempat tidur), bantu dalam memenuhi ADL (R/ membantu memenuhi kebutuhan ADL pasien), ajarkan pada pasien ambulasi dini secara bertahap (R/ membantu memotivasi pasien untuk beraktivitas sedikit demi sedikit secara perlahan), dorong pasien untuk tidak takut dalam beraktivitas (R/ memberikan semangat pada pasien untuk aktivitas secara mandiri).

E.     Implementasi
Implementasi pada hari selasa tanggal 19 Juni 2012 jam 07.45 – 13.30 WIB. Diagnosa pertama dilakukan mengkaji karakteristik nyeri: keluhan nyeri, lokasi, frekuensi, durasi dan intensitas nyeri, (respon pasien nyeri di bagian perut bawah, nyeri seperti di sayat-sayat, nyeri bertambah saat pasien bergerak, skala nyeri 5 muncul sewaktu-waktu, dan data obyektifnya pasien terlihat kesakitan saat bergerak). Mengajarkan tehnik napas dalam saat nyeri muncul, (respon pasien mengatakan lebih rileks dan nyaman). Monitor tanda-tanda vital didapatkan data tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, memberikan obat oral cefadroxin 500 mg, asam mefenamat 500 mg, vit A dan C 1 tablet, (respon pasien terlihat kooperatif).
            Diagnosa kedua di lakukan mengkaji kondisi payudara pasien, (respon pasien mengatakan ASI belum keluar dan data obyektifnya ASI keluar saat di tekan). Memberikan penyuluhan kesehatan tentang ASI eksklusif dan cara menyusui yang benar, (respon pasien terlihat kooperatif). Mengajarkan cara menyusui yang benar, (respon pasien mengatakan bersedia di ajarkan tehnik menyusui yang benar dan pasien terlihat sudah mulai paham cara menyusui yang benar).Menganjurkan pada pasien untuk mengkaji keadaan putting sebelum dan sesudah menyusui. Mengajarkan breastcare perawatan payudara pada pasien, (respon pasien mengatakan bersedia diajarkan breastcare dan pasien terlihat kooperatif).
            Diagnosa ketiga di lakukan mengkaji keadaan luka, (respon pasien mengatakan luka sakit saat ditekan/bergerak). Menerangkan pada pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi, (respon pasien mengatakan tidak tahu tanda-tanda infeksi dan pasien terlihat mengerti setelah diterangkan tanda-tanda infeksi). Mengkaji jumlah lokhea dan bau, (respon pasien dari data obyektif bau tidak menyengat dan jumlahnya ±200 cc). Mengkaji balutan abdominalis terhadap eksudat, adanya rembesan di balutan, (respon pasien pasien mengatakan saat mandi berhati-hati agar balutan tidak basah dan balutan terlihat kering tidak basah dan tidak ngrembes).
            Diagnosa keempat di lakukan mengajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi dini (miring ke kanan dan ke kanan dan ke kiri), (respon pasien mengatakan dapat miring kanan dan kiri dan pasien terlihat melakukan miring kanan dan kiri secara perlahan). Mengajarkan pada pasien untuk aktivitas turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan dengan bantuan minimal, (respon pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan-lahan dan pasien terlihat berjalan dan turun dari tempat tidur secara perlahan dengan dibantu suaminya). Dorong partisipasi pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan individu, (respon pasien mengatakan bisa jalan secara perlahan dan pasien terlihat berjalan perlahan ke ruang perinatologi dengan dibantu suaminya untuk memberikan ASI pada bayinya).
            Hari ke dua tanggal 20 Juni 2012 dari jam 08.00 sampai 09.50 WIB. Untuk diagnosa pertama di lakukan memonitor TTV, (respon pasien bersedia di lakukan TTV dan obyektifnya tekan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,20C). Mengkaji tingkat karakteristik nyeri, (respon pasien mengatakan nyeri saat berjalan (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah luka operasi (R), skala nyeri 2 (S), nyeri saat berjalan (T).
            Diagnosa kedua dilakukan menganjurkan pasien untuk makan yang banyak protein dan banyak makanan yang bergizi, (respon pasien mengatakan makan makanan yang diberikan dari rumah sakit dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat). Memantau klien melakukan tehnik menyusui dengan benar, (respon pasien mengatakan sudah mulai bisa menyusui dengan benar dan pasien tampak rileks saat menyusui). Menganjurkan klien untuk memperhatikan keadaan putingnya setiap akan menyusui dan sesudah menyusui, (respon pasien mengatakan akan berhati-hati pada saat menyusui dan pasien terlihat mendengarkan anjuran perawat). Menganjurkan klien untuk menyendawakan bayinya setelah menyusui, (respon pasien tampak menyendawakan bayinya setelah menyusui). Menganjurkan klien untuk melakukan breascare secara mandiri, (respon pasien mengatakan akan melakukan breascare secara mandiri di rumah dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat).

F.     Evaluasi 
Evaluasi yang didapat pada tanggal 19 Juni 2012 dari implementasi yang sudah di lakukan pada diagnos pertama gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sbagai berikut: dari data subyektif pasien nyeri saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah perut terumam pada luka jahitan (R), skala nyeri 4 (S), nyeri muncul saat bergerak dan berjalan (T), data obyektif  pasien tampak kesakitan, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36 0C, maka masalah nyeri teratasi sebagian menjadi 4, rencana tindak lanjutnya kaji tingkatan rasa nyaman nyeri, monitor TTV, anjurkan pasien untuk relaksasi nafas dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan dan lanjutkan pemberian analgesik asam mefenamat 3x500 mg, vitamin B complex 1x1 tablet, vitamin A dan C 1x1 tablet sesuai advis dokter agar nyeri dapat di tolerir oleh pasien.
Diagnosa kedua ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan, pasien mengatakan bersedia menerapkan tehnik menyusui yang benar, data obyektif pasien terlihat bingung memposisikan bayinya dan paham dengan informasi yang diberikan, maka masalah ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan pasien untuk breastcare secara mandiri, beri informasi keuntungan menyusui, anjurkan pasien untuk mengkaji putting sebelum dan sesudah menyusui.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan selalu berhati-hati dalam menjaga balutan luka agar tidak ngrembes dan basah pada saat mandi, data obyektif  balutan luka kering tidak ada rembesan, maka masalah resiko tinggi infeksi teratasi sebagian (tidak ada pus ataupun rembesan pada balutan), rencana tindak lanjutnya kaji kondisi keluaran pus (warna, jumlah dan bau), lakukan perawatan luka, anjurkan pasien untuk mengidentifikasi tanda infeksi, anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan dalam makanan.
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik sebagai berikut data subyektif pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur dan makan minum secara mandiri, pasien mengatakan dapat berjalan ke ruang perinatologi melihat bayinya dengan dibantu suaminya, dan data obyektifnya pasien terlihat mandiri meskipun dilakukan secara perlahan dengan bantuan minimal, maka masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya mengkaji kemampuan aktivitas pasien, bantu memenuhi kebutuhan dasar  pasien, motivasi pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
Evaluasi yang didapat pada tanggal 20 Juni 2012 dari implementasi yang sudah di lakukan pada diagnosa yang pertama nyeri berhubungan dengan trauma pmebedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka operasi (P), nyeri seperti di sayat-sayat, pada perut terutama pada luka jahitan (R), skala nyeri 2 (S), nyeri muncul saat berjalan (T), pasien tampak rileks dan kuat berjalan, pasien di ijinkan pulang, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, pernapasan 20 x/menit, suhu 36,2 0C, maka masalah nyeri dapat teratasi menjadi 2, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk tehnik nafas dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan.
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut data subyektif pasien mengtakan ASI sudah keluar tapi belum lancar, pasien pasien sudah bisa menyusui dengan tehnik yang benar, dan data obyektifnya pasien tampak rileks dan nyaman pada saat menyusui, maka masalah ketidakefektifan  menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk breastcare atau perawatan payudara secara mandiri di rumah.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen sebagai berikut data obyektif luka jahitan bersih, tidak ada pus, jahitan menyatu tidak ada yang membuka, diameter jahitan ±15 cm, maka masalah resiko infeksi teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan pasien untuk menghabiskan obat sesuai advis dokter, anjurkan pasien untuk tidak pantangan makanan, gunakan tehnik aseptic setiap ingin melakukan tindakan, lakukan perawatan luka jahit (control kembali sealama 1 minggu).
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Data subyektif pasien mengatakan sudah bisa beraktivitas dengan mandiri secara perlahan, data obyektif pasien terlihat mandiri dalam beraktivitas seperti ke kamar mandi maupun berjalan, maka masalah intoleransi aktivitas teratasi.

BAB III
TINJAUAN KASUS

A.    Pengkajian
1.      Biodata dan penanggung jawab pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal 19 Juni 2012, jam 07.30 WIB data yang didapat:
      Nama               : Ny. S
      Umur               : 25 tahun
      Alamat            : Jl. Anyar Beringin
      No. RM           : 287152
Pasien dirawat di ruang Bougenville dengan post operasi seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan, pasien masuk rumah sakit pada tanggal 16 Juni 2012 , penanggung jawab pasien adalah suaminya yang bernama Tn. E yang berumur 27 tahun.
2.      Riwayat kesehatan
a.       Keluhan utama
Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi.
b.      Status obstetrik
Pasien  nifas hari ke-2 dengan riwayat P1A1. Tipe persalinan seksio sesaria berat badan bayi 2800 gr, umur bayi 2 hari, bayi menangis spontan, tidak ada komplikasi nifas.

c.       Masalah kehamilan sekarang
Pada usia kehamilan 40 minggu 1 hari pasien mengatakan kenceng-kenceng, keluar lender darah, pasien mengatakan pada saat itu langsung periksa ke bidan kemudian oleh bidan klien di rujuk untuk melakukan persalinan di rumah sakit karena tekanan darah pasien 150/80 mmHg kemudian pasien di bawa ke ruang Bougenville.
d.      Riwayat persalinan sekarang
Pasien  mengatakan haid terakhir HPHt: 13-9-2011 dan HPL: 10-6-2012. Riwayat obstetric G2P0A1, kerana tekanan darah pasien tinggi mak pasien di lakukan persalinan seksio sesaria pada tanggal 17 Juni 2012 jam 7.45 WIB di ruang IBS atau ruang operasi.
e.       Riwayat KB
Pasien  mengatakan sebelumnya belum pernah KB
f.       Rencana KB
Pasien  mengatakan setelah persalinan anaknya akan melakukan KB suntik 3 bulan atau spiral.
3.      Kebutuhan dasar khusus
a.       Pola nutrisi
Sebelum sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari (nasi, lauk sayur, tahu tempe, ikan dan buah-buahan) minum 6 gelas air putih per har, BB: 85 kg, TB: 155 cm.
Selama sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari selalu di habiskan dengan lauk pauk yang diberikan dari rumah sakit. Pasien  mengatakan tidak ada pantangan dalam makan karena pasien ingin cepat sembuh, BB: 82 kg, TB: 155 cm.
b.      Pola eliminasi
Sebelum sakit pasien mengatakan BAB 1 x sehari (karakteristik konsisten lembek, bau khas, warna kuning), BAK 4-5 x sehari.
Selama sakit pasien belum pernah BAB selama setelah di lakukan operasi seksio sesaria, BAK hanya seklai saat mandi.
c.       Pola persepsi sensori dan kognitif
Sebelum sakit pasien mengatakan tidak ada gangguan pendengaran maupun penglihatan
Selama sakit pasien tampak meringis kesakitan saat bergerak.
Pasien mengatkan:
P  = nyeri saat di tekan
Q = nyeri sperti di sayat-sayat
R = nyeri pada daerah perut bagian bawah luka operasi
S = skala nyeri 5
T = nyeri saat bergerak dan berjalan
d.      Pola aktivitas dan latihan
Seblum sakit pasien mengatakan melakukan aktivitas dengan baik dan mandiri.
Selama sakit pasien mengatkanklien mengtakan sulit untuk bergerak, pasien hanya bisa bangun duduk dari tempat tidur.


Mandiri
Bantuan Minimal
Bantuan total
Bathing
-
-
Dressing
-
-
Toileting
-
-
Transferring
-
-
Continent
-
-
Feeding
-
-
Indeks Katz: C (pasien dapan melakukan aktivitas dengan bantuan minimal atau alat dua)
e.       Pola persepsi dan konsep diri
1) Citra diri
Pasien mengatkan tetap bersyukur dengan kondisi tubuhnya.
2) Identitas diri
Pasien mengatakan dirinya seorang perempuan dan sudah menikah
3) Peran diri
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, yang sudah mempunyai 1 orang anak peempuan yang baru lahir.
4) Ideal diri
Pasien berharap ingin cepat sembuh dan bisa berkumpul dengan keluarga
5) Harga diri
Pasien merasa tidak malu dengan kondisi fisiknya yang gemuk.
f.       Pola mekanisme koping
Pasien mengatakan apabila ada masalah selalu diseleseikan dengan baik dan di musyawarahkan dengan suaminya.
4.      Pemeriksaan fisik dan TTV
Keadaan umum: baik, tingkat kesadran: composmentis, tanda-tanda vital: tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 360 C, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit.
a.       Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, simetris, pupil isokor.
b.      Mulut
Mukosa bibir lembab, tidak ada caries gigi maupun gigi palsu, tidak ada sianosis.
c.       Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid.
d.      Dada
Pasien mengatakan mammae tidak membengkak, areolla mammae hitam, papilla mammae kedalam (inverted), ASI keluar sedikit bila di tekan.
e.       Paru
Inspeksi           : pengembangan paru kanan = kiri
Palpasi             : paru kanan kiri simetris
Perkusi            : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi       : tidak ada bunyi tambahan
f.       Jantung
Inspeksi           : iktus kordis tidak tampak
Palpasi             : iktus  kordis teraba di LMCS intercosta IV-V
Perkusi            : pekak di area jantung
Auskultasi       : bunyi jantung I dan II murni
g.      Abdomen
Inspeksi         : perut tidak distensi, striae tidak ada, terdapat luka   sayatan ±15 cm.
Auskutasi        : bising usus 10x/menit
Palpasi             : ada nyeri tekan
Perkusi            : tympani
TFU 2 jari di bawah umbilikus, kontraksi kuat
h.      Perineum dan vulva
Tidak dilakukan episiotomi, lokhea rubra berwarna merah, bau seperti menstruasi amis, banyaknya lokhea ± 200cc.
i.        Rektum
Tidak ada hemoroid
j.        Ekstremitas
Atas: tidak ada edema, tidak terpasang infus (infus sudah di lepas)
Bawah: tidak ada edema, tidak ada varises, CRT < 3 detik, reflek patella positif, tidak ada tanda homan.

k.      Integument
Turgor kulit elastik, warna kulit sawo matang dan bersih.
5.      Data penunjang
a.     Terapi
Terapi yang di dapat: cefadroxyl 3 x 500 mg, asam mefenamat 3 x 500 mg, vitamin B Complexs 1 x1 tablet, sero sulfat 1 x 1 tablet, vitamin A dan C 1 x 1 tablet.
b.      Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 17 Juni 2012 yaitu: leukosit 15,21 ribu/ul, Eritrosit 4,78 ribu/ul, trombosit 296 ribu/ul, hematokrit 37,20%, hemoglobin 12,30 g/dl.
c.       Diet: Nasi tinggi kalori tinggi protein.

B.     Analisa data
Data yang di dapat pada Ny. S tanggal 19 Juni 2012 dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri tersa di sayat-sayat (Q), nyeri di daerah perut bagian bawah pada luka operasi (R), skala nyeri 5 (S), nyeri saat bergerak (T), dan obyektifnya klien terlihat kesakitan dan memegangi perutnya, tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, muncul masalah gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputtusnya kontinuitas jaringan.
Data kedua sebagai berikut data subyektif klien mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan dan klien mengatakan belum mengetahui cara menyusui yang benar dan data obyektif yang di dapat adalah papilla mammae ke dalam atau inverted, bayi di ruang perinatologi, muncul masalah dengan ketidak efektifan  menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu.
Data yang ketiga sebagai berikut data obyektif yang di dapat pada abdomen tampak ada luka jahitan dengan diameter ± 15 cm, balutan pada luka tampak bersih tidak ada rembesan, lekosit 15,21 ribu/ul dan suhu 36 0C, muncul masalah dengan risiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen.
Data ke empat sebagai berikut data subyektif klien mengatakan sulit bergerak/berjalan, klien mengatakan hanya bisa miring ke kanan dan ke kiri secara perlahan dan data obyektif yang di dapat adalah klien di bantu suaminya saat akan melakukan aktivitas ke kamar mandi dan aktivitas lainnya, muncul masalah dengan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

C.    Diagnosa keperawatan
Data yang sudah ada dapat disimpulkan bahwa untuk prioritas utama adalah nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan, ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik fisik payudara ibu, dan selanjutnya resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen, yang terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

D.    Intervensi keperawatan
Rencana atau intervensi keperawatan pada diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau dikontinuitas jaringan tujuannya setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam diharapkan nyeri dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien tampak rileks atau nyaman, skala nyeri 5 menjadi 2. Intervensi dan rasionalnya sebagai berikut: kaji karakteristik dan lokasi nyeri (R/ untuk mengetahui karakteristik nyeri, lokasi dan tingkatan nyeri yang di rasakan pasien, ajarkan tehnik relaksasi napas dalam (R/  untuk mngurangi nyeri pada pasien), monitor tekanan darah dan nadi (R/ mengetahui KU pasien terhadap nyeri yang di rasakan), anjurkan pada pasien untuk bergerak secara perlahan-lahan saat mengubah posisi (R/ meningkatkan kenyamanan pasien dalam melakukan gerakan ringan), berikan analgesik oral sesuai advis dokter asam mefenamat 3x500mg(R/ mengurangi nyeri pasien).
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu setelah di lakukan tindakan 2 x 7 jam di harapkan putting dapat erektil, produksi ASI maksimal, bayi dapat minum ASI secara terus menerus. Intervensi dan rasionalnya kaji payudara (R/ untuk menegtahui menojolnya papilla mamae), ajarkan breascare (R/ untuk memperlancar ASI agar keluar), berikan penyuluhan kesehatan tentang ASI eksklusif dan tehnik menyusui yang benar (R/ untuk mengetahui manfaat ASI ekssklusif dan tehnik menyusui yang benar), dorong ibu untuk mengungkapkan masalah secara terbuka seperti pengetahuan cara menyusui (R/ mengetahui masalah ibu dan memberikan masukan untuk ibu memulai proses menyusui), beri informasi keuntungan menyusui (R/ menyusui dapat menghindari payudara dari penyakit kanker).
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entri kuman patogen setelah di lakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan tidak terjadi infeksi selama perdaraha dan pada luka operasi. Intervensi dan rasionalnya, kaji kondisi keluaran pus(warna, jumlah, dan bau (R/ perubahan yang terjadi pada setiap pus yang keluar, adanya warna yang lebih gelap disertai bau yang tidak enak mungkin terjadi tanda infeksi), gunakan aseptik setiap ingin melakukan tindakan (R/ mencegah organisme yang masuk ke dalam tubuh), terangkan pada pasien pentingnya perawatan luka post operasi (R/ infeksi dapat timbul karena kurangnya kebersihan luka), lakukan perawatan luka jahitan adakah rembesan atau tidak pada balutan (R/ inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi), terangkan pada pasien cara mengidentifikasi tanda infeksi (R/ demam dan rasa nyeri mungkin gejala infeksi), anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan makanan, tingkatkan kalori dan protein (R/ kalori dan protein akan cepat meningkatkan proses penyembuhan luka).
Diagnosa terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan pasien dapat melakukan ADL secara mandiri, pasien dapat toleran dengan aktivitasnya. Intervensi dan rasionalnya kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (R/ untuk  mengetahui aktivitas yang bisa dilakukan oleh pasien, ajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi (R/ apabila pasien tidak melakukan aktivitas akan mengakibatkan kerusakan kulit), rencanakan kegiatan yang akan dilakukan untuk memulai aktivitas (R/ memberikan rencana aktivitas secara bertahap mulai gerak dari tempat tidur sampai turun dari tempat tidur), bantu dalam memenuhi ADL (R/ membantu memenuhi kebutuhan ADL pasien), ajarkan pada pasien ambulasi dini secara bertahap (R/ membantu memotivasi pasien untuk beraktivitas sedikit demi sedikit secara perlahan), dorong pasien untuk tidak takut dalam beraktivitas (R/ memberikan semangat pada pasien untuk aktivitas secara mandiri).

E.     Implementasi
Implementasi pada hari selasa tanggal 19 Juni 2012 jam 07.45 – 13.30 WIB. Diagnosa pertama dilakukan mengkaji karakteristik nyeri: keluhan nyeri, lokasi, frekuensi, durasi dan intensitas nyeri, (respon pasien nyeri di bagian perut bawah, nyeri seperti di sayat-sayat, nyeri bertambah saat pasien bergerak, skala nyeri 5 muncul sewaktu-waktu, dan data obyektifnya pasien terlihat kesakitan saat bergerak). Mengajarkan tehnik napas dalam saat nyeri muncul, (respon pasien mengatakan lebih rileks dan nyaman). Monitor tanda-tanda vital didapatkan data tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, memberikan obat oral cefadroxin 500 mg, asam mefenamat 500 mg, vit A dan C 1 tablet, (respon pasien terlihat kooperatif).
            Diagnosa kedua di lakukan mengkaji kondisi payudara pasien, (respon pasien mengatakan ASI belum keluar dan data obyektifnya ASI keluar saat di tekan). Memberikan penyuluhan kesehatan tentang ASI eksklusif dan cara menyusui yang benar, (respon pasien terlihat kooperatif). Mengajarkan cara menyusui yang benar, (respon pasien mengatakan bersedia di ajarkan tehnik menyusui yang benar dan pasien terlihat sudah mulai paham cara menyusui yang benar).Menganjurkan pada pasien untuk mengkaji keadaan putting sebelum dan sesudah menyusui. Mengajarkan breastcare perawatan payudara pada pasien, (respon pasien mengatakan bersedia diajarkan breastcare dan pasien terlihat kooperatif).
            Diagnosa ketiga di lakukan mengkaji keadaan luka, (respon pasien mengatakan luka sakit saat ditekan/bergerak). Menerangkan pada pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi, (respon pasien mengatakan tidak tahu tanda-tanda infeksi dan pasien terlihat mengerti setelah diterangkan tanda-tanda infeksi). Mengkaji jumlah lokhea dan bau, (respon pasien dari data obyektif bau tidak menyengat dan jumlahnya ±200 cc). Mengkaji balutan abdominalis terhadap eksudat, adanya rembesan di balutan, (respon pasien pasien mengatakan saat mandi berhati-hati agar balutan tidak basah dan balutan terlihat kering tidak basah dan tidak ngrembes).
            Diagnosa keempat di lakukan mengajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi dini (miring ke kanan dan ke kanan dan ke kiri), (respon pasien mengatakan dapat miring kanan dan kiri dan pasien terlihat melakukan miring kanan dan kiri secara perlahan). Mengajarkan pada pasien untuk aktivitas turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan dengan bantuan minimal, (respon pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan-lahan dan pasien terlihat berjalan dan turun dari tempat tidur secara perlahan dengan dibantu suaminya). Dorong partisipasi pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan individu, (respon pasien mengatakan bisa jalan secara perlahan dan pasien terlihat berjalan perlahan ke ruang perinatologi dengan dibantu suaminya untuk memberikan ASI pada bayinya).
            Hari ke dua tanggal 20 Juni 2012 dari jam 08.00 sampai 09.50 WIB. Untuk diagnosa pertama di lakukan memonitor TTV, (respon pasien bersedia di lakukan TTV dan obyektifnya tekan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,20C). Mengkaji tingkat karakteristik nyeri, (respon pasien mengatakan nyeri saat berjalan (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah luka operasi (R), skala nyeri 2 (S), nyeri saat berjalan (T).
            Diagnosa kedua dilakukan menganjurkan pasien untuk makan yang banyak protein dan banyak makanan yang bergizi, (respon pasien mengatakan makan makanan yang diberikan dari rumah sakit dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat). Memantau klien melakukan tehnik menyusui dengan benar, (respon pasien mengatakan sudah mulai bisa menyusui dengan benar dan pasien tampak rileks saat menyusui). Menganjurkan klien untuk memperhatikan keadaan putingnya setiap akan menyusui dan sesudah menyusui, (respon pasien mengatakan akan berhati-hati pada saat menyusui dan pasien terlihat mendengarkan anjuran perawat). Menganjurkan klien untuk menyendawakan bayinya setelah menyusui, (respon pasien tampak menyendawakan bayinya setelah menyusui). Menganjurkan klien untuk melakukan breascare secara mandiri, (respon pasien mengatakan akan melakukan breascare secara mandiri di rumah dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat).

F.     Evaluasi 
Evaluasi yang didapat pada tanggal 19 Juni 2012 dari implementasi yang sudah di lakukan pada diagnos pertama gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sbagai berikut: dari data subyektif pasien nyeri saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah perut terumam pada luka jahitan (R), skala nyeri 4 (S), nyeri muncul saat bergerak dan berjalan (T), data obyektif  pasien tampak kesakitan, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36 0C, maka masalah nyeri teratasi sebagian menjadi 4, rencana tindak lanjutnya kaji tingkatan rasa nyaman nyeri, monitor TTV, anjurkan pasien untuk relaksasi nafas dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan dan lanjutkan pemberian analgesik asam mefenamat 3x500 mg, vitamin B complex 1x1 tablet, vitamin A dan C 1x1 tablet sesuai advis dokter agar nyeri dapat di tolerir oleh pasien.
Diagnosa kedua ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan, pasien mengatakan bersedia menerapkan tehnik menyusui yang benar, data obyektif pasien terlihat bingung memposisikan bayinya dan paham dengan informasi yang diberikan, maka masalah ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan pasien untuk breastcare secara mandiri, beri informasi keuntungan menyusui, anjurkan pasien untuk mengkaji putting sebelum dan sesudah menyusui.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan selalu berhati-hati dalam menjaga balutan luka agar tidak ngrembes dan basah pada saat mandi, data obyektif  balutan luka kering tidak ada rembesan, maka masalah resiko tinggi infeksi teratasi sebagian (tidak ada pus ataupun rembesan pada balutan), rencana tindak lanjutnya kaji kondisi keluaran pus (warna, jumlah dan bau), lakukan perawatan luka, anjurkan pasien untuk mengidentifikasi tanda infeksi, anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan dalam makanan.
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik sebagai berikut data subyektif pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur dan makan minum secara mandiri, pasien mengatakan dapat berjalan ke ruang perinatologi melihat bayinya dengan dibantu suaminya, dan data obyektifnya pasien terlihat mandiri meskipun dilakukan secara perlahan dengan bantuan minimal, maka masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya mengkaji kemampuan aktivitas pasien, bantu memenuhi kebutuhan dasar  pasien, motivasi pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
Evaluasi yang didapat pada tanggal 20 Juni 2012 dari implementasi yang sudah di lakukan pada diagnosa yang pertama nyeri berhubungan dengan trauma pmebedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka operasi (P), nyeri seperti di sayat-sayat, pada perut terutama pada luka jahitan (R), skala nyeri 2 (S), nyeri muncul saat berjalan (T), pasien tampak rileks dan kuat berjalan, pasien di ijinkan pulang, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, pernapasan 20 x/menit, suhu 36,2 0C, maka masalah nyeri dapat teratasi menjadi 2, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk tehnik nafas dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan.
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut data subyektif pasien mengtakan ASI sudah keluar tapi belum lancar, pasien pasien sudah bisa menyusui dengan tehnik yang benar, dan data obyektifnya pasien tampak rileks dan nyaman pada saat menyusui, maka masalah ketidakefektifan  menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk breastcare atau perawatan payudara secara mandiri di rumah.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen sebagai berikut data obyektif luka jahitan bersih, tidak ada pus, jahitan menyatu tidak ada yang membuka, diameter jahitan ±15 cm, maka masalah resiko infeksi teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan pasien untuk menghabiskan obat sesuai advis dokter, anjurkan pasien untuk tidak pantangan makanan, gunakan tehnik aseptic setiap ingin melakukan tindakan, lakukan perawatan luka jahit (control kembali sealama 1 minggu).
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Data subyektif pasien mengatakan sudah bisa beraktivitas dengan mandiri secara perlahan, data obyektif pasien terlihat mandiri dalam beraktivitas seperti ke kamar mandi maupun berjalan, maka masalah intoleransi aktivitas teratasi.


BAB III
TINJAUAN KASUS

A.    Pengkajian
1.      Biodata dan penanggung jawab pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal 19 Juni 2012, jam 07.30 WIB data yang didapat:
      Nama               : Ny. S
      Umur               : 25 tahun
      Alamat            : Jl. Anyar Beringin
      No. RM           : 287152
Pasien dirawat di ruang Bougenville dengan post operasi seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan, pasien masuk rumah sakit pada tanggal 16 Juni 2012 , penanggung jawab pasien adalah suaminya yang bernama Tn. E yang berumur 27 tahun.
2.      Riwayat kesehatan
a.       Keluhan utama
Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi.
b.      Status obstetrik
Pasien  nifas hari ke-2 dengan riwayat P1A1. Tipe persalinan seksio sesaria berat badan bayi 2800 gr, umur bayi 2 hari, bayi menangis spontan, tidak ada komplikasi nifas.

c.       Masalah kehamilan sekarang
Pada usia kehamilan 40 minggu 1 hari pasien mengatakan kenceng-kenceng, keluar lender darah, pasien mengatakan pada saat itu langsung periksa ke bidan kemudian oleh bidan klien di rujuk untuk melakukan persalinan di rumah sakit karena tekanan darah pasien 150/80 mmHg kemudian pasien di bawa ke ruang Bougenville.
d.      Riwayat persalinan sekarang
Pasien  mengatakan haid terakhir HPHt: 13-9-2011 dan HPL: 10-6-2012. Riwayat obstetric G2P0A1, kerana tekanan darah pasien tinggi mak pasien di lakukan persalinan seksio sesaria pada tanggal 17 Juni 2012 jam 7.45 WIB di ruang IBS atau ruang operasi.
e.       Riwayat KB
Pasien  mengatakan sebelumnya belum pernah KB
f.       Rencana KB
Pasien  mengatakan setelah persalinan anaknya akan melakukan KB suntik 3 bulan atau spiral.
3.      Kebutuhan dasar khusus
a.       Pola nutrisi
Sebelum sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari (nasi, lauk sayur, tahu tempe, ikan dan buah-buahan) minum 6 gelas air putih per har, BB: 85 kg, TB: 155 cm.
Selama sakit pasien mengatakan makan 3 x sehari selalu di habiskan dengan lauk pauk yang diberikan dari rumah sakit. Pasien  mengatakan tidak ada pantangan dalam makan karena pasien ingin cepat sembuh, BB: 82 kg, TB: 155 cm.
b.      Pola eliminasi
Sebelum sakit pasien mengatakan BAB 1 x sehari (karakteristik konsisten lembek, bau khas, warna kuning), BAK 4-5 x sehari.
Selama sakit pasien belum pernah BAB selama setelah di lakukan operasi seksio sesaria, BAK hanya seklai saat mandi.
c.       Pola persepsi sensori dan kognitif
Sebelum sakit pasien mengatakan tidak ada gangguan pendengaran maupun penglihatan
Selama sakit pasien tampak meringis kesakitan saat bergerak.
Pasien mengatkan:
P  = nyeri saat di tekan
Q = nyeri sperti di sayat-sayat
R = nyeri pada daerah perut bagian bawah luka operasi
S = skala nyeri 5
T = nyeri saat bergerak dan berjalan
d.      Pola aktivitas dan latihan
Seblum sakit pasien mengatakan melakukan aktivitas dengan baik dan mandiri.
Selama sakit pasien mengatkanklien mengtakan sulit untuk bergerak, pasien hanya bisa bangun duduk dari tempat tidur.


Mandiri
Bantuan Minimal
Bantuan total
Bathing
-
-
Dressing
-
-
Toileting
-
-
Transferring
-
-
Continent
-
-
Feeding
-
-
Indeks Katz: C (pasien dapan melakukan aktivitas dengan bantuan minimal atau alat dua)
e.       Pola persepsi dan konsep diri
1) Citra diri
Pasien mengatkan tetap bersyukur dengan kondisi tubuhnya.
2) Identitas diri
Pasien mengatakan dirinya seorang perempuan dan sudah menikah
3) Peran diri
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, yang sudah mempunyai 1 orang anak peempuan yang baru lahir.
4) Ideal diri
Pasien berharap ingin cepat sembuh dan bisa berkumpul dengan keluarga
5) Harga diri
Pasien merasa tidak malu dengan kondisi fisiknya yang gemuk.
f.       Pola mekanisme koping
Pasien mengatakan apabila ada masalah selalu diseleseikan dengan baik dan di musyawarahkan dengan suaminya.
4.      Pemeriksaan fisik dan TTV
Keadaan umum: baik, tingkat kesadran: composmentis, tanda-tanda vital: tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 360 C, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit.
a.       Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, simetris, pupil isokor.
b.      Mulut
Mukosa bibir lembab, tidak ada caries gigi maupun gigi palsu, tidak ada sianosis.
c.       Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid.
d.      Dada
Pasien mengatakan mammae tidak membengkak, areolla mammae hitam, papilla mammae kedalam (inverted), ASI keluar sedikit bila di tekan.
e.       Paru
Inspeksi           : pengembangan paru kanan = kiri
Palpasi             : paru kanan kiri simetris
Perkusi            : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi       : tidak ada bunyi tambahan
f.       Jantung
Inspeksi           : iktus kordis tidak tampak
Palpasi             : iktus  kordis teraba di LMCS intercosta IV-V
Perkusi            : pekak di area jantung
Auskultasi       : bunyi jantung I dan II murni
g.      Abdomen
Inspeksi         : perut tidak distensi, striae tidak ada, terdapat luka   sayatan ±15 cm.
Auskutasi        : bising usus 10x/menit
Palpasi             : ada nyeri tekan
Perkusi            : tympani
TFU 2 jari di bawah umbilikus, kontraksi kuat
h.      Perineum dan vulva
Tidak dilakukan episiotomi, lokhea rubra berwarna merah, bau seperti menstruasi amis, banyaknya lokhea ± 200cc.
i.        Rektum
Tidak ada hemoroid
j.        Ekstremitas
Atas: tidak ada edema, tidak terpasang infus (infus sudah di lepas)
Bawah: tidak ada edema, tidak ada varises, CRT < 3 detik, reflek patella positif, tidak ada tanda homan.

k.      Integument
Turgor kulit elastik, warna kulit sawo matang dan bersih.
5.      Data penunjang
a.     Terapi
Terapi yang di dapat: cefadroxyl 3 x 500 mg, asam mefenamat 3 x 500 mg, vitamin B Complexs 1 x1 tablet, sero sulfat 1 x 1 tablet, vitamin A dan C 1 x 1 tablet.
b.      Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 17 Juni 2012 yaitu: leukosit 15,21 ribu/ul, Eritrosit 4,78 ribu/ul, trombosit 296 ribu/ul, hematokrit 37,20%, hemoglobin 12,30 g/dl.
c.       Diet: Nasi tinggi kalori tinggi protein.

B.     Analisa data
Data yang di dapat pada Ny. S tanggal 19 Juni 2012 dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri tersa di sayat-sayat (Q), nyeri di daerah perut bagian bawah pada luka operasi (R), skala nyeri 5 (S), nyeri saat bergerak (T), dan obyektifnya klien terlihat kesakitan dan memegangi perutnya, tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, muncul masalah gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputtusnya kontinuitas jaringan.
Data kedua sebagai berikut data subyektif klien mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan dan klien mengatakan belum mengetahui cara menyusui yang benar dan data obyektif yang di dapat adalah papilla mammae ke dalam atau inverted, bayi di ruang perinatologi, muncul masalah dengan ketidak efektifan  menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu.
Data yang ketiga sebagai berikut data obyektif yang di dapat pada abdomen tampak ada luka jahitan dengan diameter ± 15 cm, balutan pada luka tampak bersih tidak ada rembesan, lekosit 15,21 ribu/ul dan suhu 36 0C, muncul masalah dengan risiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen.
Data ke empat sebagai berikut data subyektif klien mengatakan sulit bergerak/berjalan, klien mengatakan hanya bisa miring ke kanan dan ke kiri secara perlahan dan data obyektif yang di dapat adalah klien di bantu suaminya saat akan melakukan aktivitas ke kamar mandi dan aktivitas lainnya, muncul masalah dengan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

C.    Diagnosa keperawatan
Data yang sudah ada dapat disimpulkan bahwa untuk prioritas utama adalah nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan, ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik fisik payudara ibu, dan selanjutnya resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen, yang terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

D.    Intervensi keperawatan
Rencana atau intervensi keperawatan pada diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau dikontinuitas jaringan tujuannya setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam diharapkan nyeri dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien tampak rileks atau nyaman, skala nyeri 5 menjadi 2. Intervensi dan rasionalnya sebagai berikut: kaji karakteristik dan lokasi nyeri (R/ untuk mengetahui karakteristik nyeri, lokasi dan tingkatan nyeri yang di rasakan pasien, ajarkan tehnik relaksasi napas dalam (R/  untuk mngurangi nyeri pada pasien), monitor tekanan darah dan nadi (R/ mengetahui KU pasien terhadap nyeri yang di rasakan), anjurkan pada pasien untuk bergerak secara perlahan-lahan saat mengubah posisi (R/ meningkatkan kenyamanan pasien dalam melakukan gerakan ringan), berikan analgesik oral sesuai advis dokter asam mefenamat 3x500mg(R/ mengurangi nyeri pasien).
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu setelah di lakukan tindakan 2 x 7 jam di harapkan putting dapat erektil, produksi ASI maksimal, bayi dapat minum ASI secara terus menerus. Intervensi dan rasionalnya kaji payudara (R/ untuk menegtahui menojolnya papilla mamae), ajarkan breascare (R/ untuk memperlancar ASI agar keluar), berikan penyuluhan kesehatan tentang ASI eksklusif dan tehnik menyusui yang benar (R/ untuk mengetahui manfaat ASI ekssklusif dan tehnik menyusui yang benar), dorong ibu untuk mengungkapkan masalah secara terbuka seperti pengetahuan cara menyusui (R/ mengetahui masalah ibu dan memberikan masukan untuk ibu memulai proses menyusui), beri informasi keuntungan menyusui (R/ menyusui dapat menghindari payudara dari penyakit kanker).
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entri kuman patogen setelah di lakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan tidak terjadi infeksi selama perdaraha dan pada luka operasi. Intervensi dan rasionalnya, kaji kondisi keluaran pus(warna, jumlah, dan bau (R/ perubahan yang terjadi pada setiap pus yang keluar, adanya warna yang lebih gelap disertai bau yang tidak enak mungkin terjadi tanda infeksi), gunakan aseptik setiap ingin melakukan tindakan (R/ mencegah organisme yang masuk ke dalam tubuh), terangkan pada pasien pentingnya perawatan luka post operasi (R/ infeksi dapat timbul karena kurangnya kebersihan luka), lakukan perawatan luka jahitan adakah rembesan atau tidak pada balutan (R/ inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi), terangkan pada pasien cara mengidentifikasi tanda infeksi (R/ demam dan rasa nyeri mungkin gejala infeksi), anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan makanan, tingkatkan kalori dan protein (R/ kalori dan protein akan cepat meningkatkan proses penyembuhan luka).
Diagnosa terakhir intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 7 jam di harapkan pasien dapat melakukan ADL secara mandiri, pasien dapat toleran dengan aktivitasnya. Intervensi dan rasionalnya kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (R/ untuk  mengetahui aktivitas yang bisa dilakukan oleh pasien, ajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi (R/ apabila pasien tidak melakukan aktivitas akan mengakibatkan kerusakan kulit), rencanakan kegiatan yang akan dilakukan untuk memulai aktivitas (R/ memberikan rencana aktivitas secara bertahap mulai gerak dari tempat tidur sampai turun dari tempat tidur), bantu dalam memenuhi ADL (R/ membantu memenuhi kebutuhan ADL pasien), ajarkan pada pasien ambulasi dini secara bertahap (R/ membantu memotivasi pasien untuk beraktivitas sedikit demi sedikit secara perlahan), dorong pasien untuk tidak takut dalam beraktivitas (R/ memberikan semangat pada pasien untuk aktivitas secara mandiri).

E.     Implementasi
Implementasi pada hari selasa tanggal 19 Juni 2012 jam 07.45 – 13.30 WIB. Diagnosa pertama dilakukan mengkaji karakteristik nyeri: keluhan nyeri, lokasi, frekuensi, durasi dan intensitas nyeri, (respon pasien nyeri di bagian perut bawah, nyeri seperti di sayat-sayat, nyeri bertambah saat pasien bergerak, skala nyeri 5 muncul sewaktu-waktu, dan data obyektifnya pasien terlihat kesakitan saat bergerak). Mengajarkan tehnik napas dalam saat nyeri muncul, (respon pasien mengatakan lebih rileks dan nyaman). Monitor tanda-tanda vital didapatkan data tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20x/menit, nadi 80x/menit, suhu 36 0C, memberikan obat oral cefadroxin 500 mg, asam mefenamat 500 mg, vit A dan C 1 tablet, (respon pasien terlihat kooperatif).
            Diagnosa kedua di lakukan mengkaji kondisi payudara pasien, (respon pasien mengatakan ASI belum keluar dan data obyektifnya ASI keluar saat di tekan). Memberikan penyuluhan kesehatan tentang ASI eksklusif dan cara menyusui yang benar, (respon pasien terlihat kooperatif). Mengajarkan cara menyusui yang benar, (respon pasien mengatakan bersedia di ajarkan tehnik menyusui yang benar dan pasien terlihat sudah mulai paham cara menyusui yang benar).Menganjurkan pada pasien untuk mengkaji keadaan putting sebelum dan sesudah menyusui. Mengajarkan breastcare perawatan payudara pada pasien, (respon pasien mengatakan bersedia diajarkan breastcare dan pasien terlihat kooperatif).
            Diagnosa ketiga di lakukan mengkaji keadaan luka, (respon pasien mengatakan luka sakit saat ditekan/bergerak). Menerangkan pada pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi, (respon pasien mengatakan tidak tahu tanda-tanda infeksi dan pasien terlihat mengerti setelah diterangkan tanda-tanda infeksi). Mengkaji jumlah lokhea dan bau, (respon pasien dari data obyektif bau tidak menyengat dan jumlahnya ±200 cc). Mengkaji balutan abdominalis terhadap eksudat, adanya rembesan di balutan, (respon pasien pasien mengatakan saat mandi berhati-hati agar balutan tidak basah dan balutan terlihat kering tidak basah dan tidak ngrembes).
            Diagnosa keempat di lakukan mengajarkan pasien tentang perlunya mobilisasi dini (miring ke kanan dan ke kanan dan ke kiri), (respon pasien mengatakan dapat miring kanan dan kiri dan pasien terlihat melakukan miring kanan dan kiri secara perlahan). Mengajarkan pada pasien untuk aktivitas turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan dengan bantuan minimal, (respon pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur dan berjalan secara perlahan-lahan dan pasien terlihat berjalan dan turun dari tempat tidur secara perlahan dengan dibantu suaminya). Dorong partisipasi pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan individu, (respon pasien mengatakan bisa jalan secara perlahan dan pasien terlihat berjalan perlahan ke ruang perinatologi dengan dibantu suaminya untuk memberikan ASI pada bayinya).
            Hari ke dua tanggal 20 Juni 2012 dari jam 08.00 sampai 09.50 WIB. Untuk diagnosa pertama di lakukan memonitor TTV, (respon pasien bersedia di lakukan TTV dan obyektifnya tekan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,20C). Mengkaji tingkat karakteristik nyeri, (respon pasien mengatakan nyeri saat berjalan (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah luka operasi (R), skala nyeri 2 (S), nyeri saat berjalan (T).
            Diagnosa kedua dilakukan menganjurkan pasien untuk makan yang banyak protein dan banyak makanan yang bergizi, (respon pasien mengatakan makan makanan yang diberikan dari rumah sakit dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat). Memantau klien melakukan tehnik menyusui dengan benar, (respon pasien mengatakan sudah mulai bisa menyusui dengan benar dan pasien tampak rileks saat menyusui). Menganjurkan klien untuk memperhatikan keadaan putingnya setiap akan menyusui dan sesudah menyusui, (respon pasien mengatakan akan berhati-hati pada saat menyusui dan pasien terlihat mendengarkan anjuran perawat). Menganjurkan klien untuk menyendawakan bayinya setelah menyusui, (respon pasien tampak menyendawakan bayinya setelah menyusui). Menganjurkan klien untuk melakukan breascare secara mandiri, (respon pasien mengatakan akan melakukan breascare secara mandiri di rumah dan pasien terlihat mengerti anjuran perawat).

F.     Evaluasi 
Evaluasi yang didapat pada tanggal 19 Juni 2012 dari implementasi yang sudah di lakukan pada diagnos pertama gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sbagai berikut: dari data subyektif pasien nyeri saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada daerah perut terumam pada luka jahitan (R), skala nyeri 4 (S), nyeri muncul saat bergerak dan berjalan (T), data obyektif  pasien tampak kesakitan, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36 0C, maka masalah nyeri teratasi sebagian menjadi 4, rencana tindak lanjutnya kaji tingkatan rasa nyaman nyeri, monitor TTV, anjurkan pasien untuk relaksasi nafas dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan dan lanjutkan pemberian analgesik asam mefenamat 3x500 mg, vitamin B complex 1x1 tablet, vitamin A dan C 1x1 tablet sesuai advis dokter agar nyeri dapat di tolerir oleh pasien.
Diagnosa kedua ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan, pasien mengatakan bersedia menerapkan tehnik menyusui yang benar, data obyektif pasien terlihat bingung memposisikan bayinya dan paham dengan informasi yang diberikan, maka masalah ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan pasien untuk breastcare secara mandiri, beri informasi keuntungan menyusui, anjurkan pasien untuk mengkaji putting sebelum dan sesudah menyusui.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan selalu berhati-hati dalam menjaga balutan luka agar tidak ngrembes dan basah pada saat mandi, data obyektif  balutan luka kering tidak ada rembesan, maka masalah resiko tinggi infeksi teratasi sebagian (tidak ada pus ataupun rembesan pada balutan), rencana tindak lanjutnya kaji kondisi keluaran pus (warna, jumlah dan bau), lakukan perawatan luka, anjurkan pasien untuk mengidentifikasi tanda infeksi, anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan dalam makanan.
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik sebagai berikut data subyektif pasien mengatakan dapat turun dari tempat tidur dan makan minum secara mandiri, pasien mengatakan dapat berjalan ke ruang perinatologi melihat bayinya dengan dibantu suaminya, dan data obyektifnya pasien terlihat mandiri meskipun dilakukan secara perlahan dengan bantuan minimal, maka masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya mengkaji kemampuan aktivitas pasien, bantu memenuhi kebutuhan dasar  pasien, motivasi pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
Evaluasi yang didapat pada tanggal 20 Juni 2012 dari implementasi yang sudah di lakukan pada diagnosa yang pertama nyeri berhubungan dengan trauma pmebedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan sebagai berikut dari data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka operasi (P), nyeri seperti di sayat-sayat, pada perut terutama pada luka jahitan (R), skala nyeri 2 (S), nyeri muncul saat berjalan (T), pasien tampak rileks dan kuat berjalan, pasien di ijinkan pulang, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, pernapasan 20 x/menit, suhu 36,2 0C, maka masalah nyeri dapat teratasi menjadi 2, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk tehnik nafas dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktivitas secara perlahan.
Diagnosa kedua ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu sebagai berikut data subyektif pasien mengtakan ASI sudah keluar tapi belum lancar, pasien pasien sudah bisa menyusui dengan tehnik yang benar, dan data obyektifnya pasien tampak rileks dan nyaman pada saat menyusui, maka masalah ketidakefektifan  menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk breastcare atau perawatan payudara secara mandiri di rumah.
Diagnosa ketiga resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen sebagai berikut data obyektif luka jahitan bersih, tidak ada pus, jahitan menyatu tidak ada yang membuka, diameter jahitan ±15 cm, maka masalah resiko infeksi teratasi sebagian, rencana tindak lanjutnya anjurkan pasien untuk menghabiskan obat sesuai advis dokter, anjurkan pasien untuk tidak pantangan makanan, gunakan tehnik aseptic setiap ingin melakukan tindakan, lakukan perawatan luka jahit (control kembali sealama 1 minggu).
Diagnosa ke empat intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Data subyektif pasien mengatakan sudah bisa beraktivitas dengan mandiri secara perlahan, data obyektif pasien terlihat mandiri dalam beraktivitas seperti ke kamar mandi maupun berjalan, maka masalah intoleransi aktivitas teratasi.


BAB IV
PEMBAHASAN

Bab IV ini akan dibahas mengenai permasalahan tentang asuhan keperawatan pada Ny. S dengan post seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan di Ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang. Pembahasan akan diuraikan sesuai masalah yang ditemukan dengan menggunakan pendekatan konsep dasar yang mendukung. Penulis akan menguraikan tentang kesenjangan yang muncul pada asuhan keperawatan antara teori dengan kasus yang penulis kelola. Penulis akan membahas tentang diagnosa yang muncul, diagnosa yang tidak muncul serta dukungan dan hambatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada Ny. S selama 2 hari.
A.  Diagnosa yang muncul
1.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan.
Nyeri adalah sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara actual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan keserangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir, yang dapat diprediksi dengan durasi kurang dari 6 bulan (Doengoes, 2001).
Batasan karakteristik nyeri meliputi laporan secara verbal atau non verbal, fakta dan observasi, posisi analgetik untuk menghindari nyeri, gerakan melindungi, tingkah laku berhati-hati, gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai), tingkah laku distraksi, contohnya jalan-jalan, aktivitas berulang, perubahan dalam nafsu makan (NANDA, 2007).
Diagnosa ini muncul karena menurut penulis ada beberapa data yang mendukung, seperti dari data subjektif pasien mengatakan nyeri pada saat ditekan dan pada saat duduk (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri pada perut daerah luka operasi (R), skala nyeri 5 (S), nyeri saat bergerak (T), dan data objektif pasien tampak kesakitan dan memegangi perutnya, tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan 20 x/menit. Nadi 80 x/menit, suhu  36­0 C.
          Trauma pembedahan yang dialami pasien merupakan penyebab utama timbulnya nyeri yang dirasakan pasien dan mengganggu pasien. Trauma pembedahan sebagai stimulus nyeri mengirimkan impuls melalui serabut saraf perifer. Serabut nyeri memasuki medulla spinalis dan menjalani salah satu dari beberapa rute saraf dan akhirnya sampai didalam massa berwarna abu-abu di Medulla spenalis. Nyeri dapat berinteraksi dengan sel-sel saraf inihibitor ditransmisikan ke korteks serebral. Sekali stimulus nyeri mencapai korteks serebral maka otak akan menginterpretasikan kualitas nyeri dan presepsi nyeri (Potter&Pery, 2006).
            Penulis mengangkat diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri sebagai prioritas utama karena nyeri merupakan keluhan utama yang paling dirasakan pasien. Nyeri merupakan alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan (Smeltzer, 2002). Nyeri merupakan faktor utama yang dapat menghambat kemampuan dan keinginan individu untuk pulih dari suatu penyakit. Hal ini didukung oleh Potter & Perry (2006) karena apabila nyeri berlangsung secara terus menerus dan tidak segera diatasi dapat menimbulkan respon fisiologis yang akan membahayakan individu. Alasan mengapa penulis mengangkat diagnosa utama karena nyeri berlangsung secara terus menerus dan tidak segera teratasi dapat menimbulkan respons fisiologis yang akan membahayakan individu hal ini telah di dukung oleh potter & Perry, 2006. Untuk menilai nyeri pada pasien menggunakan skala 0-10, pengkajian lebih akurat apabila pasien mampu mendiskripsikan sensasi yang dirasakan setelah perawat mengajukan pertanyaan terbuka. Untuk menghilangkan nyeri maka dilakukan tindakan mengubah posisi, melakukan tindakan ritual (melangkah, berayun-ayun), makan (Potter & Perry, 2006).
Implementasi yang dilakukan mengkaji karakteristik dan lokasi nyeri serta durasi dan intensitas nyeri serta perhatikan ekspresi pasien, mengajarkan teknik napas dalam saat nyeri muncul monitor tanda-tanda vital, memberikan terapi analgetik sesuai indikasi yaitu asam mefenamat 3x500mg peroral. Implementasi ini sudah sesuai dengan teori menurut Doengoes (2001), bahwa nyeri dengan skala lima adalah nyeri sedang sehingga implementasinya untuk mengurangi nyeri dengan mengajarkan tehnik napas dalam.
Hasil evaluasi yang didapat oleh penulis setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari yaitu dari data subjektif pasien nyeri saat ditekan dan akan duduk (P), nyeri seperti disayat-sayat (Q), nyeri di daerah perut bagian bawah (R), skala nyeri 4 (S), nyeri saat bergerak (T), data objektif pasien tampak rileks  dan kuat berjalan , tekanan darah 120/80 mmHg, pernapasan 20 x/m, suhu 36,2 nadi 80 x/m, maka masalah nyeri teratasi dengan skala nyeri 2, pasien tampak rileks, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk teknik relaksasi nafas dalam saat nyeri muncul, anjurkan pasien untuk beraktifitas secara perlahan, berikan analgetik asam mefenamat1x500mg, vitamin B complex 1 tablet dan vitamin A dan C 1 tablet sesuai advis dokter.
2.    Ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik fisik payudara ibu.
Tidak efektifnya menyusui adalah keadaan dimana ibu, bayi atau anak mengalami kesulitan pada proses menyusui, yang mengakibatkan ketidakadekuatan nutrisi untuk kebutuhan metabolik (Carpenito, 2000).
Batasan karakteristik: ketidak adekuatan suplay ASI, ketidakmampuan bayi untuk menempel dengan tepat di payudara ibu, tidak terlihat pelepasan oksitosin, menghisap tidak terus menerus, nyeri atau lecet pada putting, bayi menangis saat di susui.
Diagnosa ini muncul karena menurut penulis ada beberapa data yang mendukung, seperti data subyektif pasien mengatakan ASI keluar sedikit bila di tekan, pasien mengatakan belum mengetahui cara menyusui yang benar, dan data obyektifnya papilla mammae kedalam atau inverted, bayi di ruang perinatologi. 
Penulis mengangkat diagnosa ketidak efektifan menyusui karena pasien belum pernah menyusui, ASInya tidak keluar dan belum mengetahui cara menyusui yang benar. Penulis memberikan penyuluhan kesehatan tentang ASI eksklusif dan tehnik menyusui yang benar. Untuk mengetahui keberhasilan tindakan, penulis merumuskan kriteria hasil puting pasien erektil, produksi ASI dapat maksimal, bayi dapat minum ASI secara terus menerus.
Implementasi keperawatan yang di lakukan oleh penulis selama 2 hari yaitu  mengkaji payudara pasien dan tingkatan pengetahuan pasien tentang ASI eksklusif dan tehnik menyusui yang benar, mengajarkan breastcare (perawatan payudara), maka penulis membuat kesepakatan dengan pasien untuk dilakukan penkes dan breastcare, meminta pasien untuk dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan tehnik menyusui yang benar dan melakukan brestcare. Implementasi yang belum di lakukan sesuai teori (Doengoes, 2001), yaitu demonstrasikan dan tinjau ulang tehnik-tehnik menyusui, perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui (R/ posisi yang tepat dapat mencegah putting terluka, tanpa memperhatikan lamanya menyusui), identifikasi sumber-sumber yang tersedia di masyarakat sesuai indikasi (R/ pelayanan ini mendukung pemberian ASI melalui pendidikan klien).
Hasil evaluasi yang didapat oleh penulis setelah tindakan keperawatan selama 2 hari yaitu data subyektif pasien mengatakan ASI keluar sedikit saat di tekan, pasien mengatakan belum mengetahui cara menyusui yang benar, dan data obyektif pasien terlihat rileks dan nyaman pada saat menyusui, maka masalah ketidakefektifan menyusui teratasi sebagian, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk mengkaji putting sebelum dan sesudah menyusui, anjurkan pasien untuk melakukan breastcare secara mandiri.
3.    Resiko infeksi berhubungan dengan port de entri kuman pathogen
Infeksi adalah suatu kondisi penyakit akibat masuknya kuman patogen atau mikroorganisme lain kedalam tubuh sehingga menimbulkan gejala tertentu (Wahit, 2007). Menurut Nanda (2007) resiko infeksi adalah peningkatan resiko masuknya kuman patogen. Bobak (2005) mengemukakan bahwa leukosit normal pada kehamilan rata-rata 12 ribu/mm3. Selama 10 sampai 12 hari pertama plasenta lahir, nilai leukosit antara 20.000 ribu dan 25.000 ribu/mm3 merupakan hal yang umum. Keberadaan leukosit yang disertai dengan peningkatan laju endap darah merah dapat membingungkan dalam menentukan diagnosa infeksi akut.
Diagnosa ini muncul karena menurut penulis ada beberapa data yang mendukung seperti, data obyektif pada abdomen terlihat ada luka jahitan dengan diameter ±15 cm, leukosit 15,21 ribu/ul, suhu 36 0C.
Port de entry kuman patogen merupakan pintu masuknya kuman patogen yang masuk ke dalam organ tubuh.
Penulis mengangkat diagnosa resiko infeksi karena pada saat di lakukan pengkajian leukosit pasien tinggi dan terlihat adanya luka jahitan post operasi seksio sesaria. Dengan tidak menggunakan tehnik aseptik pada saat akan melakukan tindakan maka kuman akan sangat mudah masuk ke dalam tubuh dan akan menyebabkan infeksi pada luka.
Tujuan diangkatnya diagnosa resiko infeksi di harapakan tidak terjadi perdarahan pada luka operasi. Untuk mengetahui keberhasilan tindakan keperawatan, maka penulis merumuskan kriteria hasil di harapkan tidak ada tanda-tanda infeksi, serta leukosit dalam rentan normal 3,6 – 11 ribu/ul.
Implementasi keperawatan yang di lakukan oleh penulis selama dua hari yaitu mengkaji keadaan luka apakah ada rembesan pada balutan atau tidak, menerangkan pada pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi, mengkaji jumlah keluaran lokhea dan bau, melakukan perawatan luka jahit atau ganti balut pada hari ke tiga dengan tehnik aseptik.
Hasil evaluasi yang di dapat oleh penulis setelah tindakan keperawatan selama dua hari yaitu data subyektif pasien mengatakan berhati-hati dalam mandi agar balutan tidak terkena air dan basah, data obyektif luka jahitan bersih, tidak ada pus yang keluar, jahitan menyatu tidak ada yang membuka, maka masalah resiko infeksi teratasi sebagian, meskipun luka belum sembuh total, rencana tindak lanjut anjurkan pasien untuk kontrol satu minggu kemudian ke rumah sakit,  anjurkan pasien untuk tidak ada pantangan dalam makanan agar luka cepat sembuh, anjurkan pasien untuk menghabiskan obat asam mefenamat, vitamin B complex, vitamin A dan C sesuai advis dokter.
4.    Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Intoleransi aktifitas adalah penurunan kapasitas fisiologis seseorang untuk mempertahankan aktifitas sampai ketingkat yang diinginkan (Carpenito, 2000). Kemampuan beraktifitas merupakan kebutuhan dasar yang mutlak diharapkan oleh setiap manusia. Kemampuan tersebut meliputi berdiri, berjalan, bekerja, makan dan minum, dan lain sebagainya (Wahit, 2007).
Menurut Nanda (2007) intoleransi aktifitas adalah ketidak cukupan energi secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan aktifitas sehari-hari. Pasca pembedahan pasien akan mengalami penurunan kekuatan dan ketahanan tubuh karena nyeri yang dirasakan akan menyebabkan penurunan kemampuan (Potter&Perry, 2006).
Batasan karakteristik: kelelahan dan kelemahan, respon terhadap aktifitas menunjukan nadi dan tekanan darah abnormal, perubahan EKG menunjukan aritmia atau disritmia.
Diagnosa ini muncul karena menurut penulis ada beberapa data yang mendukung, seperti data subyektif pasien mengatakan sulit untuk bergerak atau berjalan, klien mengatakan hanya miring ke kanan dan ke kiri secara perlahan, dan data obyektif pasien terlihat di bantu suaminya saat akan melakukan tindakan ke kamar mandi dan aktivitas lainnya.
Penulis mengangkat diagnosa ini didasarkan pada data-data saat pengkajian bahwa pasien setelah selesai operasi hingga saat pengkajian belum bisa beraktivitas karena pasien mengalami kelemahan fisik, maka disarankan pasien untuk ambulasi dini secara bertahap untuk mengurangi resiko terjadinya kerusakan kulit.
Tujuan diangkat diagnosa ini adalah pasien dapat toleran dengan aktivitasnya. Untuk mengetahui keberhasilan tindakan keperawatan, penulis merumuskan kriteria hasil pasien dapat melakukan aktivitas secara mandiri, pasien dapat toleran dengan aktivitasnya.
Implementasi  keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama dua hari yaitu mengkaji kemampuan pasien dalam beraktivitas, mengajarkan pasien untuk mobilisasi dan ambulasi dini (miring kanan kiri, duduk, turun dari tempat tidur), dorong aktivitas pasien dalam aktivitas sesuai kemampuan.
Hasil evaluasi yang di dapat oleh penulis setelah tindakan keperawatan selama dua hari yaitu dari data subyektif pasien mengatakan sudah bisa beraktivitas dengan mandiri misalnya makan dan minum, bangun dari tempat tidur, ke kamar mandi, data obyektifnya pasien tampak mandiri dalam melakukan aktivitas, maka masalah in toleransi aktivitas teratasi.

B.  Diagnosa yang tidak muncul
1.    Gangguan eliminasi BAB: kontipasi berhubungan dengan penurunan  peristaltik usus.
Konstipasi adalah gangguan pada pola eliminasi akibatnya adanya feses kering atau keras yang melewati usus besar, perjalanan feses yang lama karena jumlah air yang diabsorbsi sangat kurang menyebabkan feses menjadi kering dan keras. Konstipasi terjadi karena pola defekasi yang tidak teratur, penggunaan laktasif yang terlalu sering, stress psikologis yang meningkat, kurang aktivitas serta proses pembedahan dengan anestesi (Wahit, 2007).
Diagnosa ini tidak muncul karena data-data yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian pada klien menunjukan bahwa tidak ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa gangguan eliminasi BAB karena menurut Wahit (2007) konstipasi di sebabkan oleh efek spinal anestesi, jadi pasien tidak bisa BAB setelah persalinan merupakan hal yang wajar dari efek anestesi dan saat dilakukan pengkajian pola eliminasi pasien pada hari pertama pasien tidak bisa BAB tetapi pada hari ketiga dapat BAB dengan konsisten lembek, berbau khas dan warna kuning.
2.    Inkontinensia urin berhubungan dengan penurunan sensitifitasnya uretra dan sensasi kandung kemih.
Inkontinensia urin adalah suatu keadaan dimana individu mengalami atau berada pada resiko mengalami disfungsi urinarius (Carpenito, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena pasien tidak mengalami gangguan pada penurunan urin setelah selang kateter di lepas pasien tetap BAK dengan lancar sehari 2x saat mandi.
3.    Defisit vulome cairan berhubungan dengan pengeluaran yang berlebihan.
Defisit volume cairan adalah keadaan dimana seseorang yang tidak makan dan minum per oral mempunyai resiko dehidrasi vaskuler, intersisiel, atau interseluler (Carpenito, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian pada pasien menunjukan bahwa tidak ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa defisit atau kurangnya volume cairan, seperti membrane mukosa kering, tekanan darah kurang dari 110/70 mmHg, haus atau dehidrasi.
4.      Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan terhadap kebutuhan diri dan ketergantungan.
Kebutuhan perawatan diri adalah keadaan dimana individu mengalami suatu kerusakan fungsi motorik atau fungsi kognitif yang menyebabkan penurrunan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri yang meliputi makan, mandi, berpakaian/berdandan dan toileting (Carpenito, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian pada pasien menunjukan bahwa tidak ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa kurang perawatan diri. Diagnosa yang penulis angkat adalah diagnosa yang ada kaitannya dengan kebutuhan aktivitas pasien yaitu diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik setelah post operasi, karena pada saat penulis melakukan pengkajian pasien dalam kondisi lemah. Diagnosa intoleransi aktivitas penulis angkat dengan tujuan agar pasien mampu melakukan aktivitas secara mandiri.
5.      Kurang perawatan mengenai perawatan kondisi bayi dan dirinya berhubungan dengan kurang mengingat atau mengenal sumber-sumber informasi.
Kurang pengetahuan adalah suatu kondisi dimana individu atau kelompok mengalami kekurangan pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana tindakan pengobatan. Kurang pengetahuan tidak menunjukan respon, perubahan atau disfungsi manusia, tetapi lebih sebagai sesuatu etiologi atau faktor penunjang (Carpenitto, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian pada pasien tidak ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa kurang pengetahuan mengenai perawatan kondisi bayi karena pasien sudah mengetahui sebelum pasien melakukan persalinan pasien sering belajar melakukan perawatan bayi dari kakaknya atau keponakan.
6.      Perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan adanya tambahan anggota keluarga.
Perubahan menjadi orang tua adalah suatu keadaan dimana satu atau lebih pemberi asuhan mendemonstrasikan ketidakmampuan yang nyata atau potensial dalam menyediakan lingkungan yang mendukung dalam pemelihraan pertumbuhan dan perkembangan anaknya(Carpenitto, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian, pasien tidak menunjukan bahwa tidak ditemukannya data yang mengarah ke diagnosa kurang pengetahuan mengenai perawatan kondisi bayi karena pasien sudah mengetahui perawatan kondisi bayi.
7.      Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake nutrisi.
Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan adalah kondisi ini di alami oleh invidu yang tidak mengalami puasa atau berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan tidak cukupnya masukan atau metabolisme nutrisi untuk kebutuhan metabolisme (Carpenitto, 2000).
Diagnosa ini tidak penulis angkat karena data-data yang penulis dapatkan saat pengkajian tidak ada data-data yang mengarah ke diagnosa risiko nutrisi kurang dari kebutuhan. Pasien juga tidak mengalami hambatan dalam masalah nutrisi, pasien selalu menghabiskan porsi makannya dan tidak ada rasa mual maupun muntah pada saat makan dan setelah makan.

C.  Dukungan dan hambatan
Dalam mencapai tujuan keperawatan penulis tidak lepas dari faktor pendukung yang ada selama melakukan asuhan keperawatan dalam jangka waktu  dua hari khususnya berkat bimbingan, pengarahan serta dukungan dari berbagai pihak diantaranya sikap pasien yang kooperatif terhadap penulis, kepercayaan perawat dan penguji yang diberikan pada penulis serta bimbingan yang telah di berikan kepada penulis sangat membantu dan bermanfaat dalam melaksanakan tindakan keperawatan.
Faktor penghambat untuk mencapai tujuan tindakan keperawatan yang di hadapi penulis adalah kemampuan dan pengetahuan penulis yang kurang dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien post seksio sesaria indikasi pre eklamsi ringan dari pengkajian sampai menganalisa data dan dalam menentukan intervensi yang sesuia dengan apa yang di butuhkan pasien.

 
BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
 Berdasarkan beberapa uraian tentang seksio sesaria serta indikasinya maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian seksio sesaria adalah pembedahan yang dilakukan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus agar ibu dan janin selamat.
Beberapa indikasi dilakukannya seksio sesaria adalah pre eklamsi. Dimana pre eklamsi tersebut adalah tekanan darah >140/90 mmHg setelah umur kehamilan 20 minggu. Dimana dampak dari pre eklamsi adalah terjadinya perdarahan intra kranial, kejang, koma, dan gagal ginjal yang terjadi pada ibu dan berat badan lahir janin di bawah normal tang terjadi pada bayi. Maka penulis tidak membahas tentang pre eklamsi karena pasien setelah di lakukan persalinan tidak ada tanda-tanda pre eklamsi seperti uraian di atas dan tidak ada dampak dari pre eklamsi seperti terjadinya kejang, gagal ginjal, kematian pada ibu dan berat badan bayi di bawah normal. Pasien mengalami pre eklamsi saat akan melakukan persalinan dengan tekanan darah 150/80 mmHg dan usia kehamilan pasien 40 minggu lebih 1 hari maka pasien di lakukan tindakan seksio sesaria.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan yang berjudul “ Asuhan Keperawatan Maternitas Pada Ny. S dengan Post Operasi Seksio Sesaria Indikasi Pre Eklamsi Ringan di Ruang Bougenville RSUD Tugurejo Semarang” di dapatkan diagnosa keperawatan yang muncul yaitu gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan atau terputusnya kontinuitas jaringan, ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu, resiko infeksi berhubungan dengan Port de entri kuman patogen, intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri muncul pada Ny. S karena adanya trauma pembedahan setelah operasi seksio sesaria sebagai stimulus nyeri yang meningkatkan rangsangan terhadap saraf perifer, diteruskan ke saraf pusat yang akan dimanifestasikan sebagai rasa sakit. Masalah ketidak efektifan menyusui berhubungan dengan karakteristik payudara ibu karena ASI pasien tidak keluar apabila tidak di tekan dan papilla mamma ke dalam atau inverted. Resiko infeksi berhubungan dengan port de entry kuman patogen karena keluar masuknya kuman yang masuk ke dalam tubuh akan menyebabkan terjadinya infeksi pada luka jahitan. Masalah intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik karena selama 2 hari pasca pembedahan Ny. S belum dapat melakukan  ADLnya secara mandiri sehingga perawat menyarankan untuk ambulasi dini secara bertahap. Maka penulis mengangkat diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tindakan keperawatan selama dua hari pada Ny S baik mandiri maupun kolaborasi, masalah nyeri dapat teratasi sebagian, sehingga masalah tersebut benar-benar terpecahkan, penulis mendelegasikan tugas perawat yang belum terseleseikan  kepada perawat ruangan. Masalah ketidakefektifan menyusui sebagian teratasi karena pasien sudah mengetahui dan terlihat rileks saat menyusui. Masalah resiko infeksi sudah teratasi sebagian karena pada luka jahitan tidak ada pus yang keluar dan masalah intoleransi aktivitas telah teratasi meskipun pasien melakukan aktivitas secara perlahan-lahan tetapi bertahap. Untuk rencana tindak lanjut, menganjurkan pasien untuk tidak beraktivitas berat selama di rumah.
Semua upaya di atas yang di mulai dari penanganan saat persalinan seksio sesaria dan penatalaksanaan masa nifas beserta indikasi sesksio sesaria bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin dan agar dapat menurunkan angka kematian yang terjadi pada ibu.

B.  Saran
Saran yang dapat penulis berikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien post operasi seksio sesaria indikasi preeklamsi ringan adalah sebagai berikut:
1.    Bagi penulis
Penulis dalam melakukan tindakan tindakan keperawatan pada pasien post seksio sesaria seharusnya lebih mempelajari secara mendalam lagi agar bermanfaat di kemudian hari.
2.    Bagi lahan praktek
Rumah sakit seharusnya memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien dengan post seksio sesaria serta para perawat sebagai pemberi pelayanan selalu meningkatkan ketrampilan tentang teori dan prosedur keperawatan sehingga pelayanan yang maksimal dapat diberikan.
3.    Bagi Pasien
Dari pendapat penulis pada pasien yang setelah dilakukan tindakan operasi seksio sesaria di sarankan untuk tetap menjaga personal hygiene terutama pada perineum. Karena dari hygiene yang harus selalu dijaga, akan membantu dalam meminimalkan terjadinya risiko infeksi, serta selalu melatih tubuhnya untuk bergerak sedini mungkin untuk membantu mempercepat kesembuhan pasien.
4.    Bagi masyarakat
Masyarakat dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan bila tidak mampu untuk menanganinya, serta masyarakat hendaknya dapat melakukan penangan dan pencegahannya.


DAFTAR PUSTAKA
Baston, Hellen. (2012). Midwifery Essentials Persalinan. Volume 3. Jakarta: EGC
Bobak, dkk.(2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas, ed 4. Jakarta: EGC
Carpenitto, Linda Juall.(2000). Buku saku Diagnosa keperawatan, ed.18. Terjemah oleh Monika Ester. 2001. Jakarta: EGC
Cuningham, GF.(2006). Obstetri Williams, vol.1, ed. 2. Jakarta: EGC
Departemen Kesehatan RI. (2010). Profil Kesehatan Republik Indonesia, di akses pada 23 Juni 2012 dari http://www.depkes.gi.id/downloads/publikasi/Profil Kesehatan Indonesia.pdf.
Dinas Kesehatan Profil Jawa Tengah.(2010). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Dinkes Jateng, di akses pada 23 Juni 2012 dari http://www.dinkes jateng.gi.id/download/publikasi/Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.pdf
Doengoes, ME.(2001). Rencana Maternal/Bayi: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Klien, ed.2. Jakarta: EGC
Farrer, H. (2001). Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Frasser, DM & Cooper, MA.(2009). Buku Ajar Bidan. Jakarta: EGC
Herdman, TH & Ester, M. (2010). Diagnosa keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta: EGC
Jitowiyono, S & Kristiyanasari, W.(2010). Asuhan Keperawatan Post Operasi. Yogyakarta: Muha Medika
Joseph, dkk. (2010). Ginekologi dan Ostetri (Obsgyn). Yogyakarta: Nuha Medika
Liu, David.T.Y, dkk.(2001). Keperawatan Maternitas, vol. 2, ed. 18. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran, ed. 3, cet. 1. Jakarta: Medika Aesculapius
Mitayani.(2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika
Mubarak, Wahit Iqbal. (2007). Buku ajar Kebutuhan Manusia: Teori dan Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC
Potter & Perry. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses, dan Praktik, ed. 4, vol. 2. Alih Bahasa Renata Komalasari, dkk. (2006). Jakarta: EGC
Reeder, dkk.(2010). Nanda Diagnosa Keperawatan Wanita, Bayi & Keluarga Vol 2. Ed 18.Jakarta:EGC
Saifudin.(2008). Buku Asuhan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: EGC
Saleha, S.(2009). Buku Asuhan kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: EGC
Sujiyatini, dkk.(2009). Asuhan Patologi Kebidanan. Jogjakarta: Nuha Litera Offset
Winkjosastro, dkk. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka-Sarwono Prawirohardjo
Winkjosastro, dkk.(2005). Ilmu Kebidanan.Jakarta.: Yayasan Bina Pustaka-Sarwono Prawirohardjo
Winkjosastro, dkk.(2006). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka-Sarwono Prawirohardjo
 Yeyeh, dkk.(2009). Asuhan Kebidanan 1 (Kehamilan). Jakarta: Trans Info Media
 

No comments:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname