Monday, July 4, 2016

LAPORAN PENDAHULUAN HERNIA


KONSEP DASAR
A.                Pengertian

            Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal atau kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi secara normal (Lewis,SM, 2003).
Hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inginalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital. ( Cecily L. Betz, 2004).
Hernia Inguinalis adalah  suatu penonjolan kandungan ruangan tubuh melalui dinding yang dalam keadaan normal tertutup (Ignatavicus,dkk 2004).
B.                 Etiologi
Menurut Black,J dkk (2002).Medical Surgical Nursing,edisi 4. Pensylvania: W.B Saunders, penyebab hernia inguinalis adalah :
1.                  Penyebab Hernia Inguinalis
a.        Kelemahan otot dinding abdomen.
1)     Kelemahan jaringan
2)      Adanya daerah yang luas diligamen inguinal
3)      Trauma
b.       Peningkatan tekanan intra abdominal.
1)      Obesitas
2)      Mengangkat benda berat
3)      Mengejan / Konstipasi
4)      Kehamilan
5)      Batuk kronik
c.        Faktor resiko: kelainan congenital
1)      Kongenital
a)      Hernia kongenital sempurna : Bayi sudah menderita hernia sejak lahir karena adanya defek pada tempat-tempat tertentu.
b)      Hernia kongenital tidak sempurna : Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tetapi ia mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0-1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk, menangis).
2)      Aquisital (didapat)
Adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain :
a)       Tekanan intraabdominal yang tinggi : Banyak dialami oleh pasien yang sering mengejan baik saat BAB maupun BAK
b)       Konstitusi tubuh : Orang kurus cenderung terkena hernia karena jaringa ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya jaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong.
c)       Distensi dinding abdomen : Karena peningkatan tekanan intrabdominal. 
d.       Faktor Predisposisi
      Faktor penyebab lainnya adalah :
1)      Kelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa
2)      Pada orang tua karena degenerasi/atropi
3)      Pekerjaan mengangkat benda-benda berat
4)      Batuk kronik
5)      Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras
6)      Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasis 
C.                 Patofisiologi
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ-organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah  penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah, sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren (Oswari, E. 2000).
Pathway

A.                 D. Manifestasi Klinik

  1. Penonjolan di daerah inguinal 
  2. Nyeri pada benjolan/bila terjadi strangulasi.
  3. Obstruksi usus yang ditandai dengan muntah, nyeri abdomen seperti kram dan distensi abdomen.
  4. Terdengar bising usus pada benjolan 
  5. Kembung 
  6. Perubahan pola eliminasi BAB 
  7. Gelisah 
  8. Dehidrasi 
  9. Hernia biasanya terjadi/tampak di atas area yang terkena pada saat pasien berdiri atau mendorong.

B.                  E. Pemeriksaan Penunjang

  1. Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/obstruksi usus.
  2. Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih (Leukosit : >10.000– 18.000/mm3) dan ketidakseimbangan elektrolit. 

C.                 F. Komplikasi

  1. Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali (hernia inguinalis lateralis ireponibilis). Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus.
  2. Terjadi penekanan pada cincin hernia, akibatnya makin banyak usus yang masuk. Cincin hernia menjadi relatif sempit dan dapat menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis incarcerata.
  3. Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis strangulata.
  4. Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian timbul nekrosis.
  5. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah.
  6. Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki,
  7. Pendarahan yang berlebihan/infeksi luka bedah,
  8. Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.
  9. Bila isi perut terjepit dapat terjadi: shock, demam, asidosis metabolik, abses. 

D.                 G. Manajemen Bedah

a.                    Perawatan pre operasi
Persiapan fisik dan mental pasien dan pasien puasa pada malam sebelum hari pembedahan.
b.                   Perawatan post operasi
1)                   Hindari batuk, untuk peningkatan ekspansi
2)                   Support scrotal dengan menggunakan kantong es untuk mencegah pembengkakan dan nyeri.
3)                   Ambulasi dini jika tidak ada kontraindikasi untuk meningkatkan kenyamanan dan menurunkan resiko komplikasi post operasi.
4)                   Gunakan tehnik untuk merangsang pengosongan kandung kemih.
5)                   Monitoring intake dan output.
6)                   Palpasi abdomen dengan hati-hati.
7)                   Intake cairan > 2500 ml/hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mencegah dehidrasi dan mempertahankan fungsi perkemihan.
8)                   Bila pasien belum mampu BAK, dapat dipasang kateter karena kandung kemih yang distensi dapat menekan insisi dan menyebabkan tidak nyaman.
c.                   Discharge Planning :
1)                   Hindari mengejan, mendorong atau mengangkat benda berat.
2)                   Jaga balutan luka operasi tetap kering dan bersih, mengganti balut steril setiap hari dan kalau perlu.
3)                   Hindari faktor pendukung seperti konstipasi dengan mengkonsumsi diet tinggi serat dan masukan cairan adekuat.
I.                    Penatalaksanaan
1.       Konservatif
a.       Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan secara perlahan menuju abdomen (reposisi), selanjutnya gunakan alat penyokong.
b.     Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan setelah 5 menit dievaluasi kembali.
c.          Celana penyangga
d.         Istirahat baring
e.          Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.
f.          Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengedan selama BAB.
2.       Pembedahan (Operatif) :
a.          Herniaplasty : memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang.
b.      Herniatomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong.
c.    Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus internus dan muskulus ablikus internus abdominus ke ligamen inguinal.
J.        Diagnosa yang mungkin muncul :
1.       Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik
2.       Cemas berhubungan dengan krisis situasional,  rencana operasi.
3.       Kurang pengetahuan tentang penyakit, perawatan dan pengobatannya berhubungan dengan kurangnya informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.
4.       Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive, lika post pembedahan
5.       Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, pembatasan aktivitas pasca operatif
K.          Klasifikasi   Hernia Inguinalis
1.                   Hernia Inguinalis Medialis / Direk
yaitu hernia yang menonjol melalui dinding inguinal posterior di area yang mengalami kelemahan otot melalui trigonum hesselbach bukan melalui kanalis, biasanya terjadi pada lanjut usia (Ignatavicus,dkk 2004).
2.                   Hernia inguinalis indirect / lateralis
yaitu hernia yang terjadi melalui cincin inguinal dan mengikuti saluran spermatik melalui kanalis inguinalis (Lewis,SM, 2003).

 
L.                    Proses Keperawatan
1.                   Dasar data pengkajian pasien
a.                   Aktivitas / istirahat
 Tanda dan gejala: > atropi otot , gangguan dalam berjalan riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk dalam waktu lama.
b.         Eliminasi
Gejala: Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi adanya inkontinensia atau retensi urine.
c.          Integritas ego
Tanda dan gejala: Cemas, depresi, menghindar ketakutan akan timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan, finansial keluarga.
d.         Neuro sensori
Tanda dan gejala: penurunan reflek tendon dalam kelemahan otot hipotonia, nyeri tekan, kesemutan, ketakutan kelemahan dari tangan dan kaki.
e.          Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala: Sikap, perubahan cara berjalan, nyeri seperti tertusuk paku, semakin memburuk dengan batuk, bersin membengkokkan badan.
f.          Keamanan
Gejala: adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi.
2.                   Diagnoa Keperawatan Utama
a.                   Nyeri berhubungan dengan insisi bedah
b.                  Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan tentang nyeri/tak lengkap informasi
c.                  Ansietas b.d gangguan berulang dengan nyeri terus menerus
d.                 Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, pembatasan aktivitas pasca operatif.
e.                   Resiko infeksi b.d luka insisi

M.                   FOKUS INTERVENSI
1.                   Nyeri berhubungan dengan insisi bedah
Hasil yang diharapkan :
a.                   Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
b.                  Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan
c.                  Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik ( misal : keterampilan relaksasi, modofokasi perilaku ) untuk menghilangkan nyeri
Intervensi Mandiri :
a.                  Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi, lamanya serangan, factor yang mencetus atau memperberat
b.                   Pertahankan tirah baring selama fase akut
c.                   Batasi aktivitas selama fase akut
d.                  Pantau tanda vital
e.                   Ajarkan teknik distraksi relaksasi
Intervensi Kolaborasi
a.                   Berikan obat sesuai kebutuhan
b.                   Pertahankan traksi jika diperlukan
(Doengoes, 2000 : 322-323)

2.                  Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan tentang nyeri/tak lengkap informasi
Hasil yang diharapkan :
a.                  Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan tindakan
b.                   Melakukan kembali perubahan gaya hidup
c.                   Berpartisipasi dalam aturan tindakan
Intervensi Mandiri :
a.                   Kaji minat pasien untuk belajar
b.                   Kaji tingkat pengetahuan tentang proses penyakit
c.                   Berikan informasi tentang penyakit
d.                 Diskusikan mengenai pengobatan dan juga efek samping
e.                   Anjurkan untuk melakukan evaluasi secara teratur
f.                   Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu untuk dilaporkan pada evaluasi
(Doengoes, 2000 : 326)



3.                   Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, pembatasan aktivitas pasca operatif
Hasil yang diharapkan :
a.                  Mengungkapkan pemahaman tentang situasi/factor risiko dan aturan pengobatan individual
b.                   Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang mungkin
c.                  Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit dan/atau kompensasi
Intervensi Mandiri :
a.                  Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan kondisi klien
b.                  Berikan/bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
c.                  Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi profgresif
d.                 Demonstrasikan penggunaan alat penolong
Intervensi Kolaborasi :
a.                  Berikan obat penghilang nyeri kira-kira 30 menit sebelum melakukan ambulasi pasien
(Doengoes, 2000 : 324 )
4.                   Ansietas b.d gangguan berulang dengan nyeri terus menerus
Hasil yang diharapkan :
a.                  Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang pada tingkat dapat diatasi
b.                  Mengidentifikasi ketidakefektifan perilaku koping dan konsekuensinya
c.                   Mengkaji situasi terbaru dengan akurat
Intervensi Mandiri :
a.                   Kaji tingkat ansietas pasien
b.                  Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur
c.                  Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah
(Doengoes, 2000 : 325)
5.                   Resiko infeksi b.d insisi bedah
Hasil yang diharapkan :
a.                  Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda infeksi/inflamasi, drainase purulen, eritema, dan demam
Intervensi Mandiri :
a.               Awasi tanda vital
b.              Lakukan perawatan luka
c.               Lihat insisi dan bedah
d.              Motivasi klien untuk menjaga kebersihan
Intervensi Kolaborasi :
a.               Berikan antibiotic sesuai indikasi
(Doengoes, 2000 : 510)


No comments:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname