Friday, May 27, 2016

Laporan Pendahuluan Cidera Kepala



By : Eko Puji .R, AMK

KONSEP DASAR CIDERA KEPALA
                      
A.    PENGERTIAN
Trauma kranioserebral (Cedera Kepala) adalah luka yang terjadi pada kulit kepala, tulang kepala atau otak (Billling & Stokes, 1982).
Cedera kepala dapat mempengaruhi perubahan fisik maupun psikologis bagi klien dan keluarganya (Siahan, 1994).

B.     ETIOLOGI
1.      Kecelakaan lalu lintas
2.      Kecelakaan kerja
3.      Trauma pada olahraga
4.      Kejatuhan benda
5.      Luka tembak

C.     TANDA DAN GEJALA
1.      Tingkat keparahan cedera kepala
a.       Cedeta kepala ringan, nilai skala Comma Glasscow (GCS) 13-15, dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit, tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio serebri maupun hematoma.
b.      Cedera kepala sedang, nilai GCS 9-12, kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam, dapat mengalami fraktur tengkorak.
c.       Cedera kepala berat, nilai GCS 3-8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam, juga meliputi kontusio serebral- laserasi-hematoma intrakranial.
2.      Tanda dan gejala trauma kepala
a.       Pingsan setelah trauma dibawah 10 menit
b.      Nyeri kepala
c.       Mual dan muntah
d.      Amnesia sesaat atau sementara

D.    PATOFISIOLOGI
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel syaraf hampir seluruhnya melali proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi.
Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh. Sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala. Gejala permulaan disfungsi serebral, pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah.
Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan mengalami terjadi penimbunan laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini menimbulkan adanya metabolik asidosis. Dalam keadaan normal aliran darah cerebral (CBF) adalah 50-60 ml/menit/100gr jaringan otak yang merupakan 16% dari curah jantung/ cardiac output (CO) Trauma kepala sampai otak tentunya akan menimbulkan gangguan pada sistem-sistem besar tubuh yang dikendalikan oleh otak, diantaranya sistem kardiovaskuler, respiratory, metabolisme, gastrointestinal, mobilitas fisik. Selain itu juga mempengaruhi faktor psikolog.

E.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Laboratorium darah rutin: Hb, Hematokrit, trombosit, elektrolit, ureum, kreatinin, glukosa, golongan darah, analisa gas darah bila perlu.
2.      Foto kepala: AP, lateral, towne
3.      Foto cervical bila ada tanda-tanda fraktur cervikal
4.      CT-Scan
5.      Atreiografi bila perlu
6.      Bur-holes dilakukan bila keadaan pasien cepat memburuk disertai dengan penurunan kesadaran, pupil angi sokor, hemiparesis coletio lateral.

F.        KOMPLIKASI
1.      Perdarahan intrakranial
a.    Epidural
b.    Subdural
c.    Subarachnoid
d.   Intraserebral
e.    Intravenrikuler
f.     Mal formasi vesikuler:
1)      Fistula karotika-kafernosa
2)      Fistula cairan serebrospinal
3)      Paresus syaraf kranial
4)      Epilepsi
5)      Hidrosefalus
6)      Meningitis atau abses otak
7)      Sindroma pasca trauma
2.      Tindakan
a.       Infeksi
b.      Perdarahan ulang
c.       Edema cerebri
d.      Pembengkakan otak

G.    PENATALAKSANAAN
1.         Obat-obatan: dexametason/ kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
2.         Terapi hiperventilasi (Trauma kepala berat) untuk mengurangi vasodilatasi
3.         Pemberian analgetika
4.         Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40% atau gliserol 10%
5.         Atibiotika yang mengandung barrier darah otak (penicillin) atau untuk infeksi anaerob metronidazole
6.         Makanan atau cairan pada trauma ringan, bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan infeus dextrose 5%, aminofusin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
7.         Pembedahan
8.         Pada trauma berat, karena hari-hari pertama didapat penderita mengalami penurunan kesadaran dan cenderung
9.         Terjadi retensi natrium dan elektrolit, maka hari-hari pertama didapat penderita mengalami penurunan kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit, maka hari-hari pertama (2-3 hari), tidak terlalu banyak cairan. Dextrose 5% 8 jam pertama, Ringe Dextrose 8 jam kedua dan Dextrose 5% 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya, bila kesadaran rendah, makanan diberikan melalui Naso Gastric Tube (2500-3000 TKTP). Pemberian protein terantung nilai urea N.

H.    FOKUS PENGKAJIAN
1.      Aktifitas atau istirahat
Subyektif: Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan
Obyektif: Gangguan kesadaran, letargi, hemiparese, quadraplegi, ataksia, masalah dalam keseimbangan, adanya trauma ortopedi, kehilangan tonus otot, otot spastik.
2.      Sirkulasi
Obyektif: Tekanan darah normal atau berubah (hipertensi, Heart rate berubah, bradikardi, takikardi yang diselingi dengan bradikardi disritmia)
3.      Integritas Ego
Subyektif: Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau disorientasi)
Obyektif: Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan impulsif.
4.      Eliminasi
Obyektif: BAB/ BAK inkontinensia atau mengalami gangguan fungsi
5.      Makanan/ cairan
Subyektif: Mual, muntah dan mengalami perubahan selera
Obyektif: Muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan, batuk, air liur keluar, disfagia
6.      Neurosensori
Subyektif: kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran, tingling, baal pada ekstremitas. Perubahan dalam penglihatan seperti ketajamann nya diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, fotofobia. Gangguan pengecapan dan juga penciuma.
Obyektif: Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, atensi, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/ tingkah laku dan memori). Perubahan pupil (respon terhadap cahaya asimetri). Deviasi pada mata, ketidakmampuan mengikuti. Kehilangan pengindraan seperti pengecapan, penciuman dan pendengaran. Wajah tidak simetris. Genggaman lemah, tidak seimbang, reflek tendon dalam tidak ada atau lemah, apraksia, hemiparesis, quadraplegi, postur (dekortisasi, deselebrasi), kejang. Sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan. Kehilangan sensasi sebagoan tubuh. Kesulitan dalam menentukan posisi tubuh.
7.         Nyeri/ Rasa nyaman
Subyektif: Sakit kepala dengan intensitas lokasi yang berbeda, biasanya lama.
Obyektif: Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri, gelisah tidak bisa istirahat, merintih.
8.      Respirasi
Obyektif: Perubahan pola nafas (apnea yang diselingi oleh hiperventilasi). Nafas berbunyi, stridor, tersedak, ronchi, wheezing + (kemungkinan karena respiarasi)
9.      Keamanan
Subyektif: trauma baru/ trauma karena kecelakaan
Obyektif: Fraktur dislokasi, gangguan penglihatan, kulit: laserasi, abrasi, perubahan warna seperti: “racoon eye”, battles sign sekitar telinga (merupakan tanda bahaya trauma) adanya aliran cairan dari telinga/ hidung. Gangguan kognitif, gangguan range of motion, tonus otot hilang, kekuatan secara umum mengalami paralisis, demam, gangguan dalam respirasi tubuh, regulasi
10.  Interaksi sosial
Subyektif: Apasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang, disorientasi
11.  Belajar/ mengajar
Subyektif: Pengguna alkohol/ obat lain
       Hal yang perlu dipertimbangkan:
Mungkin membutuhkan bantuan pada perawatan diri, ambulasi, transportasi, menyiapkan makan, belanja, peralatan, pengobatan, tugas rumah tangga, perubahan tata ruang atau penempatan fasilitas lainnya di rumah.

I.       DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien trauma kepala adalah:
1.         Resiko atau aktual pola nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi tracheobronkial
2.         Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan/ prosedur infasif
3.         Ketidakseimbangan volume cairan: defisit volume cairan berhubungan dengan penurunan ADH akibat terfiksasinya hipotalamus.
4.         Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan kesadara, mel;emahnya otot, mengunyah dan menelan
5.         Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi dan mognitif, penurunan kekuatan/ tahanan.
6.         Perunbahan persepsi-sensori berhubungan dengan menurunnya tingkat kesadaran
7.         Nyeri akut (Nyeri kepala, pusing) berhubungan dengan kerusakan jaringan otak dan peningkatan TIK)
8.         Cemas pada keluarga berhubungan dengan adanya perubahan situasi dan krisis
9.         Perubahan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan edema cerebri

J.         PATHWAYS --->>klik di sini!



DAFTAR PUSTAKA

1.      Suriadi & Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak , Edisi I. Jakarta : CV Sagung Seto
2.      Hudak & Gallo. 2001. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik , Volume II. Jakarta : EGC
3.      Suzanne CS & Brenda GB. 2000. Buku Ajar Medikal Bedah, Edisi 8. Volume 3. Jakarta : EGC.
4.      Doenges M.E. 1989. Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company.
5.      Long, BC and Phipps WJ. 1985. Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.
6.      Asikin Z. 1991. Simposium Keperawatan Penderita Cedera Kepala.


No comments:

Post a Comment

Comments System

Disqus Shortname