By : Eko P.R
BAB I
KONSEP DASAR
I.
PENGERTIAN
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorpsinya. Fraktur Tibia Fibula adalah terputusnya tulang
tibia dan fibula. ( Smeltzer & Bare, 2001 : 2357 )
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang,
tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial
yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan, sering diikuti oleh
kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh
darah, otot dan persarafan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa
trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan
langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak
langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah
fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada
klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Fraktur ekstremitas bawah adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
atau tulang rawan yang terjadi pada ekstremitas bawah yang umumnya disebabkan
oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung,
misalnya sering terjadi benturan pada ekstremitas bawah yang menyebabkan
fraktur pada tibia dan fibula.
Fraktur kruris (L:crus = tungkai) merupakan fraktur yang terjadi pada tibia
dan fibula. Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan
dengan dunia luar. Maka fraktur kruris tertutup adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang, tulang rawan sendi maupun tulang rawan epifisis yang terjadi
pada tibia dan fibula yang tidak berhubungan dengan dunia luar. Fraktur kruris
merupakan fraktur yang sering terjadi dibandingkan dengan fraktur pada tulang
panjang lainnya. Periosteum yang melapisi tibia agak tipis terutama pada daerah
depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya
fragmen frakturnya bergeser karena berada langsung dibawah kulit sehingga
sering juga ditemukan fraktur terbuka.
II.
KLASIFIKASI FRAKTUR
1.
Berdasarkan sifat fraktur
a. Fraktur
tertutup
Apabila fagmen tulang yang patah tidak tampak dari luar
b.
Fraktur terbuka
Apabila fragmen tulang yang patah tampak dari luar
2.
Berdasarkan komplit / tidak komplit
fraktur
a. Fraktur komplit
Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya
mengalami pergeseran bergeser dari posisi normal)
b.
Fraktur inkomplit
Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang
Misal : - Hair line fraktur
- Green stick ® fraktur
dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi yang lain membengkok
3.
Berdasarkan bentuk garis patah &
hubungan dengan mekanisme tauma
a. Fraktur
transversal
Arah melintang
dan merupakan akibat trauma angulasi / langsung
b. Fraktur oblik
Arah garis
patah membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat dari trauma
langsung
c. Fraktur spiral
Arah garis
patah spiral dan akibat dari trauma rotasi
d. Fraktur
kompresi
Fraktur dimana
tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
4.
Istilah lain
a. Fraktur
komunitif
Fraktur dengan
tulang pecah menjadi beberapa fragmen
b. Fraktur depresi
Fraktur dengan
bentuk fragmen terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan
tulang wajah)
c. Fraktur patologik
Fraktur yang
terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, tumor, metastasis tulang)
d. Fraktur avulsi
Tertariknya
fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada perlekatannya
III.
KLASIFIKASI FRAKTUR TIBIA FIBULA
Klasifikasi fraktur pada tibia dan fibula:
1.
Fraktur proksimal tibia
2.
Fraktur diafisis
3.
Fraktur dan dislokasi pada
pergelangan kaki
1.
Fraktur
proksimal tibia
a) Fraktur
Infrakondilus Tibia
Fraktur Infrakondilus tibia terjadi sebagai akibat
pukulan pada tungkai pasien yang mematahkan tibia dan fibula sejauh 5cm di
bawah lutut. Walaupun tungkai bawah dapat membengkak dalam segala arah, namun
biasanya terjadi pergeseran lateral ringan dan tidak ada tumpang tindih atau
rotasi. Fraktur tidak masuk ke dalam lututnya. Dapat dirawat dengan gips
tungkai panjang, sama seperti fraktur pada tibia lebih distal. Jika fragmen
tergeser, dapat dilakukan manipulasi ke dalam posisinya dan gunakan gips
tungkai panjang selama 6 minggu. Kemudian dapat dilepaskan dan diberdirikan
denganmenggunakan tongkat untuk menahan berat badan.
b)
Fraktur Berbentuk T
Terjadi karena terjatuh dari tempat yang tinggi,
menggerakkan korpus tibia ke atas diantara kondilus femur, dan mencederai
jaringan lunak pada lutut dengan hebat. Kondilus tibia dapat terpisah, sehingga
korpus tibia tergeser diantaranya. Traksi tibia distal sering dapat mereduksi
fraktur ini secara adekuat.
c)
Fraktur Kondilus Tibia(bumper fracture)
Fraktur kondilus lateralis terjadi karena adanya trauma
abduksi terhadap femur dimana kaki terfiksasi pada dasar. Fraktur ini biasanya
terjadi akibat tabrakan pada sisi luar kulit oleh bumper mobil, yang
menimbulkan fraktur pada salah satu kondilus tibia, biasannya sisi lateral.
d)
Fraktur Kominutiva Tibia Atas
Pada fraktur kominutiva tibia atas biasanya fragmen
dipertahankan oleh bagian periosteum yang intak. Dapat direduksi dengan traksi
yang kuat, kemudian merawatnya dengan traksi tibia distal.
2. Fraktur diafisis
Fraktur diafisis tibia dan fibula lebih sering ditemukan
bersama-sama. Fraktur dapat juga terjadi hanya pada tibia atau fibula saja.
Fraktur diafisis tibia dan fibula terjadi karena adanya trauma angulasi yang
akan menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma
rotasi akan menimbulkan trauma tipe spiral. Fraktur jenis ini dapat
diklasifikasikan menjadi:
a)
Fraktur Tertutup Korpus Tibia pada
Orang Dewasa
Dua jenis cedera dapat mematahkan tibia dewasa tanpa mematahkan fibula:
1) Jika tungkai
mendapat benturan dari samping, dapat mematahkan secara transversal atau oblik,
meninggalkan fibula dalam keadaan intak, sehingga dapat membidai fragmen, dan
pergeseran akan sangat terbatas.
2) Kombinasi
kompresi dan twisting dapat menyebabkan fraktur oblik spiral hampir tanpa
pergeseran dan cedera jaringan lunak yang sangat terbatas.
Fraktur jenis ini biasanya menyembuh dengan cepat. Jika
pergeseran minimal, tinggalkan fragmen sebagaimana adanya. Jika pergeseran
signifikan, lakukan anestesi dan reduksikan.
b) Fraktur
Tertutup Korpus Tibia pada Anak-anak
Pada bayi dan anak-anak yang muda, fraktur besifat spiral
pada tibia dengan fibula yang intak. Pada umur 3-6 tahun, biasanya terjadi
stress torsional pada tibia bagian medial yang akan menimbulkan fraktur green
stick pada metafisis atau diafisis proksimaldengan fibula yang intak. Pada umur
5-10 tahun, fraktur biasanya bersifat transversaldengan atau tanpa fraktur
fibula.
c) Fraktur
Tertutup Pada Korpus Fibula
Gaya yang diarahkan pada sisi luar tungkai pasien dapat
mematahkan fibula secara transversal. Tibianya dapat tetap dalam keadaan intak,
sehingga tidak terjadi pergeseran atau hanya sedikit pergeseran ke samping.
Biasanya pasien masih dapat berdiri. Otot-otot tungkai menutupi tempat fraktur,
sehingga memerlukan sinar-X untuk mengkonfirmasikan diagnosis. Tidak diperlukan
reduksi, pembidaian, dan perlindungan, karena itu asalkan persendian lutut
normal, biarkan pasien berjalan segera setelah cedera jaringan lunak
memungkinkan. Penderita cukup diberi analgetika dan istirahat dengan tungkai
tinggi sampai hematom diresorbsi.
d) Fraktur
Tertutup pada Tibia dan Fibula
Pada fraktur ini tungkai pasien terpelintir, dan
mematahkan kedua tulang pada tungkai bawah secara oblik, biasanya pada
sepertiga bawah. Fragmen bergeser ke arah lateral, bertumpang tindih, dan
berotasi. Jika tibia dan fibula fraktur, yang diperhatikan adalah reposisi
tibia. Angulasi dan rotasi yang paling ringan sekalipun dapat mudah terlihat
dan dikoreksi. Perawatan tergantung pada apakah terdapat pemendekan. Jika
terdapat pemendekan yang jelas, maka traksi kalkaneus selama seminggu dapat
mereduksikannya. Pemendekan kurang dari satu sentimeter tidak menjadi masalah
karena akan dikompensasi pada waktu pasien sudah mulai berjalan. Sekalipun
demikian, pemendekan sebaiknya dihindari.
IV.
ETIOLOGI
1.
Cedera dan benturan seperti pukulan
langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, kontraksi otot ekstrim.
2.
Letih karena otot tidak dapat
mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki terlalu jauh.
3.
Kelemahan tulang akibat penyakit kanker
atau osteoporosis pada fraktur patologis.
Menurut Oswari
E, (1993) ; Penyebab Fraktur adalah :
1.
Kekerasan langsung; Kekerasan langsung
menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian
sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
2.
Kekerasan tidak langsung: Kekerasan
tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat
terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam
jalur hantaran vektor kekerasan.
3.
Kekerasan akibat tarikan otot: Patah
tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa
pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan
penarikan.
V.
PATOFISIOLOGI / PATHWAY
Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh,
jatuh atau trauma (Long, 1996: 356). Baik itu karena trauma langsung misalnya:
tulang kaki terbentur bemper mobil, atau tidak langsung misalnya: seseorang
yang jatuh dengan telapak tangan menyangga. Juga bisa karena trauma akibat
tarikan otot misalnya: patah tulang patela dan olekranon, karena otot trisep
dan bisep mendadak berkontraksi. (Oswari, 2000: 147)
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur
tertutup. Tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar. Terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar oleh karena perlukaan di kulit. (Mansjoer, 2000: 346).
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar
tempat patah dan ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan
lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi peradangan biasanya timbul
hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi
menyebabkan peningkatan aliran darahketempat tersebut. Fagositosis dan
pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin
(hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel
baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang
disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami
remodeling untuk membentuk tulang sejati (Corwin, 2000: 299)
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf
yang berkaitan dengan pembengkakanyg tidak ditangani dapat menurunkan asupan
darah ke ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak
terkontrol pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan,
oklusi darah total dapat berakibat anoksia jaringanyg mengakibatkan rusaknya
serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini dinamakan sindrom
kompartemen (Brunner & suddarth, 2002: 2287)
Pengobatan dari fraktur tertutup dapat konservatif
maupuan operatif. Terapi konservatif meliputi proteksi dengan mitela atau
bidai. Sedangkan terapi operatif terdiri dari reposisi terbuka, fiksasi
internal, reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna
(Mansjoer, 2000: 348)
Pada pemasangan bidai, gips atau traksi maka dilakukan
imobolisasi pada bagian yang patah. Imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya
kekuatan otot dan densitas tulang agak cepat (Price, 1995 : 1192). Pasien yang
harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita komplikasi dari
imobilisasi antara lain: adanya rasa tidak enak, iritasi kulit dan luka akibat
penekanan, hilangnya kekuatan otot. (Long, 1996: 378)
Kurang perawatan diri dapat terjadi bila sebagin tubuh
diimobilisasi dan mengakibatkan berkurangnya kemampuan perawatan diri
(Carpenito, 1996: 346).
Pada reduksi terbuka fiksasi interna (ORIF) fragmen
tulang dipertahankan dengan pin, sekrup, pelat, paku. Namun pembedahan
memungkinkan terjadinya infeksi, pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada
jaringan lunak dan struktur yang sebelumnya tidak mengalami cidera mungkin akan
terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi. (Price, 1995: 1192)
Pembedahan yang dilakukan pada tulang, otot dan sendi
dapat mengakibatkan nyeri yang hebat. (Brunner & Suddarth, 2002: 2304)
PATHWAY klik di sini !
VI.
MANIFESTASI KLINIS
a.
Nyeri terus menerus dan bertambah
beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang
menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
b.
Deformitas dapat disebabkan pergeseran
fragmen pada fraktur lengan dan eksremitas. Deformitas dapat di ketahui dengan
membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi
dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang
tempat melengketnya obat.
c.
Pemendekan tulang, karena kontraksi
otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. Fragmen sering
saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
d.
Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas
diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba
akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
e.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal
pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda
ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera.
VII. PROSES
PENYEMBUHAN TULANG
a.
Stadium Pembentukan Hematoma
Hematoma
terbentuk dari darah yang mengalir dari pembuluh darah yang rusak, hematoma
dibungkus jaringan lunak sekitar (periostcum dan otot) terjadi 1 – 2 x 24 jam.
b.
Stadium Proliferasi
Sel-sel
berproliferasi dari lapisan dalam periostcum, disekitar lokasi fraktur sel-sel
ini menjadi precursor osteoblast dan aktif tumbuh kearah fragmen tulang.
Proliferasi juga terjadi dijaringan sumsum tulang, terjadi setelah hari kedua
kecelakaan terjadi.
c.
Stadium Pembentukan Kallus
Osteoblast
membentuk tulang lunak / kallus memberikan regiditas pada fraktur, massa kalus
terlihat pada x-ray yang menunjukkan fraktur telah menyatu. Terjadi setelah 6 –
10 hari setelah kecelakaan terjadi.
d.
Stadium Konsolidasi
Kallus mengeras
dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba telah menyatu, secara
bertahap-tahap menjadi tulang matur. Terjadi pada minggu ke 3 – 10 setelah
kecelakaan.
e.
Stadium Remodelling
Lapisan bulbous
mengelilingi tulang khususnya pada kondisi lokasi eks fraktur. Tulang yang
berlebihan dibuang oleh osteoklas. Terjadi pada 6 -8 bulan. (Rasjad, 1998
: 399 – 401)
VIII.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.
Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi
/ luasnya fraktur trauma
b.
Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI :
memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan
jaringan lunak.
c.
Arteriogram : dilakukan bila kerusakan
vaskuler dicurigai.
d.
Hitung daerah lengkap : HT mungkin
meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menurun ( pendarahan sel darah
putih adalah respon stress normal setelah trauma).
e.
Kreatinin : Trauma otot meningkatkan
beban kreatinin untuk klien ginjal.
(Doenges, 2000
: 762)
IX.
TEKNIK
PENANGANAN
Penatalaksanaan
Fraktur :
1.
Reduksi
Reduksi adalah
terapi fraktur dengan cara mengantungkan kaki dengan tarikan atau traksi.
2.
Imobilisasi
Imobilisasi
dengan menggunakan bidai. Bidai dapat dirubah dengan gips dalam 7-10 hari, atau
dibiarkan selama 3-4 minggu.
3.
Pemeriksaan dalam masa penyembuhan
Dalam
penyembuhan, pasien harus di evaluasi dengan pemeriksaan rontgen tiap 6 atau 8
minggu. Program penyembuhan dengan latihan berjalan, rehabilitasi ankle,
memperkuat otot kuadrisef yang nantinya diharapkan dapat mengembalikan ke
fungsi normal
Penatalaksanaan
Fraktur dengan operasi, memiliki 2 indikasi, yaitu:
a.
Absolut
§
Fraktur terbuka yang merusak jaringan
lunak, sehingga memerlukan operasi dalam penyembuhan dan perawatan lukanya.
§
Cidera vaskuler sehingga memerlukan
operasi untuk memperbaiki jalannya darah di tungkai.
§
Fraktur dengan sindroma kompartemen.
§
Cidera multipel, yang diindikasikan
untuk memperbaiki mobilitas pasien, juga mengurangi nyeri.
b.
Relatif, jika adanya:
§
Pemendekan
§
Fraktur tibia dengan fibula intak
§
Fraktur tibia dan fibula dengan level
yang sama
Adapun jenis-jenis
operasi yang dilakukan pada fraktur tibia diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Fiksasi eksternal
a.
Standar
Fiksasi
eksternal standar dilakukan pada pasien dengan cidera multipel yang
hemodinamiknya tidak stabil, dan dapat juga digunakan pada fraktur terbuka
dengan luka terkontaminasi. Dengan cara ini, luka operasi yang dibuat bisa
lebih kecil, sehingga menghindari kemungkinan trauma tambahan yang dapat
memperlambat kemungkinan penyembuhan. Di bawah ini merupakan gambar dari
fiksasi eksternal tipe standar.
b.
Ring Fixators
Ring fixators
dilengkapi dengan fiksator ilizarov yang menggunakan sejenis cincin dan kawat
yang dipasang pada tulang. Keuntungannya adalah dapat digunakan untuk fraktur
ke arah proksimal atau distal. Cara ini baik digunakan pada fraktur tertutup
tipe kompleks. Di bawah ini merupakan gambar pemasangan ring fixators pada
fraktur diafisis tibia.
c.
Open reduction with internal fixation
(ORIF)
Cara ini
biasanya digunakan pada fraktur diafisis tibia yang mencapai ke metafisis.
Keuntungan penatalaksanaan fraktur dengan cara ini yaitu gerakan sendinya
menjadi lebih stabil. Kerugian cara ini adalah mudahnya terjadi komplikasi pada
penyembuhan luka operasi. Berikut ini merupakan gambar penatalaksanaan fraktur
dengan ORIF.
d.
Intramedullary nailing
Cara ini baik
digunakan pada fraktur displased, baik pada fraktur terbuka atau tertutup.
Keuntungan cara ini adalah mudah untuk meluruskan tulang yang cidera dan
menghindarkan trauma pada jaringan lunak.
2.
Amputasi
Amputasi
dilakukan pada fraktur yang mengalami iskemia, putusnya nervus tibia dan pada
crush injury dari tibia.
X.
KOMPLIKASI
1) Infeksi
Infeksi dapat terjadi karena penolakan
tubuh terhadap implant berupa internal fiksasi yang dipasang pada tubuh pasien.
Infeksi juga dapat terjadi karena luka yang tidak steril.
2) Delayed union
Delayed union adalah suatu kondisi dimana
terjadi penyambungan tulang tetapi terhambat yang disebabkan oleh adanya
infeksi dan tidak tercukupinya peredaran darah ke fragmen.
3) Non union
Non union merupakan kegagalan suatu
fraktur untuk menyatu setelah 5 bulan mungkin disebabkan oleh faktor seperti
usia, kesehatan umum dan pergerakan pada tempat fraktur.
4) Avaskuler nekrosis
Avaskuler nekrosis adalah kerusakan tulang
yang diakibatkan adanya defisiensi suplay darah.
5) Kompartemen Sindrom
kompartemen sindrom merupakan suatu
kondisi dimana terjadi penekanan terhadap syaraf, pembuluh darah dan otot
didalam kompatement osteofasial yang tertutup. Hal ini mengawali terjadinya
peningkatan tekanan interstisial, kurangnya oksigen dari penekanan pembuluh
darah, dan diikuti dengan kematian jaringan.
6) Mal union
Terjadi pnyambungan tulang tetapi
menyambung dengan tidak benar seperti adanya angulasi, pemendekan, deformitas
atau kecacatan.
7) Trauma saraf terutama pada nervus peroneal
komunis.
8) Gangguan pergerakan sendi pergelangan
kaki.
Gangguan ini biasanya disebakan karena
adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah
XI.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Nyeri akut b/d trauma jaringan syaraf
Tujuan :
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam klien mampu
mengontrol nyeri, dengan kriteria hasil :
§ Melaporkan
nyeri hilang atau terkontrol
§ Mengikuti
program pengobatan yang diberikan
§ Menunjukan
penggunaan tehnik relaksasi
Intervansi :
a.
Kaji tipe atau lukasi nyeri. Perhatikan
intensitas pada skala 0-10. Perhatikan respon terhadap obat.
Rasional :
Menguatkan indikasi ketidaknyamanan, terjadinya komplikasi dan evaluasi keevektivan
intervensi.
b.
Motivasi penggunaan tehnik menejemen
stres, contoh napas dalam dan visualisasi.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi, memvokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan
kemampuan koping, menghilangkan nyeri.
c.
Kolaborasi pemberian obat analgesik
Rasional :
mungkin dibutuhkan untuk penghilangan nyeri/ketidaknyamanan.
2.
Nutisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
mual, muntah
Tujuan:
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi dengan
KH:
§ Makanan
masuk
§ BB
pasien naik
§ Mual,
muntah hilang
Intervensi:
a.
Berikan makan dalam porsi sedikit tapi
sering
Rasional:
memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien
b.
Sajikan menu yang menarik
Rasional:
Menghindari kebosanan pasien, untuh menambah ketertarikan dalam mencoba
makan yang disajikan
c.
Pantau pemasukan makanan
Rasional:
Mengawasi kebutuhan asupan nutrisi pada pasien
d.
Kolaborasi pemberian suplemen penambah
nafsu makan
Rasional:
kerjasama dalam pengawasan kebutuhan nutrisi pasien selama dirawat di rumah
sakit
3.
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan
dengan kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi
tungkai).
Kriteria hasil
:
o Meningkatkan
atau mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin.
o Mempertahankan
posisi fungsional.
o Meningkatkan
kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh.
Intervensi :
a.
Kaji derajat imobilitas
b.
Dorong partisipasi pada aktivitas
terapeutik atau rekreasi.
c.
Dorong penggunaan latihan isometrik
mulai dengan tungkai yang tak sakit.
d.
Bantu atau dorong perawatan diri atau
kebersihan.
e.
Auskultasi bising usus.
4.
Ansietas b/d adanya ancaman terhadap
konsep diri/citra diri
Tujuan :
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam, klien memiliki rentang respon
adaptif, dengan kriteria hasil :
§ Tampak
relaks dan melaporkan ansietas menurun sampai dapat ditangani.
§ Mengakui
dan mendiskusikan rasa takut.
§ Menunjukkan
rentang perasaan yang tepat.
Intervensi :
a.
Dorong ekspresi ketakutan/marah
Rasional : Mendefinisikan
masalah dan pengaruh pilihan intervensi.
b.
Akui kenyataan atau normalitas
perasaan, termasuk marah
Rasional :
Memberikan dukungan emosi yang dapat membantu klien melalui penilaian awal juga
selama pemulihan
c.
Berikan informasi akurat tentang perkembangan
kesehatan.
Rasional :
Memberikan informasi yang jujur tentang apa yang diharapkan membantu
klien/orang terdekat menerima situasi lebih evektif.
d.
Dorong penggunaan menejemen stres,
contoh : napas dalam, bimbingan imajinasi, visualisasi.
Rasional :
membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan
meningkatkan penigkatan kemampuan koping.
DAFTAR
PUSTAKA
Doenges,
Marilynn E. et.al. (2000) Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
Rasjad,
Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar : Lintang Imumpasue.
Smeltzer,
Suzanne C. Bare Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, Edisi 8. Jakarta : EGC
Syaifuddin.
2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi III. Jakarta : EGC.
Carpenitto,
Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa :
Monica Ester, Edisi 8. EGC : Jakarta.
Doengoes, Marilynn
E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan Keperawatan
dan masalah kolaboratif. Alih Bahasa : I Made Kanosa, Edisi III. EGC Jakarta.
Hinchliff, Sue.
(1996). Kamus Keperawatan. Edisi; 17. EGC : Jakarta
Sudart dan
Burnner, (1996). Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8. Vol 3. EGC :
Jakarta.
No comments:
Post a Comment