KONSEP DASAR
A.
PengertianHernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal atau kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi secara normal (Lewis,SM, 2003).
Hernia
inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inginalis di atas
kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat
kongenital. ( Cecily L. Betz, 2004).
Hernia Inguinalis adalah suatu
penonjolan kandungan ruangan tubuh melalui dinding yang dalam keadaan normal
tertutup (Ignatavicus,dkk 2004).
B.
Etiologi
Menurut Black,J dkk (2002).Medical Surgical Nursing,edisi 4. Pensylvania: W.B Saunders,
penyebab hernia inguinalis adalah :
1.
Penyebab Hernia Inguinalis
a.
Kelemahan otot dinding abdomen.
1) Kelemahan
jaringan
2)
Adanya daerah yang luas diligamen inguinal
3)
Trauma
b. Peningkatan
tekanan intra abdominal.
1)
Obesitas
2)
Mengangkat benda berat
3)
Mengejan / Konstipasi
4)
Kehamilan
5) Batuk
kronik
c.
Faktor resiko: kelainan congenital
1) Kongenital
a) Hernia
kongenital sempurna : Bayi sudah menderita hernia sejak lahir karena adanya
defek pada tempat-tempat tertentu.
b) Hernia
kongenital tidak sempurna : Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak)
tetapi ia mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa
bulan (0-1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut
karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk,
menangis).
2) Aquisital
(didapat)
Adalah hernia yang bukan
disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang
dialami manusia selama hidupnya, antara lain :
a) Tekanan
intraabdominal yang tinggi : Banyak dialami oleh pasien yang sering mengejan
baik saat BAB maupun BAK
b) Konstitusi
tubuh : Orang kurus cenderung terkena hernia karena jaringa ikatnya yang
sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya
jaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong.
c) Distensi
dinding abdomen : Karena peningkatan tekanan intrabdominal.
d. Faktor
Predisposisi
Faktor penyebab lainnya adalah :
1)
Kelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa
2)
Pada orang tua karena degenerasi/atropi
3)
Pekerjaan mengangkat benda-benda berat
4)
Batuk kronik
5)
Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras
6)
Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasis
C.
Patofisiologi
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan
seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air
besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah
otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja
akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang
tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada
sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan
abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat
kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ-organ
selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu
yang cukup lama, sehingga terjadilah
penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah, sehingga akhirnya menyebabkan kantung
yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah
terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren (Oswari, E. 2000).
Pathway
A. D. Manifestasi Klinik
- Penonjolan di daerah inguinal
- Nyeri pada benjolan/bila terjadi strangulasi.
- Obstruksi usus yang ditandai dengan muntah, nyeri abdomen seperti kram dan distensi abdomen.
- Terdengar bising usus pada benjolan
- Kembung
- Perubahan pola eliminasi BAB
- Gelisah
- Dehidrasi
- Hernia biasanya terjadi/tampak di atas area yang terkena pada saat pasien berdiri atau mendorong.
B. E. Pemeriksaan Penunjang
- Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/obstruksi usus.
- Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih (Leukosit : >10.000– 18.000/mm3) dan ketidakseimbangan elektrolit.
C. F. Komplikasi
- Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali (hernia inguinalis lateralis ireponibilis). Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus.
- Terjadi penekanan pada cincin hernia, akibatnya makin banyak usus yang masuk. Cincin hernia menjadi relatif sempit dan dapat menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis incarcerata.
- Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis strangulata.
- Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian timbul nekrosis.
- Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah.
- Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki,
- Pendarahan yang berlebihan/infeksi luka bedah,
- Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.
- Bila isi perut terjepit dapat terjadi: shock, demam, asidosis metabolik, abses.
D. G. Manajemen Bedah
a.
Perawatan
pre operasi
Persiapan fisik dan mental pasien dan pasien puasa pada malam sebelum
hari pembedahan.
b.
Perawatan
post operasi
1)
Hindari
batuk, untuk peningkatan ekspansi
2)
Support
scrotal dengan menggunakan kantong es untuk mencegah pembengkakan dan nyeri.
3)
Ambulasi
dini jika tidak ada kontraindikasi untuk meningkatkan kenyamanan dan menurunkan
resiko komplikasi post operasi.
4)
Gunakan
tehnik untuk merangsang pengosongan kandung kemih.
5)
Monitoring
intake dan output.
6)
Palpasi
abdomen dengan hati-hati.
7)
Intake
cairan > 2500 ml/hari (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mencegah
dehidrasi dan mempertahankan fungsi perkemihan.
8)
Bila
pasien belum mampu BAK, dapat dipasang kateter karena kandung kemih yang
distensi dapat menekan insisi dan menyebabkan tidak nyaman.
c.
Discharge
Planning :
1)
Hindari
mengejan, mendorong atau mengangkat benda berat.
2)
Jaga
balutan luka operasi tetap kering dan bersih, mengganti balut steril setiap
hari dan kalau perlu.
3)
Hindari
faktor pendukung seperti konstipasi dengan mengkonsumsi diet tinggi serat dan
masukan cairan adekuat.
I.
Penatalaksanaan
1. Konservatif
a. Istirahat di tempat
tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan secara perlahan menuju abdomen
(reposisi), selanjutnya gunakan alat penyokong.
b. Jika suatu operasi daya
putih isi hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan setelah 5 menit dievaluasi
kembali.
c. Celana penyangga
d. Istirahat baring
e. Pengobatan dengan pemberian obat
penawar nyeri, misalnya Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan
obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.
f. Diet cairan sampai saluran gastrointestinal
berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk
mempercepat sembelit dan mengedan selama BAB.
2. Pembedahan (Operatif) :
a. Herniaplasty : memperkecil anulus
inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang.
b. Herniatomy : pembebasan kantong hernia
sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi, kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong.
c. Herniorraphy :
mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen dan menutup celah yang
terbuka dengan menjahit pertemuan transversus internus dan muskulus ablikus
internus abdominus ke ligamen inguinal.
J. Diagnosa yang mungkin
muncul :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen
injuri fisik
2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional, rencana operasi.
3. Kurang pengetahuan tentang penyakit,
perawatan dan pengobatannya berhubungan dengan kurangnya informasi, tidak
mengetahui sumber-sumber informasi.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan
prosedur invasive, lika post pembedahan
5. Hambatan mobilitas fisik b.d
nyeri, pembatasan aktivitas pasca operatif
K. Klasifikasi Hernia Inguinalis
1.
Hernia Inguinalis Medialis / Direk
yaitu hernia yang menonjol melalui dinding
inguinal posterior di area yang mengalami kelemahan otot melalui trigonum
hesselbach bukan melalui kanalis, biasanya terjadi pada lanjut usia
(Ignatavicus,dkk 2004).
2.
Hernia inguinalis indirect / lateralis
yaitu hernia yang
terjadi melalui cincin inguinal dan mengikuti saluran spermatik melalui kanalis
inguinalis (Lewis,SM, 2003).
L.
Proses Keperawatan
1.
Dasar data pengkajian pasien
a.
Aktivitas / istirahat
Tanda dan gejala: > atropi otot , gangguan dalam berjalan riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk dalam waktu lama.
b. Eliminasi
Gejala: Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi adanya inkontinensia atau retensi urine.
c. Integritas ego
Tanda dan gejala: Cemas, depresi, menghindar ketakutan akan timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan, finansial keluarga.
d. Neuro sensori
Tanda dan gejala: penurunan reflek tendon dalam kelemahan otot hipotonia, nyeri tekan, kesemutan, ketakutan kelemahan dari tangan dan kaki.
e. Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala: Sikap, perubahan cara berjalan, nyeri seperti tertusuk paku, semakin memburuk dengan batuk, bersin membengkokkan badan.
f. Keamanan
Gejala: adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi.
Tanda dan gejala: > atropi otot , gangguan dalam berjalan riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk dalam waktu lama.
b. Eliminasi
Gejala: Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi adanya inkontinensia atau retensi urine.
c. Integritas ego
Tanda dan gejala: Cemas, depresi, menghindar ketakutan akan timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan, finansial keluarga.
d. Neuro sensori
Tanda dan gejala: penurunan reflek tendon dalam kelemahan otot hipotonia, nyeri tekan, kesemutan, ketakutan kelemahan dari tangan dan kaki.
e. Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala: Sikap, perubahan cara berjalan, nyeri seperti tertusuk paku, semakin memburuk dengan batuk, bersin membengkokkan badan.
f. Keamanan
Gejala: adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi.
2.
Diagnoa Keperawatan Utama
a.
Nyeri berhubungan dengan insisi bedah
b.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan
tentang nyeri/tak lengkap informasi
c.
Ansietas b.d gangguan berulang dengan nyeri terus
menerus
d.
Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, pembatasan
aktivitas pasca operatif.
e.
Resiko infeksi b.d luka insisi
M.
FOKUS
INTERVENSI
1.
Nyeri berhubungan dengan insisi bedah
Hasil yang diharapkan :
a.
Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
b.
Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan
c.
Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik ( misal : keterampilan relaksasi, modofokasi perilaku ) untuk menghilangkan
nyeri
Intervensi Mandiri :
a.
Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi, lamanya
serangan, factor yang mencetus atau memperberat
b.
Pertahankan tirah baring selama fase akut
c.
Batasi aktivitas selama fase akut
d.
Pantau tanda vital
e.
Ajarkan teknik distraksi relaksasi
Intervensi Kolaborasi
a.
Berikan obat sesuai kebutuhan
b.
Pertahankan traksi jika diperlukan
(Doengoes, 2000 : 322-323)
2.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan
tentang nyeri/tak lengkap informasi
Hasil yang diharapkan :
a.
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan
tindakan
b.
Melakukan kembali perubahan gaya hidup
c.
Berpartisipasi dalam aturan tindakan
Intervensi Mandiri :
a.
Kaji minat pasien untuk belajar
b.
Kaji tingkat pengetahuan tentang proses penyakit
c.
Berikan informasi tentang penyakit
d.
Diskusikan mengenai pengobatan dan juga efek samping
e.
Anjurkan untuk melakukan evaluasi secara teratur
f.
Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu untuk
dilaporkan pada evaluasi
(Doengoes, 2000 : 326)
3.
Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, pembatasan
aktivitas pasca operatif
Hasil yang diharapkan :
a.
Mengungkapkan pemahaman tentang situasi/factor risiko
dan aturan pengobatan individual
b.
Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang mungkin
c.
Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi
bagian tubuh yang sakit dan/atau kompensasi
Intervensi Mandiri :
a.
Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan kondisi klien
b.
Berikan/bantu pasien untuk melakukan latihan rentang
gerak pasif dan aktif
c.
Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi
profgresif
d.
Demonstrasikan penggunaan alat penolong
Intervensi Kolaborasi :
a.
Berikan obat penghilang nyeri kira-kira 30 menit
sebelum melakukan ambulasi pasien
(Doengoes, 2000 : 324 )
4.
Ansietas b.d gangguan berulang dengan nyeri terus menerus
Hasil yang diharapkan :
Hasil yang diharapkan :
a.
Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang pada
tingkat dapat diatasi
b.
Mengidentifikasi ketidakefektifan perilaku koping dan
konsekuensinya
c.
Mengkaji situasi terbaru dengan akurat
Intervensi Mandiri :
a.
Kaji tingkat ansietas pasien
b.
Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur
c.
Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah
(Doengoes, 2000 : 325)
5.
Resiko infeksi b.d insisi bedah
Hasil yang diharapkan :
a.
Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda
infeksi/inflamasi, drainase purulen, eritema, dan demam
Intervensi Mandiri :
a.
Awasi tanda vital
b.
Lakukan perawatan luka
c.
Lihat insisi dan bedah
d.
Motivasi klien untuk menjaga kebersihan
Intervensi Kolaborasi :
a.
Berikan antibiotic sesuai indikasi
(Doengoes, 2000 : 510)
No comments:
Post a Comment